MANNAQUIN’S (6th)
“Semuanya berantakan!”
###
“Kean? Kau sedang apa?”
Suara Rhin membuat kelopak mataku kembali
terbuka. Aku sempat berkedip tiga kali sebelum akhirnya aku menyeret seluruh
tubuhku menjauh darinya. Kedua tanganku meremas sofa dengan kuat. Aku yakin
wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus!
“Kean?”
Aku menatap wajahnya tanpa berkedip. Begaimana
bisa dia setenang itu?! Dia bahkan seperti tidak merasakan gejolak emosi atau
sejenis itu atau.. Entahlah! Yang jelas dia tidak merasakannya!
“Kau tadi sedang apa? Kenapa hidungmu bisa
menempel di hidungku?”
Aku berusaha bersikap senormal mungkin. Tetapi
tetap saja terlihat dibuat-buat. Aku memalingkan wajah, kemudian mengatur nafas
sekaligus merapikan detak jantungku yang morat-marit.
“Kean?” panggil Rhin, lagi.
“Ak..Aku hanya.. ingin melakukan.. tes panjang
hidung,” jawabku, sekenanya. “Ya, aku mengukur panjang hidungmu.”
“Benar begitu? Ehm, kalau begitu, berapa
panjang hidungku?”
Sebelum bertemu dengan Rhin, aku tidak tau
berapa kapasitas dari kantung kesabaranku. Aku baru mengetahui bahwa kantung
kesabaranku memiliki kapasitas yang cukup besar untuk meredam semua tingkah
laku Rhin yang benar-benar polos atau tidak peka. Oh, God.. Semoga ada lebih
banyak kantung kesabaran cadangan untukku.
“Satu meter!” jawabku.
“Satu meter? Waw!” serunya sambil meraba
hidung.
“Kami pulang!”
Kulihat Merry dan Karin memasuki ruang tengah.
Keduanya membawa kantung belanjaan, masing-masing satu. Merry berjalan mendekat
ke arah sofa, kemudian duduk di antara aku dan Rhin. Kemudian dia menyerahkan
kantung belanjaannya kepadaku.
“Ini keperluanmu!” serunya.
“Cepat sekali pulangnya,” gumamku.
“Memangnya kenapa?” tanya Karin.
“Ah! Apa aku melewatkan sesuatu?!” tanya Merry
dengan nada antusias.
“Apa-apaan sih! Tidak ada apapun,” bantahku.
“Pasti ada apa-apa,” sahut Karin. “Ini sebabnya
aku ingin cepat-cepat pulang. Aku tidak tau apa yang akan kau lakukan pada
gadis sepolos Rhin.”
“Hei! Aku tidak me...”
“Benar! Apa lagi kalian tinggal satu atap!”
teriak Merry. “Tunggu dulu.. Apa kalian pasangan kumpul kebo?”
Aku berdiri dari sofa, “Jangan berkata
macam-macam! Hubungan kami tidak seperti apa yang kalian pikirkan! Mengerti?!”
“Kalau begitu. Bagaimana kalau kita tanya pada
Rhin tentang apa yang terjadi? Setuju?”
Karin mengangguk. Aku menelan ludah. Tamat.
Tamat! TAMAT! Tamat harga diriku di hadapan mereka jika Rhin mengakatakannya.
Mereka pasti membuatku menjadi lebih risih dengan ocehan mereka.
“Rhin, apa yang Kean lakukan saat kami keluar?”
tanya Karin.
Rhin menatapku sebentar, kemudian menjawab.
“Kean mengukur panjang hidungku.”
“Mengukur panjang hidung? Dengan apa?
Penggaris?” giliran Merry mengintrogasi.
Rhin menggeleng. “Bukan. Tapi dengan hidungnya.
Jadi, hidung Kean menempel di hidungku.”
Merry dan Karin menatapku dengan tajam. Aku tau
bahwa mereka lebih mengerti apa yang dikatakan Rhin. Mereka mungkin sudah bisa
merekonstruksi kejadiannya di pikiran masing-masing. Dan sudah tidak bisa
diragukan lagi, aku pasti tertangkap basah.
“Kean?” panggil mereka bersamaan. “Apa
penjelasanmu?”
“Err.. Bukan salahku! Rhin menutup matanya dan
hal itu terjadi begitu saja! Aku juga tidak jadi melakukannya! Jadi tanyakan
pada Rhin, kenapa dia menutup mata,” seruku.
