MANNAQUIN’S
(4th)
“Perfect
bride for..”
###
Ada
kalanya aku tidak mengerti apa yang sudah kulakukan. Tak jarang aku salah mengartikannya.
Sama seperti saat ini.. jangtungku yang mempercepat frekuensi pompaannya,
menyudutkan otakku. Tidak ada yang bisa kulakukan selain memandang bekas
bayangannya yang ada dihadapanku.
Apa
yang salah? Jujur aku tidak mengerti. Apa perlakuanku kasar padanya? Bukan.
Kurasa bukan karena aku berlaku kasar. Tetapi lebih tidak mungkin lagi, kalau
penyebabnya memalingkan wajah dariku karena dia. Lalu? Apa masalahnya? Dan
mengapa saat ini aku merasa sangat bersalah?
Kulangkahkan
kakiku menuju pintu belakang. Kulihat Rhin sedang duduk di ayunan sambil
mendongakkan kepalanya menghadap ke langit. Ekspresinya sudah berubah. Dia sudah
lebih berwarna. Anehnya, beban dipundakku hilang dalam sekejap.
“Rhin?”
panggilku saat menghampirinya.
Dia
tersenyum, “Kean, coba lihat! Awannya berbentuk ikan!” serunya sambil menunjuk
langit.
Aku
menuruti keinginannya. Ya, memang awan itu membentuk ikan. “Hmm..”
“Nah!
Yang itu seperti anjing! Waaaah!”
Aku
berhenti menatap langit, dan beralih kepadanya. Rhin memang tersenyum, bahkan
tertawa lebar. Tetapi aku tidak bisa memungkiri kebenaran dari pemikiranku
bahwa dia sedang berkamuflase. Kuputuskan untuk bersandar di tiang penyangga
ayunan sambil tetap memperhatikannya.
“Kau
lihat? Anjing dalam bentuk awanpun masih tetap lucu!” ucapnya.
“Rhin?”
Dia
menoleh, “ya?”
“Jangan
berpikir macam-macam padaku. Aku...aku hanya merasa perlu menjelaskan. Jadi
tolong dengarkan.”
“Baik,”
jawabnya sambil sedikit menunduk.
Aku
menghirup nafas panjang. “Dia.. yang tadi.. Dia adalah mantan tunanganku.”
Rhin
mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, antara
sedih dan senang. “Tunangan?”
“MANTAN!”
jawabku mantap.
“Mantan?
Tunangan?”
Kurasa
arti tatapannya tadi karena dia tidak mengerti maksud perkataanku. Tetapi apa
mungkin dia benar-benar tidak mengerti? Ketika kulihat raut wajahnya yang
mengambang, membuatku yakin. Dia benar-benar tidak tau apa-apa.
“Baiklah,
aku akan menjelaskan secara singkat.”
“Yeah!”
teriaknya.
“Begini,
ada dua orang. Satu laki-laki, contohnya aku, dan satu perempuan, contohnya
kau. Kedua orang ini, menjalin hubungan. Fase pertama, pertemanan. Menjadi
teman. Paham?”
Rhin
mengangguk, “ya.”
“Oke.
Nah, karena mereka semakin akrab, maka bisa timbul sebuah perasaan. Cinta.”
“Oooh..”
sahutnya. “Kalau begitu.. Kean, apa kita adalah teman? Kurasa kita lebih sering
bertengkar. Jadi apa kita tidak berteman? Kalau kita tidak berteman, tidak
timbul perasaan cinta?”
Aku
mematung mendengar rentetan pertanyaannya. Ini benar-benar pertanyaan yang
tidak kuharapkan. Bukan karena alasan yang aneh-aneh. Tetapi karena aku tidak
tau bagaimana menjawabnya.
“Kean?”
Aku
menatapnya dengan agak gugup. “P..Pikir saja sendiri,” ucapku sambil melangkah
pergi.
