Ketika sebuah desa berkembang pesat, maka ia akan berubah wujud. Bukan hanya sekedar tampilan, gaya, dan warna-warni bangunan. Tetapi moral desa juga mengekor. Gaya hidup yang mulai merangkak naik, membuat hampir semua penduduk terseret ke dalamnya. Kini, mereka bergantung pada listrik, hasil dari kerja keras generator. Tanpanya, semua kegiatan yang biasa dilakukan, tidak bisa berjalan lancar. Dependent.
Pemuda berambut ikal yang berada di lantai puncak gedung Intercom XXI, badan pusat pengendali komunikasi di desanya, tengah tersenyum cerah. Matanya yang berbinar, menyapu setiap sudut desa yang seolah-olah menjelma menjadi panggung drama musikal yang amat luas. Persis seperti kata ibunya. Desa ini sangat luas, butuh lebih dari sepasang tangan untuk menggenggamnya. Dan hal itulah yang ditawarkan bangsa kulit putih yang baru dua tahun ini singgah di desanya.
“Sungguh program yang mengesankan, Mr. Smith. Saya tidak sabar untuk menggunakannya,” ujar Kepala Devisi Pemasaran yang baru saja keluar dari ruangannya sambil menjabat tangan si Pendatang baru yang memiliki kulit putih.
“Anda terlalu berlebihan, Tuan Dom. Saya masih pemula,” tangkis Mr. Smith.
“Ah, tentu saja tidak. Anda sangat piawai dalam menentukan apa yang seharusnya kami lakukan. Ilmu anda lebih dari cukup, Mr Smith,” puji Kepala Devisi Pemasaran untuk yang kesekian kalinya.
Mr. Smith tertawa kecil, “benarkah? Saya senang bisa membantu. Ehm.. kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya pamit terlebih dahulu.”
“Oh, tentu. Hati-hati di jalan, Mr. Smith.”
Mr. Smith megangguk, berbalik, lalu melangkah mantap menuju tangga, dan menuruninya. Begitu Mr. Smith hilang dari pandangannya, Tuan Dom berdehem sebentar.
“Bisa kau buatkan aku secangkir teh? Tenggorokanku kering sekali,” pinta Tuan Dom padanya.
“Baik, Tuan.”
Segera ia meletakkan pel dan menyimpannya di ruang kebersihan, lalu bergegas ke dapur yang ada di lantai dasar. Menuruni ratusan anak tangga, saling melempar senyum pada para pekerja yang berseragam sama seperti dirinya, saat berpapasan. Kemudian di lantai dasar ia berjalan cepat untuk menyusuri lobby, dan berbelok di ujungnya. Menyapa beberapa seniornya yang sedang istirahat di kantin, hingga akhirnya ia tiba di dapur.
“Joe, apa ada air panas didalam tremos?” tanyanya.
Seseorang berambut cepak yang ada di dekat kompor, menoleh. “Baru saja aku membuatnya. Ada apa?”
“Tuan Dom ingin teh,” jawabnya.
“Oh.. kau harus menunggu beberapa menit lagi.” Joe membuka tutup poci yang ada diatas kompor. “Airnya belum mendidih.”
“Baiklah kalau begitu,” ujarnya sambil menarik salah satu kursi yang ada samping meja tengah, kemudian mendudukinya.
“Kau punya rencana apa akhir minggu ini?” tanyanya pada Joe.
Joe berjalan ke arah meja, dan menyandarkan tubuhnya di salah satu sisinya. “Mungkin aku akan berkunjung ke rumah Rhea. Sudah lama aku tidak ke sana.” Joe melirik pemuda di sampingnya. “Kalau kau, Sam? Jangan katakan kalau kau ingin kerja part time lagi.”
Sam tertawa kecil. “Kali ini aku akan cuti kerja part time. Aku sudah ada janji dengan kawan lamaku.”
Tiba-tiba Joe tertenyum nakal sambil merangkul pundak Sam. “Jangan katakan kalau dia itu sahabatmu. Sahabat yang sangaaaat dekat.”
“Memang,” jawab Sam.
“Dan jangan katakan kalau kau diam-diam mencintainya,” lanjut Joe.
“Apa?!”
“Dan kau tidak berani mengungkapkannya karena takut persahabatanmu dengannya hancur. Iya, kan?” tanya Joe dengan mata yang berbinar.
Sam melepaskan lengan Joe yang mendekap pundaknya. “Kau gila, ya? Dia itu laki-laki. Mana mungkin hal seperti itu terjadi,” ucap Sam sambil sedikit tertawa.
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!” protes Joe sambil memegang pundak Sam ketika Sam ingin berdiri.