Rhin tampak kebingungan. Dia melirik ke arah
Merry berkali-kali. Ah! Pasti ini semua ulah Merry! Janji itu! Pasti! Merry
pasti menyuruh Rhin untuk menutup mata ketika berada di dekatku. Ini memang
jebakan!
“Sudahlah!” teriakku. “Rhin, jangan sekali-kali
melakukannya lagi! Apalagi karena Merry!”
“Bagaimana kau tau?” tanya Rhin.
“Hei, Kean. Kalau kau ingin menyalahkan
seseorang, salahkan aku. Jangan salahkan Rhin,” ujar Merry.
“Aku memang menyalahkanmu!” teriakku. “Aku akan
pergi tidur dan jangan ganggu aku!”
###
Belum cukup dengan semua kejadian kemarin,
Karin dan Merry seperti ingin menyiksaku lebih lama lagi. Pagi hari saat aku
akan berangkat ke kantor, mereka menyeretku masuk ke dalam kamar dan menyuruhku
berganti pakaian. Memang, saat itu aku hanya memakai kaos polo dan celana
jeans. Tetapi aku berencana berganti pakaian di kantor, aku punya beberapa
setel kemeja dan jas di sana.
“Kau gila?! Mana ada direktur yang pergi ke
kantor dengan kaos dan jeans!” pekik Merry.
“Kean, kau parah! Biar aku ambilkan jas milik
ayahmu dulu,” ucap Karin, kemudian menuju lemari dan mulai mengobrak-abrik
isinya.
“Kean, selera pakaianmu benar-benar buruk,”
komentar Rhin.
“Aku punya beberapa setel pakaian di kantor.
Aku akan ganti disana!” teriakku. “Dan, Rhin, kenapa kau juga ikut-ikutan
mereka?!”
“Aku berkata jujur,” jawab Rhin.
Baiklah.. Aku menyerah. Dua lawan satu tidak
seimbang. Apa aku perlu pengacara untuk melepaskan diri dari rumah ini?!
Tolong, bagi siapapun yang mendengar ratapanku ini, aku benar-benar butuh
pengacara atau tim SWAT! Jadi panggilkan mereka!!
“Ini jas ayahmu,” ujar Karin sambil memberikan
jas hitam dengan model paling simpel yang pernah kulihat. “Masih bagus,
setidaknya untuk usia jas yang menginjak 20 tahun.”
Aku segera memakai jas itu, dan ukurannya pas. Kulihat
Karin tersenyum sambil menatapku. Merry dan Rhin melakukan hal yang sama,
Baiklah.. Apa saat ini aku terlihat tampan di mata mereka?
“Kau benar-benar mirip ayahmu,” ucap Karin.
“Aku setuju,” sahut Merry. “Apa lagi tatanan
rambut dan mata hitamnya. Mirip sekali.”
“Keren!” pekik Rhin sambil mengacungkan jempol.
Aku mundur selangkah dan memalingkan wajah.
Bukan hanya untuk menghindari tatapan manis mereka yang membuatku ngeri. Tetapi
aku juga menghindar agar mereka tidak melihat wajahku yang mungkin sudah
menyamai warna mobil pemadam kebakaran.
“Kalau begitu aku berangkat,” ucapku.
“Perlu diantar?” tanya Karin.
“Tidak usah repot-repot. Aku sudah memanggil
taxi,” jawabku.
Aku melangkah keluar rumah. Taxi pesananku
sudah menunggu di depan rumah Karin. Aku masuk ke dalamnya dan mengatakan
tujuanku, kemudian duduk santai sambil memperhatikan jas yang kupakai.
Jas ini berumur sekitar 20 tahun. Yang
membuatku heran adalah dalam jangka sepanjang itu, mengapa Karin masih
menyimpannya? Untuk kenang-kenangan? Mustahil. Mereka saling membenci semenjak bercerai.
Bahkan setiap bertemu, mereka saling membuat tembok atau pura-pura buta.
Kurasa aku tidak harus berpikir sekeras ini.
Mereka sudah bercerai dan masalah terselesaikan. Motif lain seperti Karin masih
mencinai Ayah, sepertinya harus kubuang jauh-jauh. Bukannya aku tidak
mempercayainya, tetapi karena keadaan sudah berubah. Ayah sudah bersama dengan
wanita lain. Meskipun Karin masih mencintainya, dia tidak bisa merubah apapun.