Kalau
aku diharuskan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kurasa aku mengerti satu
hal. Kami akan berteman. Aku tidak mungkin bisa terlepas dari tanggung jawabku
terhadap Rhin. Sedangkan Rhin, dia dengan suka rela pergi ke arahku untuk
meminta bantuan. Jadi kurasa tidak ada yang salah dengan kalimat ‘Kami akan
berteman’.
“Kean!”
Aku
berbalik. “Apa?”
Rhin
meremas kedua tangannya. “Siapa namanya?”
“Nama
siapa?”
“Tunanganmu!”
teriaknya.
“MANTAN!”
sahutku. Bagaimana mungkin dia melupakan imbuhan itu?!
“Maaf,”
ucapnya. “Siapa namanya?”
“Yuki,”
jawabku, singkat.
###
Siang
ini aku berjanji kepada Rhin untuk mempertemukannya dengan Hikari. Dia terlihat
sangat gembira. Dia bahkan tidak berhenti menatap kaca dan menggumamkan banyak
pertanyaan.
“Apa
aku mirip dengannya? Apa Hikari cantik? Apa dia suka makan plamir sama
sepertiku? Bagaimana dengan kulitnya? Apa dia perlu perawatan cat sepertiku?
Atau apakah di..”
“Idiot!”
komentarku saat melihatnya di depan kaca. “Mana mungkin Hikari makan plamir!
Dia juga tidak butuh cat untuk merawat kulitnya. Dia adalah manusia, bukan
manekin. Jadi jangan coba-coba menawarkan plamir atau cat kepadanya.”
Rhin
meringis lebar. Kemudian dia membuka isi tasnya dan mengeluarkan dua kaleng
plamir dan tiga kaleng cat dengan warna yang berbeda. “Maaf,” ucapnya.
Aku
hanya bisa menggeleng pelan. Dia benar-benar unik. Kurasa Rhin patut untuk
dilestarikan. Atau dia bisa berguna untuk terapi menahan emosi bagi orang-orang
yang ingin belajar mengendalikan emosi.
“Ayo.
Kalau tidak berangkat sekarang, jadwalku akan berantakan.”
“Baik,”
jawab Rhin.
Pukul
satu tepat, kami berangkat. Selama perjalanan, Rhin tidak berhenti bertanya
tentang setiap benda, pohon, bahkan makanan yang dia lihat. Aku tidak habis
pikir, mengapa Rhin tidak pernah kehabisan pertanyaan? Atau, mengapa Rhin harus
secerewet ini?
“Kean,
kalau yang itu apa? Kenapa harus dijilati?”
Aku
melihat sekilas. “Itu namanya es krim. Cara makannya memang seperti itu. Sudah,
jangan tanya lagi. Aku sedang menyetir!”
“Iya,”
ucapnya.
Rhin
kembali ke posisi yang seharusnya. Dia duduk tenang di sampingku. Aku
melihatnya dengan ekor mataku, lalu tersenyum. Ternyata dia benar-benar
menuruti perkataanku. Saat ini dia diam sambil meremas kedua tangannya.
Tiba-tiba dia mendongak dan menatapku. Spontan sorot mataku kembali ke jalan
yang benar. Entah mengapa kontak mata menjadi salah satu yang kuhindari dari
Rhin, sejak kemarin.
Sayangnya
aku tidak bisa mengendalikan otakku yang tak henti-hentinya menyuruh kedua bola
mataku melirik ke samping. Aku sadar mengapa otakku selalu menyuruhku untuk
melihatnya. Dia cantik, bahkan lebih. Apalagi saat ini dia memakai dress yang
kubeli setelah mampir ke Rumah Sakit kemarin. Dress selutut itu berwarna peach
dengan hiasan renda dibagian atasnya. Oh God, mengapa dia selalu tampil
perfect?
Oh,
iya.. aku lupa kalau dia manekin..
Setengah
jam kemudian, kami sampai di depan Rumah Sakit. Kami menyusuri lorong-lorong
dengan ditemani seorang suster. Suasana di setiap lorong hampir sama. Tenang.
Tak lama, suster itu berhenti di kamar E28.
“Ini
kamarnya, Tuan,” ucapnya.
“Terima
kasih.”