“Kau sendiri yang mendahuluiku bicara. Sudah, aku ingin buat teh sekarang.” ucap Sam sambil melangkah menuju rak gelas, dan meninggalkan Joe yang tak henti-hentinya tersenyum kecut di hadapan Sam.
***
Tuan Dom merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Mungkin otak dari orang kulit putih itu sangat hebat. Menciptakan berbagai benda yang bermanfaat bagi kehidupan. Tetapi mereka sering tidak memahami perasaannya. “Mengapa mereka tidak bisa bernegosiasi soal harga?” rutuknya.
Ia kembali menghela napas panjang. Kemudian menelan ludah. “Dimana anak itu? Kenapa lama sekali?” tuturnya sambil membuka salah satu berkas yang baru saja diserahkan oleh Mr. Smith kepadanya.
Cukup lama ia membolak-balik berkas yang sama sekali belum ia pahami. Ia menggeleng pelan. “Mengapa semua prosedur yang diberikan oleh Mr. Smith tidak diterjemahkan ke dalam bahasa yang kuketahui saja? Mengapa harus ditulis dengan bahasanya?!” celotehnya, kesal.
Tak lama setelah semua cemoohan yang ia berikan kepada bahasa negara Mr. Smith berhenti, suara ketukan pintu mengambil alih sunyi. Tuan Dom menegakkan posisi duduknya dengan terburu-buru, kemudian membuka beberapa berkas lagi, dan pura-pura membacanya. “Masuklah!” perintahnya.
Kepala Sam masuk terlebih dahulu untuk mengklarifikasi kedatangannya. “Saya membawakan teh yang anda minta, Tuan.”
“Ya, bawa ke sini,” ujar Tuan Dom, masih dengan berpura-pura membaca berkasnya.
Sam masuk dengan membawa nampan yang berisi segelas teh dengan asap yang masih mengepul. Ia berjalan mendekati meja Tuan Dom dan meletakkan gelas teh tepat di samping berkas yang baru saja diberikan Mr. Smith kepada Tuan Dom. Ia mengintip sedikit. “Bahasa Inggris?” gumamnya, pelan.
Tuan Dom menggrenyit. Kedua alisnya bertautan. “Apa katamu?”
Sam terlihat kaget. Ia segera mengambil jarak dengan meja kerja Tuan Dom. “Maaf, Tuan. Say..saya membacanya sedikit. Hanya sedikit, Tuan.”
Kali ini Tuan Dom mengangkat kedua alis dan membuka sedikit mulutnya. “Kau ... membacanya?” tanyanya. “Kau membaca berkasku?!” Tuan Dom kembali bertanya, tetapi dengan nada yang lebih tinggi.
Hati Sam semakin kalang kabut. Apa membaca satu kalimat dalam berkas milik atasanmu merupakan suatu kesalahan? Ia mencoba bertanya-tanya sendiri. “Maaf, Tuan. Saya ... saya memang membacanya.”
“Kau tau apa artinya?” tanya Tuan Dom, lagi. Sekarang, mimik wajahnya menjadi serius. “Maksudku, apa kau bisa menerjemahkannya?”
Sam mengangguk kecil. Kemudian menunduk. “Saya bekerja part time di pelabuhan. Di bagian penerimaan berkas pelayaran bangsa Inggris.”
Tuan Dom melirik berkasnya. Kemudian beralih ke jam kecil yang tergeletak di meja. Waktu sangat penting baginya. Akan lebih efisien apabila ada seseorang yang bisa menerjemahkan berkasnya daripada ia membuang-buang waktu untuk menerjemahkannya sendiri. “Itu lebih baik,” gumamnya. “Nak, apa kau bisa menerjemahkan ini untukku?” tanya Tuan Dom sambil menunjuk berkas.
Sam mengangkat kepalanya. Kedua tangannya mendekap nampan dengan erat. “Menerjemahkan berkas itu, Tuan?” tanya Sam, memastikan.
“Ya, tentu saja.” Jawab Tuan Dom. “Ini karena ... ini karena aku juga harus menyelesaikan berkas-berkas yang lain. Ya, banyak sekali berkas yang harus aku pelajari,” lanjut Tuan Dom. “Bagaimana? Kau tidak keberatan, nak?”
Sam menghela nafas lega. “Tentu saja saya tidak keberatan, Tuan.”
Tuan Dom tertawa. “Ini,” ucapnya sambil menyerahkan berkas dari Mr.Smith kepada Sam. “Kau bisa menggunakan meja yang ada di ujung sana. Tulis terjemahannya di kertas yang sudah ada di atas meja itu. Mengerti, nak?”
Sam mengangguk. “Saya mengerti, Tuan,” jawabnya. Sam menatap berkas yang ada di tangannya, dan membaca judulnya. “Generator keempat?”