Dan kupikir mereka memang tidak akan pernah rujuk.
Tak lama kemudian, taxi berhenti tepat di depan
gedung perusahaanku. Aku membayar taxi itu, kemudian keluar dan melangkah masuk
ke dalam gedung. Tidak ada yang aneh dengan sikap karyawanku. Meskipun alis
mereka sedikit terangkat saat melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Tetapi hawa yang lebih menyeramkan menyebar di
dalam lift. Ada dua tiga karyawan yang berbisik di belakangku. Kurasa bukan
karena penampilanku. Aku mencoba mencuri dengar. Mereka mengatakan kata
‘Korupsi’. Aku tau sesuatu pasti sedang terjadi.
Begitu aku sampai di lantai 5, ruanganku.
Sekertarisku menyambut dengan tergopoh-gopoh. Dia membawa beberapa berkas
dengan wajah pucat pasi. Pasti masalah yang serius. Kantor cabang bangkrut?
Atau ada investor yang menarik investasinya?
“Tuan, gawat!”
“Ada apa? Masalah apa lagi yang muncul?”
“Tuan, maaf.. Anda dituduh mengkorupsi dana
perusahaan.”
Aku terdiam sesaat. “Apa semua berkas itu
berkas-berkas tuntutan?”
Sekertarisku mengangguk. “Bukan hanya itu,
Tuan. Ada juga berkas untuk pengajuan pemecatan bagi semua karyawan yang memiliki koneksi dengan anda.”
“Oke.. Bawa semua berkas itu ke dalam
ruanganku,” perintahku.
“Baik, Tuan.”
Aku tau, ini permainan Riku. Aku sudah
menantinya dan ini saatnya untuk bertarung lagi dengan Riku. Kali ini aku tidak
akan kalah. Karena aku masih memiliki kartu andalanku untuk kubuka pada waktu
yang tepat.
###
Dari sekali pandang, aku mungkin bisa dikatakan
sebagai bos yang ringan kaki, pergi ke sana ke mari dengan leluasa. Tetapi bagi
yang melihatku dengan seksama, aku selalu membawa satu tas jinjing dan satu
kardus berisi berkas-berkas. Aku tidak tahan bekerja di kantor. Bukan karena
kantorku kurang keren. Aku hanya perlu suasana rumah untuk menyelesaikan
masalah kantor. Aku tau, itu tidak masuk akal.
Suasana kantor terasa seperti neraka bagiku.
Baru 2 jam aku duduk menghadap meja kerjaku, aku sudah merasa tidak tahan.
Berkas-berkas tuntutan berdatangan hampir di setiap menit. Tanpa pikir panjang
aku segera merapikan semua berkas-berkas itu, lalu memasukkannya ke dalam
kardus. Hari ini aku membawa lebih banyak kardus. Ada tiga kardus.
Aku meletakkan keiga kardus itu di atas troli,
kemudian mendorongnya keluar ruangan. Aku berpesan kepada sekertarisku apabila
masih ada berkas yang datang, aku akan mengambilnya besok. Kecuali berkas itu
benar-benar mendesak, dia harus mengirimkannya ke apartemenku.
Aku mendorong troliku menuju lift. Seperti saat
aku menuju kantor, semua mata tertuju padaku. Aku tau isi pikiran mereka,
tetapi aku tidak terlalu peduli dengan itu. Meskipun mereka orang-orang
kepercayaanku, tetapi mereka tetap manusia. Mereka pasti punya sisi lain yang
tidak ditunjukkan padaku.
Sebuah taxi sudah menungguku di depan gedung.
Aku dilarang menggunakan fasilitas perusahaan untuk sementara waktu. Yap,
dengan kata lain aku sedang diskors. Tetapi tenang, selama satu minggu ke depan
aku masih bisa datang ke kantor untuk menyelesaikan beberapa hal. Dan aku akan memanfaatkannya untuk membalikkan
keadaan.
Aku masuk ke dalam taxi, kemudian menunjukkan
alamat apartemenku. Baru beberapa menit, aku mengubah tujuanku. Hikari.