Setelah
suster meninggalkan kami, aku mulai mengetuk pintu. Tetapi tidak ada respon. Berkali-kali
aku mencobanya, tetap tidak ada yang menjawab. Rhin yang tidak sabaran,
langsung membuka pintu. Dan memang benar, kamar itu kosong. Rhin menatapku
dengan salah satu alisnya yang terangkat.
“Mungkin
dia di taman. Kemarin aku juga berbicara dengan ibu Hikari disana.”
Rhin
mengangguk. Dengan langkah cepat kami kembali menyusuri lorong-lorong. Lalu
berbelok ke arah berlawanan untuk menuju taman. Suasananya tergolong sepi,
hanya beberapa pasien yang ada di sini. Salah satunya adalah Hikari. Dia duduk
sendirian di bangku dekat pohon sakura.
Aku
melangkah mendekati Hikari. Tak kusangka, Rhin mendahuluiku. Dia berlari ke
arah Hikari, lalu berhenti tepat di hadapannya. Dengan cepat, aku menyusulnya.
Ketika menatap keduanya, ada sedikit perasaan merinding. Keduanya saling
menatap satu sama lain. Mungkin tidak akan masalah jika mereka saling menatap
dengan perasaan yang suka cita. Tetapi nyatanya, mereka saling menatap dengan
tatapan kosong. Hal ini yang membuatku menyadari satu hal. Wajah mereka hampir mirip!
“Namaku
Rhin. Senang berkenalan denganmu!” seru Rhin sambil menggenggam tangan Hikari.
Tidak
ada respon dari Hikari, persis seperti yang kuduga. Tetapi seperti biasa, Rhin
mengoceh tanpa celah. Dia benar-benar tidak patah semangat. Aku hanya bisa menatap
keduanya bergantian. Tetapi tiba-tiba Hikari pingsan. Rhin sangat panik. Dia
tak henti-hentinya memanggil Hikari. Aku segera memerintah Rhin memanggil
suster. Tetapi ketika Rhin akan pergi, seseorang mencegatnya.
“Tidak
perlu,” katanya.
Aku
mendongak, lalu menatapnya. Aku pernah melihat laki-laki ini. Dia menghampiri
Hikari dan ibunya ketika kami selesai mengobrol kemarin. Namanya Kyo. Sekarang dia
menghampiri Hikari, lalu membawanya pergi tanpa mengucap satu katapun.
Kulihat
Rhin memperhatikan mereka pergi. Ekspresinya campur aduk. Ada perasaan sedih
yang terlihat di wajahnya. Tetapi dalam waktu yang bersamaan wajahnya memerah.
Sesuatu yang belum pernah kulihat. Kualihkan pandanganku kepada Kyo. Kurasa
sikap Rhin berubah karenanya. Dia memang tampan. Tetapi kurasa aku lebih tampan
darinya. Dia tinggi. Tetapi tidak lebih tinggi dari aku. Mungkin aku hanya
kalah pada bagian ini, kumis tipis.
“Rhin?”
panggilku.
Dia
tetap tidak menoleh.
“Rhin?!
Hoi?!”
Rhin
tetap tak bergeming. Masih terpaku dengan sosok yang sudah menghilang dari
pandangannya. Apa dia sehebat itu sehingga bisa membuat Rhin terdiam begitu
lama? Aku tidak habis pikir, mengapa Rhin menyukai tipe yang seperti itu?!
Merasa putus asa dengan tidak adanya hasil dari teriakanku, aku segera menggandeng
tangannya dan mengajaknya pulang.
###
Kuperhatikan
buku sampul coklat yang tergeletak di atas meja kerjaku. Aku ingat saat pertama
kali menerimanya dari Nyonya Tsuki, ibu Hikari. Beliau mengatakan bahwa buku
itu selalu dibawa Hikari. Kurasa buku ini sangat berharga baginya. Tetapi yang
paling mengherankan, mengapa Nyonya Tsuki dengan mudah meminjamkan buku ini
kepadaku? Pasti ada beberapa hal yang beliau ketahui.