“Ya, cepat kerjakan. Waktuku tidak banyak,” kata Tuan Dom. Ia memperlihatkan jam kecilnya kepada Sam.
“Baik, baik, Tuan.” Dengan cepat Sam melesat ke meja yang ditunjuk Tuan Dom tadi, dan mengerjakan tugasnya.
Tuan Dom tersenyum puas. Ia mengambil gelas teh yang sudah ia pesan, lalu meneguknya hingga tersisa setengah. Kemudian ia menyandarkan punggungnya, dan merenggangkan otot-otot di pundaknya. Kembali meminum tehnya, sambil menatap pemuda yang tengah serius dengan pekerjaan tambahannya. Tuan Dom tersenyum, “ini adalah salah satu alasan mengapa aku ingin menjadi atasan.”
***
“Hebat.”
Hanya itu yang bisa ia katakan tentang desa ini. Desa yang sudah ia tinggalkan sejak tiga tahun yang lalu. Ia tidak menyangka bahwa tempat tinggalnya dahulu telah berubah, bahkan hampir menyerupai kota kecil yang sekarang ia tinggali. Sebuah metamorfosis yang sangat cepat, pikirnya.
“Dree?” sapa pemuda yang berada tak jauh darinya.
Merasa nama yang disebutkan oleh pemuda itu adalah namanya, maka ia menoleh. Senyumnya mengembang ketika mengetahui siapa yang menyapanya. “Sam !!” pekiknya. Ia menghambur ke pelukan Sam, dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
“Dree Jatson! Lama tak bertemu. Apa saja yang kau lakukan selama tiga tahun ini? Apa kau masih suka meneropong bintang dengan teropong sewaan?” tanya Sam bertubi-tubi.
Dree tertawa lebar. “Apa kau pikir aku masih serendah itu? Sekarang aku punya laboraturium sendiri. Dan tentu saja aku punya teropong. Asal kau tau saja, teropongku adalah teropong terbesar yang ada di kotaku,” celoteh Dree, panjang lebar. “Bagaimana denganmu, Samuel Flints? Apa kau masih suka menjadi kuli angkut ikan di pelabuhan? Atau kau sudah naik pangkat menjadi nelayan?”
Sam melepaskan pelukannya. “Jangan merendahkanku, Dree. Sekarang aku punya dua pekerjaan sekaligus. Aku bekerja di Intercom XXI dan di kantor pelayaran. Bagaimana menurutmu, hah?” tutur Sam sambil menepuk dadanya.
Dree mengangkat kedua alisnya. “Ya, ya, ya.. Aku akui kau sangat gigih, Sam. Tapi sayangnya cacing-cacing di perutku tidak segigih perjuanganmu. Aku tau, kau pasti sudah menyiapkan sesuatu di rumahmu,” ucap Dree sambil mengusap-usap perutnya.
“Dasar kau ini!” Sam merangkul pundak Dree dan membawanya menyusuri trotoar, menuju rumahnya yang ada di tengah desa.
***
Semburat merah berbaur dengan biru. Berkumpul menjadi satu di langit barat. Mereka tahu, hari mulai gelap. Mereka juga tahu, di tempat yang tengah mereka pijaki saat ini, adalah daerah berbahaya. Terutama saat malam hari. Sering terdengar suara serigala, hingga kemunculan berbagai jenis ular dari hutan kecil yang ada tepat di belakang mereka.
Sam tiba-tiba terkekeh. Dree yang tengah menyiapkan teropongnya, menoleh ke arah Sam. “Kau kenapa? Ada yang lucu?”
“Tidak ada. Aku hanya teringat saat terakhir kali kita kemari,” jawab Sam. “Saat itu kau lari terbirit-birit karna ular mainan yang kutunjukkan padamu. Hahaha.. Itu sudah lama sekali. Kau ingat, Dree?”
“Mana mungkin aku lupa. Dari dulu kau memang raja usil!” Dree meninju pundak Sam. “Hei, jangan diam saja! Bantu aku.”
Sam mendekat ke teropong Dree. “Apa yang bisa kubantu? Kau sudah melakukan semuanya, Dree.”
Dree menarik ujung bibirnya. “Setidaknya kau bisa berhenti mengejekku.”
Tawa Sam semakin lepas. Kemudian ia membaringkan tubuhnya tepat di samping teropong Dree. Tangan kanannya menengadah ke atas, seolah-olah ingin menggapai langit yang kian lama kian menghitam. “Sudah lama aku tidak berkunjung ke sini. Sudah tiga tahun,” ujarnya.
“Tiga tahun? Selama itu?!”