Setidaknya aku ingin mengunjunginya. Saat terakhir kali aku bertemu dengannya,
kemarin, dia menunjukkan kemajuan yang bisa dibilang sangat baik. Setidaknya
dia bisa menyebut namaku.
Tak bisa kupungkiri bahwa aku penasaran dengan
apa yang terjadi pada Hikari. Nyonya Tsuki pernah mengatakan bahwa kemungkinan
Hikari sembuh sangat sedikit. Apalagi untuk berbicara, mustahil.
Taxi yang kutumpangi berhenti mendadak,
membuatku hampir teratuk kursi depan. Dan yang paling mebuatku jengkel, sopir
taxi ini tidak mengucapkan kata maaf. “Rumah sakit,” ucapnya.
Dengan enggan aku keluar dari taxi. “Tunggu
disini. Aku akan kembali.”
“Baik.”
Pada akhirnya aku tidak mengambil pusing. Aku
sudah cukup pusing dengan permasalahan yang datang kepadaku dengan suka rela,
walaupun aku tidak rela. Apa kita tidak bisa memilih masalah yang ingin kita
hadapi? Seandainya bisa, aku akan memillih.. Hmm.. Apa ya? Kurasa tidak ada
masalah yang lebih baik dari pada masalah lain. Masing-masing mempunyai level
tersendiri.
Aku hampir sampai di taman Rumah Sakit. Kulihat
dari kejauhan, Hikari sedang duduk di samping Kyo. Dengan refleks aku
membalikkan badan dan bersembunyi di balik tiang penyanggga lorong. Aku tidak
bisa menemui Hikari jika ada Kyo. Dia pasti ingin membalas pukulanku kemarin.
“Kean?”
Aku meoleh, “Rhin? Kenapa bisa di sini?”
Rhin berjalan mendekat ke arahku, “aku ingin
menjenguk Hikari. Bibi yang mengantarku.”
“Sekarang masih belum bisa menjenguknya,”
ujarku. “Kyo masih di sana.”
Rhin melongok ke arah taman. “Mana? Hikari
sendirian.”
“Oh ya?”
Aku berbalik. Dan memang Hikari sendirian lagi.
Kyo sudah tidak ada. Ini kesempatan yang baik. Aku segera menoleh ke arah Rhin,
ingin mengajaknya.Tetapi dia sudah berlari menuju Hikari. Dengan sedikit
kecewa, aku berjalan menyusulnya.
Kulihat Rhin memeluk Hikari dengan gembira.
Ketika aku berada di hadapannya, Hikari mendongak. Dia menatapku, kemudian
tersenyum. Dengan agak canggung, aku membalas senyumannya. Tetapi sedetik
kemudian, Hikari menutup matanya, lalu hampir terjatuh. Beruntung, aku dan Rhin
segera menangkapnya.
“Hikari? Hei, bangun!” teriakku.
“Hikari! Banguun! Hikari! Kean. Apa yang harus
kita lakukan?”
“Kita bawa ke kamarnya.”
Aku membopong Hikari hingga menuju kamarnya.
Rhin mengikutiku dari belakang bersama suster yang ia seret secara paksa. Ketika
pintu kamar Hikari dibuka, aku berhenti sejenak. Kyo ada didalam, sedang
mengupas apel. Aku mencoba tidak mempedulikannya, dan langgung membaringkan
Hikari di atas kasurnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Kyo.
“Dia pingsan,” jawabku.
“Maaf, aku yang bersalah,” ucap Rhin. Dia masih
berada di ambang pintu, tidak berani masuk.
“Oh, kau lagi?” respon Kyo.
“Sudahlah, bukan salahnya,” ujarku.
Kyo menatapku sinis. “Lalu salahmu?? Hei, apa
tidak bisa, sekali saja dalam hidupmu, tidak membuatnya menderita?!”
“Apa maksudmu?!”
“Kau pikir aku tidak tau?! Kau...”
“Hei!” teriak suster. “Kalau kalian ingin
bertengkar, jangan di sini. Cepat keluar!”
“Mereka saja yang keluar,” ucap Kyo sambil
menunjukku.
“Oke. Permisi.”
Aku melangkah keluar. Ketika sampai di ambang
pintu, aku berbisik kepada Rhin. “Sudahlah.. Hari ini cukup sampai di sini. Aku
akan menelpon Karin untuk menjemputmu.”
“Kean? Apa aku terlihat bodoh?” tanyanya.