Kuraih
buku itu dan mulai membukanya. Di halaman pertama terdapat foto bayi dan beberapa
halaman berikutnya tertempel foto perkembangan Hikari hingga umurnya saat ini.
Tetapi di halaman selanjunya, terdapat satu tulisan besar.
“Love
K?”
Kyo.
Sudah pasti. Dengan sikap Kyo siang ini, dapat kusimpulkan bahwa diantara
keduanya terdapat hubungan yang spesial. Tetapi di halaman selanjutnya,
terdapat banyak foto Kyo yang membelakangi kamera. Hal ini membuatku berpikir
ulang tentang teoriku. Apa keduanya saling mengagumi dari belakang?
Kebanyakan,
foto-foto Kyo yang membelakangi kamera diambil di hari dan tempat yang sama.
Dibuktikan dari jaket baseball biru tua yang dipakainya dan semua latar foto
itu di taman hiburan. Kurasa ini pertama kalinya mereka pergi keluar. Ada satu
foto yang menarik perhatianku. Didalam foto itu terdapat bianglala besar dan di
sampingnya terdapat tulisan Hikari. Love K.
“Apa
dia punya memori dengan Kyo di bianglala ini?”
Ya,
pikirku. Tidak mungkin bianglala ini tidak spesial. Kembali kubalik halaman
buku itu. Foto-foto Kyo tetap sama, membelakangi kamera. Tetapi kali ini latar
dari foto itu berbeda-beda. Ada yang di toko buku, mall, bahkan lapangan
baseball. Kurasa hubungan mereka tidak berjalan dengan baik. Kecuali kalau
Hikari memang lebih suka memotret Kyo dari belakang.
Tetapi
masalah datang di halaman berikutnya. Di sini, di halaman terakhir, hanya ada
foto satu buket bunga dan tulisan Hikari. Dan tulisan Hikari inilah yang
membuat perasaanku campur aduk. Senang sekaligus bingung. Senang karena
akhirnya aku menemukan tujuan yang belum diselesaikan Hikari. Bingung karena
tidak tau bagaimana cara mewujudkannya.
“Being
his bride is my destiny.”
Kututup
buku Hikari, lalu merenung. Bagaimana mungkin aku membuat Rhin menikah dengan
Kyo?! Mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Kalaupun aku harus
memperkenalkan mereka, bagaimana caranya? Aku juga tidak begitu mengenal Kyo!
Tiba-tiba
telepon kantorku berdering.
“Ya?”
ucapku saat menerimanya.
“Tuan,
anda kedatangan tamu. Dia mengaku teman anda, Kusanagi Kyo. Apa anda ingin menemuinya,
Tuan?”
Aku
tersenyum, “ya. Suruh dia menunggu sebentar. Aku akan menemuinya disana.”
“Baik,
Tuan.”
Aku
berdiri dari kursi sambil merapikan dasi dan jasku. Tak lama aku keluar dari
ruanganku. Beberapa orang yang berpapasan denganku sedikit membungkuk dan
memberi salam. Akupun tersenyum dan membalas salam mereka dengan suka cita.
Kecuali salam darinya.
“Selamat
sore, Tuan direktur,” sapanya.
“Sore,”
jawabku, singkat. Lalu melangkah melewatinya.
“Bagaimana
kabar Yuki?” tanyanya.
Aku
berhenti. Bukan untuk menjawab, tetapi untuk mendengarkan ocehannya.
“Kudengar
kau mengusirnya dari rumahmu, kemarin. Apa itu benar?”
Aku
berbalik, lalu menatapnya tanpa ekspresi. “Kakak, oh, kurasa bukan lagi.. Riku,
dengar. Sampai saat ini aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Tetapi
kau bisa memilikinya semaumu, sesuka hatimu. Satu hal yang kuminta, jangan
muncul di hadapanku lagi.”
“Tuan
direktur yang terhormat, sayang sekali bawahanmu ini tidak akan berhenti muncul
di hadapan anda sampai mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya,”
jawabnya. “Nah, kurasa sampai disini pembicaraan kita. Sampai jumpa di ronde
selanjutnya.”
