CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 30 Juli 2012

MANNAQUIN'S (6th)


MANNAQUIN’S (6th)
“Semuanya berantakan!”

###

“Kean? Kau sedang apa?”

Suara Rhin membuat kelopak mataku kembali terbuka. Aku sempat berkedip tiga kali sebelum akhirnya aku menyeret seluruh tubuhku menjauh darinya. Kedua tanganku meremas sofa dengan kuat. Aku yakin wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus!

“Kean?”

Aku menatap wajahnya tanpa berkedip. Begaimana bisa dia setenang itu?! Dia bahkan seperti tidak merasakan gejolak emosi atau sejenis itu atau.. Entahlah! Yang jelas dia tidak merasakannya!

“Kau tadi sedang apa? Kenapa hidungmu bisa menempel di hidungku?”

Aku berusaha bersikap senormal mungkin. Tetapi tetap saja terlihat dibuat-buat. Aku memalingkan wajah, kemudian mengatur nafas sekaligus merapikan detak jantungku yang morat-marit.

“Kean?” panggil Rhin, lagi.
“Ak..Aku hanya.. ingin melakukan.. tes panjang hidung,” jawabku, sekenanya. “Ya, aku mengukur panjang hidungmu.”
“Benar begitu? Ehm, kalau begitu, berapa panjang hidungku?”

Sebelum bertemu dengan Rhin, aku tidak tau berapa kapasitas dari kantung kesabaranku. Aku baru mengetahui bahwa kantung kesabaranku memiliki kapasitas yang cukup besar untuk meredam semua tingkah laku Rhin yang benar-benar polos atau tidak peka. Oh, God.. Semoga ada lebih banyak kantung kesabaran cadangan untukku.

“Satu meter!” jawabku.
“Satu meter? Waw!” serunya sambil meraba hidung.
“Kami pulang!”

Kulihat Merry dan Karin memasuki ruang tengah. Keduanya membawa kantung belanjaan, masing-masing satu. Merry berjalan mendekat ke arah sofa, kemudian duduk di antara aku dan Rhin. Kemudian dia menyerahkan kantung belanjaannya kepadaku.

“Ini keperluanmu!” serunya.
“Cepat sekali pulangnya,” gumamku.
“Memangnya kenapa?” tanya Karin.
“Ah! Apa aku melewatkan sesuatu?!” tanya Merry dengan nada antusias.
“Apa-apaan sih! Tidak ada apapun,” bantahku.
“Pasti ada apa-apa,” sahut Karin. “Ini sebabnya aku ingin cepat-cepat pulang. Aku tidak tau apa yang akan kau lakukan pada gadis sepolos Rhin.”
“Hei! Aku tidak me...”
“Benar! Apa lagi kalian tinggal satu atap!” teriak Merry. “Tunggu dulu.. Apa kalian pasangan kumpul kebo?”
Aku berdiri dari sofa, “Jangan berkata macam-macam! Hubungan kami tidak seperti apa yang kalian pikirkan! Mengerti?!”
“Kalau begitu. Bagaimana kalau kita tanya pada Rhin tentang apa yang terjadi? Setuju?”

Karin mengangguk. Aku menelan ludah. Tamat. Tamat! TAMAT! Tamat harga diriku di hadapan mereka jika Rhin mengakatakannya. Mereka pasti membuatku menjadi lebih risih dengan ocehan mereka.

“Rhin, apa yang Kean lakukan saat kami keluar?” tanya Karin.
Rhin menatapku sebentar, kemudian menjawab. “Kean mengukur panjang hidungku.”
“Mengukur panjang hidung? Dengan apa? Penggaris?” giliran Merry mengintrogasi.
Rhin menggeleng. “Bukan. Tapi dengan hidungnya. Jadi, hidung Kean menempel di hidungku.”

Merry dan Karin menatapku dengan tajam. Aku tau bahwa mereka lebih mengerti apa yang dikatakan Rhin. Mereka mungkin sudah bisa merekonstruksi kejadiannya di pikiran masing-masing. Dan sudah tidak bisa diragukan lagi, aku pasti tertangkap basah.