Sambil menggandeng tangannya, aku menjawab.
“Tidak. Dia yang benar-benar bodoh kerena mendepakmu begitu saja.”
###
Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain
membaca setiap berkas yang sudah menggunung. Kebanyakan, berkas-berkas itu
berisi tuntutan agar aku mundur dari jabatanku. Tetapi ada juga yang
menginginkanku tetap bertahan sampai kasus ini sudah dipastikan kebenarannya.
Tentu saja jumlah tuntutan seperti itu hanya sedikit, satu berkas.
Baru dua kardus berkas yang sudah kubaca.
Tetapi hanya satu berkas yang menarik perhatianku. Berkas ini berasal dari
orang kepercayaan Riku. Namanya Cris. Dokumen ini tidak memiliki cacat. Semua
angkanya mengandung bukti. Sehingga tidak ada yang ragu bahwa data ini asli.
Kecuali aku, tentunya.
Aku meletakkan berkas Cris, kemudian berjalan
menuju pintu. Ada seseorang yang mebunyikan bel. Ketika aku mengintip melalui
celah kecil yang ada di pintu, ada seorang wanita dengan rambut blonde yang
berdiri sambil membawa bungkusan bekal. Dengan malas, aku membukakan pintu
untuknya.
“Apa maum...”
PLAK!
Aku memegang pipi kiriku. Rasanya benar-benar
panas dan sangat sakit, tentunya. Aku menatapnya dengan mata yang terbuka
lebar. “APA SALAHKU?!!”
PLAK!
Giliran pipi kananku yang terkena musibah. Aku
memegang kedua pipiku, kemudian mundur selangkah, takut hal yang tidak
kuinginkan kembali terjadi. “MERRY! APA YANG SALAH?!”
“Kean, kau benar-benar bodoh! Oh, bukan.. APA
KAU TIDAK PUNYA OTAK?!”
“HOI, MEMANGNYA APA SALAHKU?! KAU MENAMPARKU!
DUA KALI!”
“DASAR BODOH! KENAPA KAU MEMPERTEMUKAN RHIN
DENGAN WUJUD MANUSIANYA?!”
Aku terdiam. “Ba..bagaimana bisa kau tau?”
“Apa kau pikir aku tidak tau siapa Rhin? Dia
manek...”
Dengan cepat, aku menarik Merry hingga masuk ke
dalam ruanganku. Kemudian kututup pintu, dan menguncinya. Aku berbalik menghadap
Merry. Aku bersiaga. Kedua tanganku mengepal kuat.
“Apa kau salah satu dari mereka? Jawab!”
Merry tersenyum simpul. “Mereka siapa?
Mannaquin’s Freedom?”
“Ya, kau pasti salah satu dari mereka.”
Merry meletakkan bungkusan bekal di sofaku.
“Bagaimana aku menjelaskannya ya? Hmm.. begini.. Aku sama seperti Rhin.”
Kepalan tanganku melonggar. “Maksudmu kau juga
manekin? Bagaimana bisa? Itu tidak mungkin!”
“Kau perlu bukti?”
“Bukan.. kupikir tid...”
Aku terbelalak melihat perilaku Merry. Dia
melepas mantelnya, kemudian mulai membuka kancing atasnya. Aku segera berlari
menyambar mantelnya dan memakaikannya.
“SUDAH KUBILANG, AKU LAKI-LAKI BAIK-BAIK! PAKAI
MANTELMU!”
Dengan enggan, Merry memakai mantelnya lagi.
“Kau pikir aku tertarik padamu?!”
“Meskipun begitu, aku tidak mau orang lain
salah paham!”
“Orang lain? Maksudmu Rhin?”
“Or..orang lain ya orang lain!” bantahku.
“Kean, apa kau tau? Kau sudah melakukan
kesalahan besar,” ucap Merry sambil duduk di sofa.
“Apa maksudmu?”
“Jiwa manekin terbuat dari ingatan manusia yang
ingin mewujudkan apa yang belum ia dapatkan. Ingatan ini tergantung pada hal
yang belum ia dapatkan. Misalnya saat kau berumur 15 tahun, kau tidak bisa
mendapat ranking 1. Kau menyesal, dan kau ingin mengulanginya sehingga kau bisa
mendapatkan ranking 1. Jadi, ingatan yang ada didalam manekin hanyalah ingatan
saat kau berumur 15 tahun. Dalam kasus Rhin, dia berumur 10 tahun.”