Aku
melihatnya pergi dengan santai tanpa beban. Kurasa dia akan kembali berulah
sampai dia mendapatkan jabatanku. Ini semua karena Karin memberikan seluruh
sahamnya kepadaku, bukan kepada Riku. Meskipun aku tidak ingin menerimanya,
kontrak tetaplah kontrak. Ayah tidak mengizinkanku untuk mengembalikan saham
Karin. Alasannya simpel, Ayah berpikir bahwa aku lebih pantas menjalankan
perusahaan daripada Riku. Dan hal ini yang membuat posisiku serba salah.
“Tuan?”
sapa sekertarisku.
“Ya?”
“Tamu
anda sudah menunggu disana.”
Aku
mengangguk. “Ya. Terima kasih.”
Aku
memasuki ruang tunggu dan mendapati Kyo sedang duduk melamun. Aku berjalan
mendekatinya, lalu duduk berhadapan dengannya. Kyo yang sadar dengan
kehadiranku segera mendongak. Dia menatapku tanpa ekspresi.
“Apa
yang bisa kubantu?” tanyaku.
“Jauhi
Hikari.”
“Alasannya?”
“Tanpa
alasan. Jauhi dia.”
Aku
tersenyum, “kau menyuruhku melakukan sesuatu tanpa alasan. Kalau begitu kau
juga harus melakukan sesuatu untukku tanpa bertanya apapun. Deal?”
“Deal.
Yang terpenting kau harus menjauh dari Hikari.”
“Oke.
Beri aku sedikit waktu untuk berpamitan padanya.”
Kyo
menatapku dengan sinis. “Kubilang, jauhi dia.”
“Hei,
tidak sopan rasanya. Pergi tanpa pamit.”
Kyo
terlihat berpikir keras. Tetapi tak lama dia mengangguk. “Oke. Katakan apa yang
kau inginkan.”
Aku
kembali tersenyum. “Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Besok, di taman hiburan.
Yang perlu kau lakukan adalah menuruti semua keinginannya.”
“Baiklah.”
“Bagus!”
seruku.
“Kalau
begitu, aku permisi dahulu,” ucap Kyo sambil beranjak dari sofa dan pergi
keluar dari ruang tunggu.
Ya,
setidaknya kalau rencanaku ini berjalan dengan baik, maka tugas Rhin akan
selesai. Sekarang tinggal mempersiapkan Rhin untuk hari esok. Semoga saja dia
tidak mengacau.
###
“Kau
ingat semua yang kukatakan kemarin?” tanyaku.
Rhin
mengangguk. “Ya.”
“Baiklah,
aku akan menguji ingatanmu.”
“Baik.”
“Pertama,
apa yang harus kau lakukan?”
“Memperkenalkan
diri dengan sopan,” jawab Rhin.
“Lalu?”
“Ajak
dia bermain. Semua permainan boleh. Yang terpenting bianglala di akhir. Benar,
kan?”
Aku
mengangguk. “Ya.”
“Saat
di bianglala, aku meminta Kyo untuk menikah denganku.”
“100!”
seruku. “Ternyata ingatanmu tidak terlalu payah.”
“Tentu
saja. Dari kemarin kau selalu mengulanginya sampai aku bosan,” ucap Rhin sambil
menggembungkan pipinya.
“Hei,
aku hanya tidak ingin rencanaku gagal.”
Kuhentikan
mobilku tepat di depan taman hiburan. Rhin menoleh ke arahku. Dia meremas kedua
tangannya. Aku tau dia gugup. Tetapi mau tidak mau, dia harus melakukannya.
“Kean,
bagaimana kalau dia menolak?”
Aku
terdiam. Kemungkinan ditolak memang hampir mendekati 100 persen. Tetapi di
antara aku dan Kyo, ada kesepakatan. Kalau dia ternyata tidak memenuhi
keinginan Rhin, maka aku tidak akan menjauh dari Hikari. Meskipun aku tidak tau
alasan Kyo melarangku.