“Kean?” panggil mereka bersamaan. “Apa penjelasanmu?”
“Err.. Bukan salahku! Rhin menutup matanya dan hal itu terjadi begitu saja! Aku juga tidak jadi melakukannya! Jadi tanyakan pada Rhin, kenapa dia menutup mata,” seruku.

Rhin tampak kebingungan. Dia melirik ke arah Merry berkali-kali. Ah! Pasti ini semua ulah Merry! Janji itu! Pasti! Merry pasti menyuruh Rhin untuk menutup mata ketika berada di dekatku. Ini memang jebakan!

“Sudahlah!” teriakku. “Rhin, jangan sekali-kali melakukannya lagi! Apalagi karena Merry!”
“Bagaimana kau tau?” tanya Rhin.
“Hei, Kean. Kalau kau ingin menyalahkan seseorang, salahkan aku. Jangan salahkan Rhin,” ujar Merry.
“Aku memang menyalahkanmu!” teriakku. “Aku akan pergi tidur dan jangan ganggu aku!”

###

Belum cukup dengan semua kejadian kemarin, Karin dan Merry seperti ingin menyiksaku lebih lama lagi. Pagi hari saat aku akan berangkat ke kantor, mereka menyeretku masuk ke dalam kamar dan menyuruhku berganti pakaian. Memang, saat itu aku hanya memakai kaos polo dan celana jeans. Tetapi aku berencana berganti pakaian di kantor, aku punya beberapa setel kemeja dan jas di sana.

“Kau gila?! Mana ada direktur yang pergi ke kantor dengan kaos dan jeans!” pekik Merry.
“Kean, kau parah! Biar aku ambilkan jas milik ayahmu dulu,” ucap Karin, kemudian menuju lemari dan mulai mengobrak-abrik isinya.
“Kean, selera pakaianmu benar-benar buruk,” komentar Rhin.
“Aku punya beberapa setel pakaian di kantor. Aku akan ganti disana!” teriakku. “Dan, Rhin, kenapa kau juga ikut-ikutan mereka?!”
“Aku berkata jujur,” jawab Rhin.

Baiklah.. Aku menyerah. Dua lawan satu tidak seimbang. Apa aku perlu pengacara untuk melepaskan diri dari rumah ini?! Tolong, bagi siapapun yang mendengar ratapanku ini, aku benar-benar butuh pengacara atau tim SWAT! Jadi panggilkan mereka!!

“Ini jas ayahmu,” ujar Karin sambil memberikan jas hitam dengan model paling simpel yang pernah kulihat. “Masih bagus, setidaknya untuk usia jas yang menginjak 20 tahun.”

Aku segera memakai jas itu, dan ukurannya pas. Kulihat Karin tersenyum sambil menatapku. Merry dan Rhin melakukan hal yang sama, Baiklah.. Apa saat ini aku terlihat tampan di mata mereka?

“Kau benar-benar mirip ayahmu,” ucap Karin.
“Aku setuju,” sahut Merry. “Apa lagi tatanan rambut dan mata hitamnya. Mirip sekali.”
“Keren!” pekik Rhin sambil mengacungkan jempol.

Aku mundur selangkah dan memalingkan wajah. Bukan hanya untuk menghindari tatapan manis mereka yang membuatku ngeri. Tetapi aku juga menghindar agar mereka tidak melihat wajahku yang mungkin sudah menyamai warna mobil pemadam kebakaran.

“Kalau begitu aku berangkat,” ucapku.
“Perlu diantar?” tanya Karin.
“Tidak usah repot-repot. Aku sudah memanggil taxi,” jawabku.

Aku melangkah keluar rumah. Taxi pesananku sudah menunggu di depan rumah Karin. Aku masuk ke dalamnya dan mengatakan tujuanku, kemudian duduk santai sambil memperhatikan jas yang kupakai.

Jas ini berumur sekitar 20 tahun. Yang membuatku heran adalah dalam jangka sepanjang itu, mengapa Karin masih menyimpannya? Untuk kenang-kenangan? Mustahil. Mereka saling membenci semenjak bercerai. Bahkan setiap bertemu, mereka saling membuat tembok atau pura-pura buta.

