CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 19 Juli 2012

MANNAQUIN'S (4th)


MANNAQUIN’S (4th)
“Perfect bride for..”

###

Ada kalanya aku tidak mengerti apa yang sudah kulakukan. Tak jarang aku salah mengartikannya. Sama seperti saat ini.. jangtungku yang mempercepat frekuensi pompaannya, menyudutkan otakku. Tidak ada yang bisa kulakukan selain memandang bekas bayangannya yang ada dihadapanku.

Apa yang salah? Jujur aku tidak mengerti. Apa perlakuanku kasar padanya? Bukan. Kurasa bukan karena aku berlaku kasar. Tetapi lebih tidak mungkin lagi, kalau penyebabnya memalingkan wajah dariku karena dia. Lalu? Apa masalahnya? Dan mengapa saat ini aku merasa sangat bersalah?

Kulangkahkan kakiku menuju pintu belakang. Kulihat Rhin sedang duduk di ayunan sambil mendongakkan kepalanya menghadap ke langit. Ekspresinya sudah berubah. Dia sudah lebih berwarna. Anehnya, beban dipundakku hilang dalam sekejap.

“Rhin?” panggilku saat menghampirinya.
Dia tersenyum, “Kean, coba lihat! Awannya berbentuk ikan!” serunya sambil menunjuk langit.
Aku menuruti keinginannya. Ya, memang awan itu membentuk ikan. “Hmm..”
“Nah! Yang itu seperti anjing! Waaaah!”

Aku berhenti menatap langit, dan beralih kepadanya. Rhin memang tersenyum, bahkan tertawa lebar. Tetapi aku tidak bisa memungkiri kebenaran dari pemikiranku bahwa dia sedang berkamuflase. Kuputuskan untuk bersandar di tiang penyangga ayunan sambil tetap memperhatikannya.

“Kau lihat? Anjing dalam bentuk awanpun masih tetap lucu!” ucapnya.
“Rhin?”
Dia menoleh, “ya?”
“Jangan berpikir macam-macam padaku. Aku...aku hanya merasa perlu menjelaskan. Jadi tolong dengarkan.”
“Baik,” jawabnya sambil sedikit menunduk.
Aku menghirup nafas panjang. “Dia.. yang tadi.. Dia adalah mantan tunanganku.”
Rhin mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, antara sedih dan senang. “Tunangan?”
“MANTAN!” jawabku mantap.
“Mantan? Tunangan?”

Kurasa arti tatapannya tadi karena dia tidak mengerti maksud perkataanku. Tetapi apa mungkin dia benar-benar tidak mengerti? Ketika kulihat raut wajahnya yang mengambang, membuatku yakin. Dia benar-benar tidak tau apa-apa.

“Baiklah, aku akan menjelaskan secara singkat.”
“Yeah!” teriaknya.
“Begini, ada dua orang. Satu laki-laki, contohnya aku, dan satu perempuan, contohnya kau. Kedua orang ini, menjalin hubungan. Fase pertama, pertemanan. Menjadi teman. Paham?”
Rhin mengangguk, “ya.”
“Oke. Nah, karena mereka semakin akrab, maka bisa timbul sebuah perasaan. Cinta.”
“Oooh..” sahutnya. “Kalau begitu.. Kean, apa kita adalah teman? Kurasa kita lebih sering bertengkar. Jadi apa kita tidak berteman? Kalau kita tidak berteman, tidak timbul perasaan cinta?”

Aku mematung mendengar rentetan pertanyaannya. Ini benar-benar pertanyaan yang tidak kuharapkan. Bukan karena alasan yang aneh-aneh. Tetapi karena aku tidak tau bagaimana menjawabnya.

“Kean?”
Aku menatapnya dengan agak gugup. “P..Pikir saja sendiri,” ucapku sambil melangkah pergi.

Kalau aku diharuskan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kurasa aku mengerti satu hal. Kami akan berteman. Aku tidak mungkin bisa terlepas dari tanggung jawabku terhadap Rhin. Sedangkan Rhin, dia dengan suka rela pergi ke arahku untuk meminta bantuan. Jadi kurasa tidak ada yang salah dengan kalimat ‘Kami akan berteman’.

“Kean!”
Aku berbalik. “Apa?”
Rhin meremas kedua tangannya. “Siapa namanya?”
“Nama siapa?”
“Tunanganmu!” teriaknya.
“MANTAN!” sahutku. Bagaimana mungkin dia melupakan imbuhan itu?!
“Maaf,” ucapnya. “Siapa namanya?”
“Yuki,” jawabku, singkat.