“Semuanya
akan berjalan dengan lancar,” jawabku.
Rhin
kembali menunduk. Kurasa dia benar-benar gugup sekaligus takut. Aku bukan tipe
orang yang dengan mudahnya menghibur orang lain. Jadi aku tidak bisa berbuat
apa-apa untuk saat ini.
“Kean?”
panggil Rhin.
“Ya?”
“Terima
kasih,” ujarnya sambil tersenyum.
Aku
hanya bisa mengangguk lemah tanpa menatap matanya. Ini sungguh menggelikan.
Bagaimana mungkin sampai saat ini aku tidak berani menatap matanya?! Ini bukan
kebiasaanku.
“Kalau
begitu, aku pergi,” pamit Rhin.
“Y..Ya,”
jawabku.
Rhin
keluar dari mobilku dan langsung berlari menuju Kyo yang berdiri di dekat
tempat penjualan tiket. Di dalam mobil aku menghela nafas panjang, berharap
semuanya akan berjalan lancar. Kulihat mereka saling memperkenalkan diri. Rhin
terlihat sangat antusias. Dengan gayanya yang supel, kurasa Kyo yang terlihat dingin,
pasti bisa dilelehkannya. Ya, semoga saja..
Kupikir
tidak ada gunanya aku berada disini. Jadi kunyalakan mesin mobilku, lalu
menginjak pedal gas. Belum lama mobil berjalan, bola mataku sudah melirik ke
spion. Tanpa alasan, aku mencari sosok Rhin. Tentu saja dia sudah menghilang
dari pandangan. Tetapi aku terus mencarinya.
“Idiot!”
teriakku.
Untuk
apa aku mencarinya? Sekarang dia berada di tangan Kyo. Khawatir padanya? Tidak
perlu. Kyo tidak tau bahwa Rhin adalah manekin. Dan Rhin, dia pasti tidak terlalu
ceroboh untuk mengatakan pada Kyo, bahwa dia adalah manekin. Jadi tidak ada
yang perlu dikhawatirkan. Kean, fokus!
“Oke.”
Lebih
baik aku pergi menemui Hikari. Ada beberapa hal yang harus kuketahui dari
Nyonya Tsuki. Dan yang paling penting, Kyo tidak ada di sekitar mereka. Jadi
tidak ada yang mengganggu informanku. Hari ini aku pasti akan mendapatkan
informasi yang mereka tutupi. Dengan semangat yang membara, kuinjak pedal gas.
Berkat
semangatku, aku sampai di Rumah Sakit kurang dari 20 menit. Suasananya masih
sama seperti kemarin. Memang tidak ada yang berubah. Tidak ingin membuang
waktu, aku berjalan menuju taman. Hikari pasti berada di taman. Dan memang
benar. Dia duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Bedanya, hari ini dia
ditemani oleh seorang suster. Aku berjalan mendekatinya. Begitu sampai di
hadapannya, suster yang menemaninya berdiri dan memberi salam padaku.
“Anda
datang lebih awal hari ini,” ucap suster itu.
Aku memiringkan
kepalaku. “Kenapa kau berkata seperti itu?”
“Maaf,
Tuan. Saya adalah suster yang merawat Nona Hikari. Jadi tanpa sadar saya telah
menghafal beberapa kebiasaan penjenguk Nona.”
Aku
hanya bisa mengangguk dan mengiyakan. “Lalu, kau tau dimana Nyonya Tsuki?”
“Beliau
sedang ada keperluan. Tuan Kyo sedang pergi. Jadi saya ditugaskan untuk menjaga
Nona,” tutur suster itu.
“Kau
boleh pergi. Aku akan menemaninya.”
“Bak,
Tuan. Permisi.”
Aku
duduk di samping Hikari setelah suster itu pergi. Kulihat Hikari masih sama
seperti kemarin. Tatapannya tetap kosong. Dan dia sama sekali tidak
menggerakkan badannya. Satu-satunya gerakan yang dilakukannya adalah berkedip.