Kurasa aku tidak harus berpikir sekeras ini. Mereka sudah bercerai dan masalah terselesaikan. Motif lain seperti Karin masih mencinai Ayah, sepertinya harus kubuang jauh-jauh. Bukannya aku tidak mempercayainya, tetapi karena keadaan sudah berubah. Ayah sudah bersama dengan wanita lain. Meskipun Karin masih mencintainya, dia tidak bisa merubah apapun. Dan kupikir mereka memang tidak akan pernah rujuk.

Tak lama kemudian, taxi berhenti tepat di depan gedung perusahaanku. Aku membayar taxi itu, kemudian keluar dan melangkah masuk ke dalam gedung. Tidak ada yang aneh dengan sikap karyawanku. Meskipun alis mereka sedikit terangkat saat melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Tetapi hawa yang lebih menyeramkan menyebar di dalam lift. Ada dua tiga karyawan yang berbisik di belakangku. Kurasa bukan karena penampilanku. Aku mencoba mencuri dengar. Mereka mengatakan kata ‘Korupsi’. Aku tau sesuatu pasti sedang terjadi.

Begitu aku sampai di lantai 5, ruanganku. Sekertarisku menyambut dengan tergopoh-gopoh. Dia membawa beberapa berkas dengan wajah pucat pasi. Pasti masalah yang serius. Kantor cabang bangkrut? Atau ada investor yang menarik investasinya?

“Tuan, gawat!”
“Ada apa? Masalah apa lagi yang muncul?”
“Tuan, maaf.. Anda dituduh mengkorupsi dana perusahaan.”
Aku terdiam sesaat. “Apa semua berkas itu berkas-berkas tuntutan?”
Sekertarisku mengangguk. “Bukan hanya itu, Tuan. Ada juga berkas untuk pengajuan pemecatan bagi semua karyawan  yang memiliki koneksi dengan anda.”
“Oke.. Bawa semua berkas itu ke dalam ruanganku,” perintahku.
“Baik, Tuan.”

Aku tau, ini permainan Riku. Aku sudah menantinya dan ini saatnya untuk bertarung lagi dengan Riku. Kali ini aku tidak akan kalah. Karena aku masih memiliki kartu andalanku untuk kubuka pada waktu yang tepat.

###

Dari sekali pandang, aku mungkin bisa dikatakan sebagai bos yang ringan kaki, pergi ke sana ke mari dengan leluasa. Tetapi bagi yang melihatku dengan seksama, aku selalu membawa satu tas jinjing dan satu kardus berisi berkas-berkas. Aku tidak tahan bekerja di kantor. Bukan karena kantorku kurang keren. Aku hanya perlu suasana rumah untuk menyelesaikan masalah kantor. Aku tau, itu tidak masuk akal.

Suasana kantor terasa seperti neraka bagiku. Baru 2 jam aku duduk menghadap meja kerjaku, aku sudah merasa tidak tahan. Berkas-berkas tuntutan berdatangan hampir di setiap menit. Tanpa pikir panjang aku segera merapikan semua berkas-berkas itu, lalu memasukkannya ke dalam kardus. Hari ini aku membawa lebih banyak kardus. Ada tiga kardus.

Aku meletakkan keiga kardus itu di atas troli, kemudian mendorongnya keluar ruangan. Aku berpesan kepada sekertarisku apabila masih ada berkas yang datang, aku akan mengambilnya besok. Kecuali berkas itu benar-benar mendesak, dia harus mengirimkannya ke apartemenku.

Aku mendorong troliku menuju lift. Seperti saat aku menuju kantor, semua mata tertuju padaku. Aku tau isi pikiran mereka, tetapi aku tidak terlalu peduli dengan itu. Meskipun mereka orang-orang kepercayaanku, tetapi mereka tetap manusia. Mereka pasti punya sisi lain yang tidak ditunjukkan padaku.

Sebuah taxi sudah menungguku di depan gedung. Aku dilarang menggunakan fasilitas perusahaan untuk sementara waktu. Yap, dengan kata lain aku sedang diskors. Tetapi tenang, selama satu minggu ke depan aku masih bisa datang ke kantor untuk menyelesaikan beberapa hal.  Dan aku akan memanfaatkannya untuk membalikkan keadaan.

Aku masuk ke dalam taxi, kemudian menunjukkan alamat apartemenku. Baru beberapa menit, aku mengubah tujuanku. Hikari. Setidaknya aku ingin mengunjunginya. Saat terakhir kali aku bertemu dengannya, kemarin, dia menunjukkan kemajuan yang bisa dibilang sangat baik. Setidaknya dia bisa menyebut namaku.