Mulutku terbuka lebar saat mendengar penjelasan
Merry. Aku tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. “Bagaimana kau tau
kalau Rhin berumur 10 tahun?”
“Aku memberikan soal-soal yang hanya bisa
dikerjakan oleh seseorang dengan umur-umur tertentu. Rhin hanya bisa menjawab
soal yang khusus untuk anak berumur 10 tahun.”
“Begitu rupanya.. Pantas kalau dia benar-benar
polos,” ucapku. “Lalu bagaimana selanjutnya?”
“Kemudian manekin hanya membutuhkan jiwa
pendonor. Fungsinya untuk menggerakkan seluruh badannya, menghidupkannya
sehingga seperti manusia. Dalam hal ini, kaulah jiwa pendonor Rhin. Setelah
jiwamu diambil, kau akan mati rasa dan mendapatkan tanda, seperti guratan
kecoklatan di bagian tubuh yang terambil jiwanya. Sebetulnya kau tidak 100
persen mati rasa, kau hanya tidak bisa merasakan karena manekin yang mengambil
jiwamu yang merasakan. Seperti saat kau tertembak. Rhin yang merasakan
sakitnya.”
Kuraba lengan kiri atasku. Aku mengumpat dalam
hati karena tidak menyadarinya dari awal. Seharusnya aku tertembak di bagian
lain. Setidaknya bukan Rhin yang merasakan sakitnya.
“Ada beberapa peraturan yang tidak boleh
dilanggar. Salah satunya, manekin tidak boleh bertemu dengan wujud manusianya.
Kau pikir kenapa Hikari terlihat seperti orang yang tidak memiliki nyawa
sebelum bertemu dengan Rhin? Apa dia selalu pingsan saat Rhin menyentuhnya?”
“Apa hal buruk akan terjadi?” tanyaku.
“Hikari seperti mayat hidup karena salah satu
ingatannya diambil secara paksa. Rhin memiliki ingatan itu. Jika keduanya
bersentuhan, maka Hikari akan menyerap ingatannya yang ada di dalam Rhin.
Sentuhan pertama, Hikari akan menghisap 20 persen dari ngatan Rhin. Setelah
itu, dia pasti mulai melakukan terobosan baru, berbicara atau tersenyum.
Sentuhan kedua, mengambil 30 persen dari Rhin. Kau pasti sangat terkejut jika
melihatnya, besok. Dia pasti terlihat sembuh total. Tetapi, sebenarnya..”
“Apa? Apa yang akan terjadi?!”
“Ambilkan aku minum dulu!” perintahnya. “Kau
pikir sopan, menerima tamu tanpa menyuguhkan sesuatu?!”
“Nanti aku buatkan. Teruskan dulu ceritanya!”
“Kau ini! Cepat buatkan!”
Mau tidak mau aku segera pergi ke dapur dan
mengambil minuman kaleng dari kulkas. Kurasa ini sudah cukup. Saat aku kembali,
Merry menghilang. Aku menyisir segala penjuru, dan kutemukan pintu ruang
kerjaku terbuka. Aku berjalan ke arahnya dan mendapati Merry sedang duduk di
kursiku sambil memegang beberapa berkas.
“Kean, kau akan dipecat?”
“Itu urusanku,” jawabku. “Cepat minum dan lanjutkan
ceritanya!”
“Oke..”
Merry menenggak habis minuman kaleng itu. Kemudian
meletakkannya di dekat tumpukan berkasku. “Legaaa..”
“Sekarang lanjutkan ceritanya!”
“Oke..” ucapnya. “Hikari hanya akan bertahan
selama 5 hari. Setelah itu dia akan koma selamanya. Sedangkan Rhin, dia bisa
kehilangan kesadarannya selama beberapa menit. Kau akan tau bahwa hal itu bisa
mematikan jika dia tidak sadar saat menyebrang jalan. Aku tidak pernah tau cara
lain untuk keluar dari masalah ini.”
Aku menutup kedua mataku. Otakku
berdenyut-denyut menyakitkan. Aku membuat kacau segalanya. Tidak ada yang bisa
kulakukan. Seharusnya aku bertemu dengan Merry lebih cepat. Keadaaannya pasti
tidak akan seburuk ini.