Saat
ini aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Nyonya Tsuki tidak ada. Artinya
tidak ada informasi yang dapat kukumpulkan darinya. Sedangkan Hikari? Aku tidak
bisa berharap banyak padanya.
Hampir
sepuluh menit aku duduk di sampingnya tanpa mengucap sepatah katapun. Hal ini
membuatku semakin merasa tidak enak. Kalau aku tidak berbicara sama sekali, aku
pasti akan dianggap tidak peduli. Tetapi kalau aku berbicara, aku tidak tau apa
yang harus kubicarakan. Geez, apa yang akan dilakukan Rhin jika dia berada di
posisiku?
“Rhin?
Idiot!” gumamku. “Dari sekian banyak nama, mengapa harus namanya? Apa kau pernah
mengalaminya, Hikari?”
Hikari
diam. Nah, sekarang aku berbicara padanya.
“Aku
tidak harus memikirkanya, bukan? Aku mempunyai kehidupan sendiri. Tetapi saat
dia datang, secara tiba-tiba aku harus berbagi kehidupan dengannya. Jadi aku
tidak harus memikirkannya, kan?”
Hikari
tetap tak bergeming.
“Berbagi
kehidupan secara tiba-tiba membuatku merasa aneh. Mau tidak mau, aku harus
memikirkannya,” ucapku sambil menoleh ke arah Hikari.
Tanpa
kuduga, Hikari menoleh ke arahku, seolah ingin mengoreksi perkataanku.
“Baiklah,
aku memang memikirkannya dengan suka rela. Tetapi apa itu pent..”
“Kean.”
Aku
terdiam. Kurasakan jantungku berdetak lebih cepat. Apa aku tidak salah dengar?
Atau ada orang lain yang memanggilku? Perlahan, aku menoleh ke arah Hikari.
Saat ini dia menghadap lurus ke depan. Kurasa dia baru saja memanggilku.
“Kean,”
panggilnya.
Kali
ini aku memperhatikannya. Dan tidak mungkin aku salah melihat. Hikari
menggerakkan bibirnya dan nama yang dia sebut adalah namaku. Mana mungkin aku
salah. Aku segera mengganti posisiku menjadi berjongkok di hadapannya. Aku
ingin lebih memastikan lagi.
“Hikari?”
Tidak
ada jawaban dari Hikari. Tetapi dia menundukkan kepalanya, sehingga bertatapan
langsung denganku. Aku tidak tau apakah ada keajaiban besar hari ini. Tetapi
hal itu pasti terjadi hari ini. Tatapan Hikari sangat berbeda. Hangat dan
menenangkan. Aku bahkan tidak mengetahui bahwa Hikari memiliki tatapan yang
begitu hangat.
“Kean,”
panggilnya, lagi.
“Ya?”
Hikari
mengulurkan tangannya, lalu meletakkannya di atas kepalaku. Aku sedikit kaget,
tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Perlahan Hikari mengusap kepalaku dengan
lembut. Aku tidak dapat menjelaskan apa yang persis kurasakan saat ini. Aku
sendiri bingung. Entah mengapa aku merasa sangat lega dan tenang, seperti aku
sudah melakukan hal yang benar. Tetapi di lain pihak, aku merasa telah
melakukan kesalahan.
“Hik..”
Tiba-tiba
lenganku ditarik oleh seseorang hingga tubuhku ikut terangkat. Ketika kulihat
orang yang berani memperlakukanku seperti ini, aku hanya bisa terdiam. Kyo?
Bagaimana bisa dia berada di sini? Bukankah dia seharusnya bersama Rhin di
taman hiburan? Tetapi mengapa dia ada di sini? Dan Rhin? Rhin?! Dimana dia?
“Kenapa
kau tidak mendengarkanku?!” teriak Kyo.
Aku
berbalik menatapnya dengan tatapan sinis. “Kenapa kau juga tidak
mendengarkanku?! Dimana dia?!”
“Aku
meninggalk..”
BUK!
Satu
pukulan kuberikan padanya. Dia benar-benar tidak bisa menghargai sesuatu.