Tak bisa kupungkiri bahwa aku penasaran dengan apa yang terjadi pada Hikari. Nyonya Tsuki pernah mengatakan bahwa kemungkinan Hikari sembuh sangat sedikit. Apalagi untuk berbicara, mustahil.

Taxi yang kutumpangi berhenti mendadak, membuatku hampir teratuk kursi depan. Dan yang paling mebuatku jengkel, sopir taxi ini tidak mengucapkan kata maaf. “Rumah sakit,” ucapnya.

Dengan enggan aku keluar dari taxi. “Tunggu disini. Aku akan kembali.”
“Baik.”

Pada akhirnya aku tidak mengambil pusing. Aku sudah cukup pusing dengan permasalahan yang datang kepadaku dengan suka rela, walaupun aku tidak rela. Apa kita tidak bisa memilih masalah yang ingin kita hadapi? Seandainya bisa, aku akan memillih.. Hmm.. Apa ya? Kurasa tidak ada masalah yang lebih baik dari pada masalah lain. Masing-masing mempunyai level tersendiri.

Aku hampir sampai di taman Rumah Sakit. Kulihat dari kejauhan, Hikari sedang duduk di samping Kyo. Dengan refleks aku membalikkan badan dan bersembunyi di balik tiang penyanggga lorong. Aku tidak bisa menemui Hikari jika ada Kyo. Dia pasti ingin membalas pukulanku kemarin.

“Kean?”
Aku meoleh, “Rhin? Kenapa bisa di sini?”
Rhin berjalan mendekat ke arahku, “aku ingin menjenguk Hikari. Bibi yang mengantarku.”
“Sekarang masih belum bisa menjenguknya,” ujarku. “Kyo masih di sana.”
Rhin melongok ke arah taman. “Mana? Hikari sendirian.”
“Oh ya?”

Aku berbalik. Dan memang Hikari sendirian lagi. Kyo sudah tidak ada. Ini kesempatan yang baik. Aku segera menoleh ke arah Rhin, ingin mengajaknya.Tetapi dia sudah berlari menuju Hikari. Dengan sedikit kecewa, aku berjalan menyusulnya.

Kulihat Rhin memeluk Hikari dengan gembira. Ketika aku berada di hadapannya, Hikari mendongak. Dia menatapku, kemudian tersenyum. Dengan agak canggung, aku membalas senyumannya. Tetapi sedetik kemudian, Hikari menutup matanya, lalu hampir terjatuh. Beruntung, aku dan Rhin segera menangkapnya.

“Hikari? Hei, bangun!” teriakku.
“Hikari! Banguun! Hikari! Kean. Apa yang harus kita lakukan?”
“Kita bawa ke kamarnya.”

Aku membopong Hikari hingga menuju kamarnya. Rhin mengikutiku dari belakang bersama suster yang ia seret secara paksa. Ketika pintu kamar Hikari dibuka, aku berhenti sejenak. Kyo ada didalam, sedang mengupas apel. Aku mencoba tidak mempedulikannya, dan langgung membaringkan Hikari di atas kasurnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Kyo.
“Dia pingsan,” jawabku.
“Maaf, aku yang bersalah,” ucap Rhin. Dia masih berada di ambang pintu, tidak berani masuk.
“Oh, kau lagi?” respon Kyo.
“Sudahlah, bukan salahnya,” ujarku.
Kyo menatapku sinis. “Lalu salahmu?? Hei, apa tidak bisa, sekali saja dalam hidupmu, tidak membuatnya menderita?!”
“Apa maksudmu?!”
“Kau pikir aku tidak tau?! Kau...”
“Hei!” teriak suster. “Kalau kalian ingin bertengkar, jangan di sini. Cepat keluar!”
“Mereka saja yang keluar,” ucap Kyo sambil menunjukku.
“Oke. Permisi.”

Aku melangkah keluar. Ketika sampai di ambang pintu, aku berbisik kepada Rhin. “Sudahlah.. Hari ini cukup sampai di sini. Aku akan menelpon Karin untuk menjemputmu.”