###

Siang ini aku berjanji kepada Rhin untuk mempertemukannya dengan Hikari. Dia terlihat sangat gembira. Dia bahkan tidak berhenti menatap kaca dan menggumamkan banyak pertanyaan.

“Apa aku mirip dengannya? Apa Hikari cantik? Apa dia suka makan plamir sama sepertiku? Bagaimana dengan kulitnya? Apa dia perlu perawatan cat sepertiku? Atau apakah di..”
“Idiot!” komentarku saat melihatnya di depan kaca. “Mana mungkin Hikari makan plamir! Dia juga tidak butuh cat untuk merawat kulitnya. Dia adalah manusia, bukan manekin. Jadi jangan coba-coba menawarkan plamir atau cat kepadanya.”

Rhin meringis lebar. Kemudian dia membuka isi tasnya dan mengeluarkan dua kaleng plamir dan tiga kaleng cat dengan warna yang berbeda. “Maaf,” ucapnya.

Aku hanya bisa menggeleng pelan. Dia benar-benar unik. Kurasa Rhin patut untuk dilestarikan. Atau dia bisa berguna untuk terapi menahan emosi bagi orang-orang yang ingin belajar mengendalikan emosi.

“Ayo. Kalau tidak berangkat sekarang, jadwalku akan berantakan.”
“Baik,” jawab Rhin.

Pukul satu tepat, kami berangkat. Selama perjalanan, Rhin tidak berhenti bertanya tentang setiap benda, pohon, bahkan makanan yang dia lihat. Aku tidak habis pikir, mengapa Rhin tidak pernah kehabisan pertanyaan? Atau, mengapa Rhin harus secerewet ini?

“Kean, kalau yang itu apa? Kenapa harus dijilati?”
Aku melihat sekilas. “Itu namanya es krim. Cara makannya memang seperti itu. Sudah, jangan tanya lagi. Aku sedang menyetir!”
“Iya,” ucapnya.

Rhin kembali ke posisi yang seharusnya. Dia duduk tenang di sampingku. Aku melihatnya dengan ekor mataku, lalu tersenyum. Ternyata dia benar-benar menuruti perkataanku. Saat ini dia diam sambil meremas kedua tangannya. Tiba-tiba dia mendongak dan menatapku. Spontan sorot mataku kembali ke jalan yang benar. Entah mengapa kontak mata menjadi salah satu yang kuhindari dari Rhin, sejak kemarin.

Sayangnya aku tidak bisa mengendalikan otakku yang tak henti-hentinya menyuruh kedua bola mataku melirik ke samping. Aku sadar mengapa otakku selalu menyuruhku untuk melihatnya. Dia cantik, bahkan lebih. Apalagi saat ini dia memakai dress yang kubeli setelah mampir ke Rumah Sakit kemarin. Dress selutut itu berwarna peach dengan hiasan renda dibagian atasnya. Oh God, mengapa dia selalu tampil perfect?

Oh, iya.. aku lupa kalau dia manekin..

Setengah jam kemudian, kami sampai di depan Rumah Sakit. Kami menyusuri lorong-lorong dengan ditemani seorang suster. Suasana di setiap lorong hampir sama. Tenang. Tak lama, suster itu berhenti di kamar E28.

“Ini kamarnya, Tuan,” ucapnya.
“Terima kasih.”

Setelah suster meninggalkan kami, aku mulai mengetuk pintu. Tetapi tidak ada respon. Berkali-kali aku mencobanya, tetap tidak ada yang menjawab. Rhin yang tidak sabaran, langsung membuka pintu. Dan memang benar, kamar itu kosong. Rhin menatapku dengan salah satu alisnya yang terangkat.

“Mungkin dia di taman. Kemarin aku juga berbicara dengan ibu Hikari disana.”

Rhin mengangguk. Dengan langkah cepat kami kembali menyusuri lorong-lorong. Lalu berbelok ke arah berlawanan untuk menuju taman. Suasananya tergolong sepi, hanya beberapa pasien yang ada di sini. Salah satunya adalah Hikari. Dia duduk sendirian di bangku dekat pohon sakura.

Aku melangkah mendekati Hikari. Tak kusangka, Rhin mendahuluiku. Dia berlari ke arah Hikari, lalu berhenti tepat di hadapannya. Dengan cepat, aku menyusulnya. Ketika menatap keduanya, ada sedikit perasaan merinding. Keduanya saling menatap satu sama lain. Mungkin tidak akan masalah jika mereka saling menatap dengan perasaan yang suka cita. Tetapi nyatanya, mereka saling menatap dengan tatapan kosong. Hal ini yang membuatku menyadari satu hal. Wajah mereka hampir mirip!