Bagaimana mungkin dia berani meninggalkan gadis sepolos Rhin sendirian?! Apa
dia tidak memiliki hati?!
“Beraninya
kau memukulku?!”
“Kau
benar-benar gila! Kurasa aku tidak bisa membiarkannya menikah dengan orang yang
tidak punya hati sepertimu!”
Kyo
mengusap darah di ujung bibirnya. “Ah, ya, teman perempuanmu itu benar-benar
menjengkelkan! Memangnya siapa dia sampai-sampai aku harus menik...”
BUK!
Kuraba
jari-jariku setelah memukulnya. “Kurasa perjanjian kita tidak bisa diteruskan
lagi. Sampai jumpa.”
Dari
awal aku tidak menyukai orang yang ingkar janji. Mereka selalu mengumbar
kata-kata manis di depan, tetapi pada akhirnya mereka akan memberi kejutan
pahit. Aku membenci mereka. Dan aku tidak segan-segan mendepak mereka dari
kehidupanku, meskipun mereka telah mengucap kata maaf ribuan kali.
Tetapi
kali ini, saat Kyo mengingkari perjanjian, aku merasa amarahku kutujukan untuk
hal yang berbeda. Aku tidak terlalu marah saat dia tidak menepati janjinya.
Karena aku juga menyadari bahwa tidak mungkin dia mau menikahi Rhin dengan
alasan perjanjian kami. Yang kupermasalahkan adalah cara dia memperlakukan
Rhin. Bukankah seharusnya laki-laki menjaga perempuan? Atau setidaknya dia
harus menghormati perempuan yang dipercayakan kepadanya. Tetapi Kyo tidak
melakukan keduanya. Dan hal itu yang membuatku marah.
Kupercepat
langkahku menuju lahan parkir. Aku tidak bisa membayangkan hal-hal aneh bahkan
buruk yang bisa dilakukan Rhin. Dia sedang sendirian dan patah hati, kurasa.
Jadi semua hal bisa terjadi padanya. Berulang kali aku berdoa agar Rhin tidak
melompat dari bianglala. Dan semoga saja dia tidak melompat..
Beberapa
menit kemudian aku masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin. Tak ingin
membuang waktu, pedal gas kutekan dengan kuat. Mobilku melaju dengan kecepatan
60 kilometer per jam saat melintasi lahan parkir. Beberapa orang berada di sana
meneriakiku. Tetapi aku tidak peduli. Bagaimanapun caranya, aku harus segera
sampai di hadapan Rhin.
Kurang
dari sepuluh menit, aku sampai di depan taman hiburan. Kuparkir mobilku tepat
di depan pintu masuk, lalu aku segera berlari ke tengah taman hiburan. Setelah
beberapa menit berlari, di hadapanku sudah berdiri kokoh roda besar dengan
kerangkeng-kerangkeng yang dibawanya berputar. Kedua bola mataku menyisir ke
segala penjuru. Setidaknya disini dia bisa kutemukan.
“Rhin?”
Rhin
berdiri di dekat beberapa orang yang sedang antre. Dia menundukkan wajahnya
sambil menatap dua minuman yang dibawanya. Kurasa dia benar-benar patah hati.
Kulangkahkan kakiku untuk mendekat kepadanya. Sambil berjalan, aku berpikir,
apa yang harus kukatakan untuk menghiburnya? Apa aku harus mengatakan bahwa Kyo
memang laki-laki yang tidak bertanggung jawab? Atau aku harus berkata bahwa
masih ada kesempatan lain?
Tanpa
kusadari, bukan hanya aku yang ingin menghampiri Rhin. Mereka..
Bodyguard-bodyguard jelek itu. Aku baru menyadari kehadiran mereka saat mereka
sudah mengepung Rhin. Tanpa pikir panjang aku segera berlari ke arahnya. Entah
apa yang akan terjadi padaku. Mereka bisa saja menembakku dengan pistolnya.
Tetapi aku tidak akan menyerahkan Rhin pada mereka. TIDAK AKAN PERNAH!
“RHIN!!”
###
0 komentar:
Posting Komentar