“Kean? Apa aku terlihat bodoh?” tanyanya.
Sambil menggandeng tangannya, aku menjawab. “Tidak. Dia yang benar-benar bodoh kerena mendepakmu begitu saja.”

###

Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain membaca setiap berkas yang sudah menggunung. Kebanyakan, berkas-berkas itu berisi tuntutan agar aku mundur dari jabatanku. Tetapi ada juga yang menginginkanku tetap bertahan sampai kasus ini sudah dipastikan kebenarannya. Tentu saja jumlah tuntutan seperti itu hanya sedikit, satu berkas.

Baru dua kardus berkas yang sudah kubaca. Tetapi hanya satu berkas yang menarik perhatianku. Berkas ini berasal dari orang kepercayaan Riku. Namanya Cris. Dokumen ini tidak memiliki cacat. Semua angkanya mengandung bukti. Sehingga tidak ada yang ragu bahwa data ini asli. Kecuali aku, tentunya.

Aku meletakkan berkas Cris, kemudian berjalan menuju pintu. Ada seseorang yang mebunyikan bel. Ketika aku mengintip melalui celah kecil yang ada di pintu, ada seorang wanita dengan rambut blonde yang berdiri sambil membawa bungkusan bekal. Dengan malas, aku membukakan pintu untuknya.

“Apa maum...”

PLAK!
Aku memegang pipi kiriku. Rasanya benar-benar panas dan sangat sakit, tentunya. Aku menatapnya dengan mata yang terbuka lebar. “APA SALAHKU?!!”

PLAK!
Giliran pipi kananku yang terkena musibah. Aku memegang kedua pipiku, kemudian mundur selangkah, takut hal yang tidak kuinginkan kembali terjadi. “MERRY! APA YANG SALAH?!”

“Kean, kau benar-benar bodoh! Oh, bukan.. APA KAU TIDAK PUNYA OTAK?!”
“HOI, MEMANGNYA APA SALAHKU?! KAU MENAMPARKU! DUA KALI!”
“DASAR BODOH! KENAPA KAU MEMPERTEMUKAN RHIN DENGAN WUJUD MANUSIANYA?!”
Aku terdiam. “Ba..bagaimana bisa kau tau?”
“Apa kau pikir aku tidak tau siapa Rhin? Dia manek...”

Dengan cepat, aku menarik Merry hingga masuk ke dalam ruanganku. Kemudian kututup pintu, dan menguncinya. Aku berbalik menghadap Merry. Aku bersiaga. Kedua tanganku mengepal kuat.

“Apa kau salah satu dari mereka? Jawab!”
Merry tersenyum simpul. “Mereka siapa? Mannaquin’s Freedom?”
“Ya, kau pasti salah satu dari mereka.”
Merry meletakkan bungkusan bekal di sofaku. “Bagaimana aku menjelaskannya ya? Hmm.. begini.. Aku sama seperti Rhin.”
Kepalan tanganku melonggar. “Maksudmu kau juga manekin? Bagaimana bisa? Itu tidak mungkin!”
“Kau perlu bukti?”
“Bukan.. kupikir tid...”

Aku terbelalak melihat perilaku Merry. Dia melepas mantelnya, kemudian mulai membuka kancing atasnya. Aku segera berlari menyambar mantelnya dan memakaikannya.

“SUDAH KUBILANG, AKU LAKI-LAKI BAIK-BAIK! PAKAI MANTELMU!”
Dengan enggan, Merry memakai mantelnya lagi. “Kau pikir aku tertarik padamu?!”
“Meskipun begitu, aku tidak mau orang lain salah paham!”
“Orang lain? Maksudmu Rhin?”
“Or..orang lain ya orang lain!” bantahku.
“Kean, apa kau tau? Kau sudah melakukan kesalahan besar,” ucap Merry sambil duduk di sofa.
“Apa maksudmu?”

“Jiwa manekin terbuat dari ingatan manusia yang ingin mewujudkan apa yang belum ia dapatkan. Ingatan ini tergantung pada hal yang belum ia dapatkan. Misalnya saat kau berumur 15 tahun, kau tidak bisa mendapat ranking 1. Kau menyesal, dan kau ingin mengulanginya sehingga kau bisa mendapatkan ranking 1. Jadi, ingatan yang ada didalam manekin hanyalah ingatan saat kau berumur 15 tahun. Dalam kasus Rhin, dia berumur 10 tahun.”