“Namaku Rhin. Senang berkenalan denganmu!” seru Rhin sambil menggenggam tangan Hikari.

Tidak ada respon dari Hikari, persis seperti yang kuduga. Tetapi seperti biasa, Rhin mengoceh tanpa celah. Dia benar-benar tidak patah semangat. Aku hanya bisa menatap keduanya bergantian. Tetapi tiba-tiba Hikari pingsan. Rhin sangat panik. Dia tak henti-hentinya memanggil Hikari. Aku segera memerintah Rhin memanggil suster. Tetapi ketika Rhin akan pergi, seseorang mencegatnya.

“Tidak perlu,” katanya.

Aku mendongak, lalu menatapnya. Aku pernah melihat laki-laki ini. Dia menghampiri Hikari dan ibunya ketika kami selesai mengobrol kemarin. Namanya Kyo. Sekarang dia menghampiri Hikari, lalu membawanya pergi tanpa mengucap satu katapun.

Kulihat Rhin memperhatikan mereka pergi. Ekspresinya campur aduk. Ada perasaan sedih yang terlihat di wajahnya. Tetapi dalam waktu yang bersamaan wajahnya memerah. Sesuatu yang belum pernah kulihat. Kualihkan pandanganku kepada Kyo. Kurasa sikap Rhin berubah karenanya. Dia memang tampan. Tetapi kurasa aku lebih tampan darinya. Dia tinggi. Tetapi tidak lebih tinggi dari aku. Mungkin aku hanya kalah pada bagian ini, kumis tipis.

“Rhin?” panggilku.
Dia tetap tidak menoleh.
“Rhin?! Hoi?!”

Rhin tetap tak bergeming. Masih terpaku dengan sosok yang sudah menghilang dari pandangannya. Apa dia sehebat itu sehingga bisa membuat Rhin terdiam begitu lama? Aku tidak habis pikir, mengapa Rhin menyukai tipe yang seperti itu?! Merasa putus asa dengan tidak adanya hasil dari teriakanku, aku segera menggandeng tangannya dan mengajaknya pulang.

###

Kuperhatikan buku sampul coklat yang tergeletak di atas meja kerjaku. Aku ingat saat pertama kali menerimanya dari Nyonya Tsuki, ibu Hikari. Beliau mengatakan bahwa buku itu selalu dibawa Hikari. Kurasa buku ini sangat berharga baginya. Tetapi yang paling mengherankan, mengapa Nyonya Tsuki dengan mudah meminjamkan buku ini kepadaku? Pasti ada beberapa hal yang beliau ketahui.

Kuraih buku itu dan mulai membukanya. Di halaman pertama terdapat foto bayi dan beberapa halaman berikutnya tertempel foto perkembangan Hikari hingga umurnya saat ini. Tetapi di halaman selanjunya, terdapat satu tulisan besar.

“Love K?”

Kyo. Sudah pasti. Dengan sikap Kyo siang ini, dapat kusimpulkan bahwa diantara keduanya terdapat hubungan yang spesial. Tetapi di halaman selanjutnya, terdapat banyak foto Kyo yang membelakangi kamera. Hal ini membuatku berpikir ulang tentang teoriku. Apa keduanya saling mengagumi dari belakang?

Kebanyakan, foto-foto Kyo yang membelakangi kamera diambil di hari dan tempat yang sama. Dibuktikan dari jaket baseball biru tua yang dipakainya dan semua latar foto itu di taman hiburan. Kurasa ini pertama kalinya mereka pergi keluar. Ada satu foto yang menarik perhatianku. Didalam foto itu terdapat bianglala besar dan di sampingnya terdapat tulisan Hikari. Love K.

“Apa dia punya memori dengan Kyo di bianglala ini?”

Ya, pikirku. Tidak mungkin bianglala ini tidak spesial. Kembali kubalik halaman buku itu. Foto-foto Kyo tetap sama, membelakangi kamera. Tetapi kali ini latar dari foto itu berbeda-beda. Ada yang di toko buku, mall, bahkan lapangan baseball. Kurasa hubungan mereka tidak berjalan dengan baik. Kecuali kalau Hikari memang lebih suka memotret Kyo dari belakang.