“Merry, apa yang harus kulakukan?”
“Sudah kukatakan, aku tidak tau caranya. Selama
aku hidup, aku hanya melihat dua pilihan. Rhin yang mati, atau kau yang mati.”
“A..ap..apa maksudmu?”
“Pada umumnya, jika tugas selesai, manekin akan
mati. Tetapi jika tugas tidak diselesaikan, ada beberapa aturan. Jika pendonor
mati, manekin akan mati. Jika manekin mati, pendonor tetap hidup.”
Merry bangkit dari kursi, kemudian melangkah ke
arahku dan menepuk pundakku. “Jadi, jika kau tidak ingin Rhin mati.. Jaga dia
dan juga nyawamu.” ucapnya. “Aku pulang dulu. Sisa ceritanya, akan kuceritakan
saat bertemu lagi. Oh ya, itu bekal buatanku. Kau harus memakannya. Kalau
begitu, sampai jumpa.”
###
Aku tidak bisa tidur semalaman. Banyak hal yang
kupikirkan. Terutama masalah Rhin dan Hikari. Bagaimana bisa aku menyelesaikan
masalah mereka? Aku tidak ingin mereka berdua menderita. Apalagi kehilangan
nyawa.
Apa tidak ada cara lain agar aku, Rhin, dan
Hikari tetap hidup? Atau memang salah satu di antara kami harus kehilangan
nyawa? Tunggu.. bukankah jika Rhin bisa menyelesaikan tugasnya, mereka berdua
akan menghilang selamanya? Entah mengapa aku tidak ingin tugas itu selesai.
Seandainya saja ada cara agar mereka bertahan.
“Sudah sampai, Tuan,” ucap supir taxi
mengagetkanku.
Aku tersadar dari lamunanku, lalu menoleh ke
kanan dan ke kiri. Aku sudah berada di depan gedung perusahaanku. Aku
mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada sopir taxi, kemudian
keluar.
Sekertarisku memberi pesan kepadaku agar tidak
masuk melalui pintu depan karena sedang ada demonstrasi. Kupikir dia bercanda,
ternyata benar. Keadaan di depan gedung perusahaan benar-benar kacau. Puluhan
karyawanku berkumpul di depan gedung dengan membawa spanduk dan papan-papan
dengan tulisan-tulisan menentang korupsi.
Terlintas di pikiranku, jika aku berjalan
melalui para demonstran itu dengan santai, bisa jadi, aku tidak akan selamat.
Pakaianku tercabik-cabik, atau wajahku penuh lebam, bahkan bisa jadi mereka
akan memutilasiku! Tetapi tidak. Mereka tidak melakukannya. Setidaknya sampai 5
menit yang lalu.
Sebuah telur busuk mendarat dengan manis di
kepalaku. Tak butuh waktu lama, puluhan telur sudah menghiasi tubuhku. Ditambah
dengan tepung terigu, aku benar-benar siap untuk digiling menjadi adonan roti.
Aku tidak melawan. Karena pada kenyataannya aku
hanya diam mematung, menunggu semua bahan-bahan pembuat roti itu sudah tidak
dilempar lagi. Setidaknya hal ini dapat membuat mereka puas. Mereka pasti
bangga karena sudah mempermalukan ‘koruptor’.
Beberapa detik kemudian, ponselku berdering.
Melihat siapa yang menelponku, membuatku tersenyum. Bagaimana tidak? Dia yang
akan menyelamatkanku dari semua ini.
“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.
“Bodoh! Telur busuk dan tepung terigu. Kau
ingin mencicipinya? Dengan suka rela aku akan berbagi denganmu.”
“Maaf, maaf.. kupikir kau tidak akan
semenderita itu. Setidaknya kau tidak perlu bermuka dua.”
“Kau tau? Lebih baik aku bermuka dua daripada
diempar telur busuk. Ini benar-benar busuk!”
“Hahaha.. bersabarlah sebentar. Kau tau, aku
tidak akan mengecewakanmu.”
Aku tersenyum simpul, “setidaknya jangan
terlalu lama. Kau tau, aku tidak suka menunggu.”
“Oke. Kalau begitu, sampai jumpa di hari
kemerdekaanku.”
Sambil tertawa kecil, aku menjawab. “Sampai
jumpa di hari kemerdekaan kita, Cris.”
###
0 komentar:
Posting Komentar