Mulutku terbuka lebar saat mendengar penjelasan Merry. Aku tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. “Bagaimana kau tau kalau Rhin berumur 10 tahun?”

“Aku memberikan soal-soal yang hanya bisa dikerjakan oleh seseorang dengan umur-umur tertentu. Rhin hanya bisa menjawab soal yang khusus untuk anak berumur 10 tahun.”
“Begitu rupanya.. Pantas kalau dia benar-benar polos,” ucapku. “Lalu bagaimana selanjutnya?”

“Kemudian manekin hanya membutuhkan jiwa pendonor. Fungsinya untuk menggerakkan seluruh badannya, menghidupkannya sehingga seperti manusia. Dalam hal ini, kaulah jiwa pendonor Rhin. Setelah jiwamu diambil, kau akan mati rasa dan mendapatkan tanda, seperti guratan kecoklatan di bagian tubuh yang terambil jiwanya. Sebetulnya kau tidak 100 persen mati rasa, kau hanya tidak bisa merasakan karena manekin yang mengambil jiwamu yang merasakan. Seperti saat kau tertembak. Rhin yang merasakan sakitnya.”

Kuraba lengan kiri atasku. Aku mengumpat dalam hati karena tidak menyadarinya dari awal. Seharusnya aku tertembak di bagian lain. Setidaknya bukan Rhin yang merasakan sakitnya.

“Ada beberapa peraturan yang tidak boleh dilanggar. Salah satunya, manekin tidak boleh bertemu dengan wujud manusianya. Kau pikir kenapa Hikari terlihat seperti orang yang tidak memiliki nyawa sebelum bertemu dengan Rhin? Apa dia selalu pingsan saat Rhin menyentuhnya?”
“Apa hal buruk akan terjadi?” tanyaku.

“Hikari seperti mayat hidup karena salah satu ingatannya diambil secara paksa. Rhin memiliki ingatan itu. Jika keduanya bersentuhan, maka Hikari akan menyerap ingatannya yang ada di dalam Rhin. Sentuhan pertama, Hikari akan menghisap 20 persen dari ngatan Rhin. Setelah itu, dia pasti mulai melakukan terobosan baru, berbicara atau tersenyum. Sentuhan kedua, mengambil 30 persen dari Rhin. Kau pasti sangat terkejut jika melihatnya, besok. Dia pasti terlihat sembuh total. Tetapi, sebenarnya..”
“Apa? Apa yang akan terjadi?!”
“Ambilkan aku minum dulu!” perintahnya. “Kau pikir sopan, menerima tamu tanpa menyuguhkan sesuatu?!”
“Nanti aku buatkan. Teruskan dulu ceritanya!”
“Kau ini! Cepat buatkan!”

Mau tidak mau aku segera pergi ke dapur dan mengambil minuman kaleng dari kulkas. Kurasa ini sudah cukup. Saat aku kembali, Merry menghilang. Aku menyisir segala penjuru, dan kutemukan pintu ruang kerjaku terbuka. Aku berjalan ke arahnya dan mendapati Merry sedang duduk di kursiku sambil memegang beberapa berkas.

“Kean, kau akan dipecat?”
“Itu urusanku,” jawabku. “Cepat minum dan lanjutkan ceritanya!”
“Oke..”
Merry menenggak habis minuman kaleng itu. Kemudian meletakkannya di dekat tumpukan berkasku. “Legaaa..”
“Sekarang lanjutkan ceritanya!”
“Oke..” ucapnya. “Hikari hanya akan bertahan selama 5 hari. Setelah itu dia akan koma selamanya. Sedangkan Rhin, dia bisa kehilangan kesadarannya selama beberapa menit. Kau akan tau bahwa hal itu bisa mematikan jika dia tidak sadar saat menyebrang jalan. Aku tidak pernah tau cara lain untuk keluar dari masalah ini.”

Aku menutup kedua mataku. Otakku berdenyut-denyut menyakitkan. Aku membuat kacau segalanya. Tidak ada yang bisa kulakukan. Seharusnya aku bertemu dengan Merry lebih cepat. Keadaaannya pasti tidak akan seburuk ini.