Tinju Sam mendarat di lutut Dree. “Itu karna kau tidak ada. Melihat bintang sendirian, tidak asyik sama sekali. Kau tau itu?”
Dree ikut merebahkan tubuhnya. Lalu ia membentuk tangannya menjadi butat dan menggunakannya untuk melihat langit. “Ya, aku tau. Aku juga mengalaminya saat pertama kali pindah.”
“Nah...” Sam mengubah posisi berbaringnya. “Setidaknya sekarang kita ada di sini. Kita nikmati saja.”
“Kau benar, Sam. Kita harus menikmatinya.”
Cukup lama mereka berdiam diri menatap langit. Hanya untuk menunggu perubahan pada corak langit malam itu. Dree mengusap keningnya. Ia merasa sudah saatnya corak langit muncul. Tetapi yang ia lihat hanyalah beberapa bintang yang bahkan jumlahnya tidak sampai 20, jika dilihat dengan mata telanjang.
“Dree?”
“Ya?”
“Bukankah seharusnya ada lebih banyak bintang?” tanya Sam.
Dree mengangguk setuju. “Kupikir juga begitu.” Dree menegakkan tubuhnya. Ia berdiri sambil menatap langit. “Tapi bagaimana bisa begini? Apa yang salah?”
“Apa menurutmu bintang bisa berkurang?Atau mereka sudah padam?”
Dree menggeleng pelan. “Kurasa bukan itu masalahnya.”
Sam ikut berdiri di samping Dree. “Lalu, bagimana menurutmu? Apa penyebabnya?”
“Pasti ada sesuatu yang berubah, Sam. Kalau bukan mereka, lalu...”
Sorot mata Dree beralih dari langit yang ada di atasnya, ke sesuatu yang ada di hadapannya. Ia menghela napas panjang. “Kita,” ucapnya.
Sam menggosok pipi kanannya. “Apa maksudmu?”
“Kita yang berubah, Sam.” Dree menunjuk ke arah desa yang sudah tidak bisa dianggap sebagai desa lagi. “Desa kita sudah berubah, Sam.”
Sam menatap desanya. Memang desanya sudah jauh berubah. Dan menurutnya, perubahan ini adalah perubahan yang baik. Apakah perubahan ini mempengaruhi banyaknya bintang di langit?
“Aku tidak paham maksudmu, Dree.”
“Cahaya, Sam. Cahaya!” teriak Dree. “Desa kita terlalu terang!”
Kedua alis Sam menyatu. “Maksudmu cahaya di desa kita lebih terang daripada cahaya bintang?”
“Bukan begitu! Cahaya di desa kita, membuat mata kita silau. Dan hal itu membuat kita hanya bisa melihat bintang dengan intensitas tertentu saja. Kau paham?”
Sam terdiam sesaat. Kemudian ia menggeleng. “Apa hal itu bisa terjadi? Apa buktinya kalau cahaya di desa kita adalah penyebab masalah ini?”
“Bukti?” tanya Dree, memastikan. Ia memejamkan matanya sejenak, kemudian tersenyum simpul sambil membuka kedua kelopak matanya. “Kau ingin bukti? Matikan semua lampu yang ada di desa kita, dan kita lihat bagaimana perubahannya.”
“Ide yang bagus!” teriak Sam. “Tapi bagaimana cara melakukannya? Kita tidak mungkin meminta setiap warga untuk mematikan lampu, kan?”
Dree tampak berpikir keras. Ia mengetuk-ngetuk pelipis dengan jari telunjuknya. “Seharusnya ada sumber listrik yang ....”
Dree menoleh ke arah Sam. Kedua mata mereka bertemu dan ringaian penuh makna terpeta di bibir mereka. “Generator,” ucap mereka bersamaan.
***
About Me
- ayanuriska
- Born on January 11th 1993. Love DBSK and fiction so much. Follow me on twitter @ayanuriska. #ASkaward
Pengikut
Kamu Pengunjung Ke-
Selasa, 10 Juli 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Popular Posts
-
Selamat menempuh hidup baruuuu! :D Ucapan selamat di atas bukan dari orang yang dateng ke kondangan, atau dari orang yang ngerasa seneng wa...
-
MIRROR Bulu kudukku sontak berdiri ketika menyusuri lorong di lantai 2. Dinding-dindingnya kusam dan tak terawat menambah beban pikir...
-
MANNAQUIN’S (6th) “Semuanya berantakan!” ### “Kean? Kau sedang apa?” Suara Rhin membuat kelopak mataku kembali terb...
Labels
- Bersambung (7)
- Cerita (9)
- Job (1)
- Jogja (1)
- Novel (3)
- Statistika (1)

0 komentar:
Posting Komentar