“Merry, apa yang harus kulakukan?”
“Sudah kukatakan, aku tidak tau caranya. Selama aku hidup, aku hanya melihat dua pilihan. Rhin yang mati, atau kau yang mati.”
“A..ap..apa maksudmu?”
“Pada umumnya, jika tugas selesai, manekin akan mati. Tetapi jika tugas tidak diselesaikan, ada beberapa aturan. Jika pendonor mati, manekin akan mati. Jika manekin mati, pendonor tetap hidup.”

Merry bangkit dari kursi, kemudian melangkah ke arahku dan menepuk pundakku. “Jadi, jika kau tidak ingin Rhin mati.. Jaga dia dan juga nyawamu.” ucapnya. “Aku pulang dulu. Sisa ceritanya, akan kuceritakan saat bertemu lagi. Oh ya, itu bekal buatanku. Kau harus memakannya. Kalau begitu, sampai jumpa.”

###

Aku tidak bisa tidur semalaman. Banyak hal yang kupikirkan. Terutama masalah Rhin dan Hikari. Bagaimana bisa aku menyelesaikan masalah mereka? Aku tidak ingin mereka berdua menderita. Apalagi kehilangan nyawa.

Apa tidak ada cara lain agar aku, Rhin, dan Hikari tetap hidup? Atau memang salah satu di antara kami harus kehilangan nyawa? Tunggu.. bukankah jika Rhin bisa menyelesaikan tugasnya, mereka berdua akan menghilang selamanya? Entah mengapa aku tidak ingin tugas itu selesai. Seandainya saja ada cara agar mereka bertahan.

“Sudah sampai, Tuan,” ucap supir taxi mengagetkanku.

Aku tersadar dari lamunanku, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku sudah berada di depan gedung perusahaanku. Aku mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada sopir taxi, kemudian keluar.

Sekertarisku memberi pesan kepadaku agar tidak masuk melalui pintu depan karena sedang ada demonstrasi. Kupikir dia bercanda, ternyata benar. Keadaan di depan gedung perusahaan benar-benar kacau. Puluhan karyawanku berkumpul di depan gedung dengan membawa spanduk dan papan-papan dengan tulisan-tulisan menentang korupsi.

Terlintas di pikiranku, jika aku berjalan melalui para demonstran itu dengan santai, bisa jadi, aku tidak akan selamat. Pakaianku tercabik-cabik, atau wajahku penuh lebam, bahkan bisa jadi mereka akan memutilasiku! Tetapi tidak. Mereka tidak melakukannya. Setidaknya sampai 5 menit yang lalu.

Sebuah telur busuk mendarat dengan manis di kepalaku. Tak butuh waktu lama, puluhan telur sudah menghiasi tubuhku. Ditambah dengan tepung terigu, aku benar-benar siap untuk digiling menjadi adonan roti.

Aku tidak melawan. Karena pada kenyataannya aku hanya diam mematung, menunggu semua bahan-bahan pembuat roti itu sudah tidak dilempar lagi. Setidaknya hal ini dapat membuat mereka puas. Mereka pasti bangga karena sudah mempermalukan ‘koruptor’.

Beberapa detik kemudian, ponselku berdering. Melihat siapa yang menelponku, membuatku tersenyum. Bagaimana tidak? Dia yang akan menyelamatkanku dari semua ini.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.
“Bodoh! Telur busuk dan tepung terigu. Kau ingin mencicipinya? Dengan suka rela aku akan berbagi denganmu.”
“Maaf, maaf.. kupikir kau tidak akan semenderita itu. Setidaknya kau tidak perlu bermuka dua.”
“Kau tau? Lebih baik aku bermuka dua daripada diempar telur busuk. Ini benar-benar busuk!”
“Hahaha.. bersabarlah sebentar. Kau tau, aku tidak akan mengecewakanmu.”
Aku tersenyum simpul, “setidaknya jangan terlalu lama. Kau tau, aku tidak suka menunggu.”
“Oke. Kalau begitu, sampai jumpa di hari kemerdekaanku.”
Sambil tertawa kecil, aku menjawab. “Sampai jumpa di hari kemerdekaan kita, Cris.”

###

0 komentar:

Posting Komentar