Tetapi masalah datang di halaman berikutnya. Di sini, di halaman terakhir, hanya ada foto satu buket bunga dan tulisan Hikari. Dan tulisan Hikari inilah yang membuat perasaanku campur aduk. Senang sekaligus bingung. Senang karena akhirnya aku menemukan tujuan yang belum diselesaikan Hikari. Bingung karena tidak tau bagaimana cara mewujudkannya.

“Being his bride is my destiny.”

Kututup buku Hikari, lalu merenung. Bagaimana mungkin aku membuat Rhin menikah dengan Kyo?! Mereka bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Kalaupun aku harus memperkenalkan mereka, bagaimana caranya? Aku juga tidak begitu mengenal Kyo!

Tiba-tiba telepon kantorku berdering.

“Ya?” ucapku saat menerimanya.
“Tuan, anda kedatangan tamu. Dia mengaku teman anda, Kusanagi Kyo. Apa anda ingin menemuinya, Tuan?”
Aku tersenyum, “ya. Suruh dia menunggu sebentar. Aku akan menemuinya disana.”
“Baik, Tuan.”

Aku berdiri dari kursi sambil merapikan dasi dan jasku. Tak lama aku keluar dari ruanganku. Beberapa orang yang berpapasan denganku sedikit membungkuk dan memberi salam. Akupun tersenyum dan membalas salam mereka dengan suka cita. Kecuali salam darinya.

“Selamat sore, Tuan direktur,” sapanya.
“Sore,” jawabku, singkat. Lalu melangkah melewatinya.
“Bagaimana kabar Yuki?” tanyanya.
Aku berhenti. Bukan untuk menjawab, tetapi untuk mendengarkan ocehannya.
“Kudengar kau mengusirnya dari rumahmu, kemarin. Apa itu benar?”

Aku berbalik, lalu menatapnya tanpa ekspresi. “Kakak, oh, kurasa bukan lagi.. Riku, dengar. Sampai saat ini aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Tetapi kau bisa memilikinya semaumu, sesuka hatimu. Satu hal yang kuminta, jangan muncul di hadapanku lagi.”

“Tuan direktur yang terhormat, sayang sekali bawahanmu ini tidak akan berhenti muncul di hadapan anda sampai mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya,” jawabnya. “Nah, kurasa sampai disini pembicaraan kita. Sampai jumpa di ronde selanjutnya.”

Aku melihatnya pergi dengan santai tanpa beban. Kurasa dia akan kembali berulah sampai dia mendapatkan jabatanku. Ini semua karena Karin memberikan seluruh sahamnya kepadaku, bukan kepada Riku. Meskipun aku tidak ingin menerimanya, kontrak tetaplah kontrak. Ayah tidak mengizinkanku untuk mengembalikan saham Karin. Alasannya simpel, Ayah berpikir bahwa aku lebih pantas menjalankan perusahaan daripada Riku. Dan hal ini yang membuat posisiku serba salah.

“Tuan?” sapa sekertarisku.
“Ya?”
“Tamu anda sudah menunggu disana.”
Aku mengangguk. “Ya. Terima kasih.”

Aku memasuki ruang tunggu dan mendapati Kyo sedang duduk melamun. Aku berjalan mendekatinya, lalu duduk berhadapan dengannya. Kyo yang sadar dengan kehadiranku segera mendongak. Dia menatapku tanpa ekspresi.

“Apa yang bisa kubantu?” tanyaku.
“Jauhi Hikari.”
“Alasannya?”
“Tanpa alasan. Jauhi dia.”
Aku tersenyum, “kau menyuruhku melakukan sesuatu tanpa alasan. Kalau begitu kau juga harus melakukan sesuatu untukku tanpa bertanya apapun. Deal?”
“Deal. Yang terpenting kau harus menjauh dari Hikari.”
“Oke. Beri aku sedikit waktu untuk berpamitan padanya.”
Kyo menatapku dengan sinis. “Kubilang, jauhi dia.”
“Hei, tidak sopan rasanya. Pergi tanpa pamit.”
Kyo terlihat berpikir keras. Tetapi tak lama dia mengangguk. “Oke. Katakan apa yang kau inginkan.”
Aku kembali tersenyum. “Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Besok, di taman hiburan. Yang perlu kau lakukan adalah menuruti semua keinginannya.”
“Baiklah.”
“Bagus!” seruku.
“Kalau begitu, aku permisi dahulu,” ucap Kyo sambil beranjak dari sofa dan pergi keluar dari ruang tunggu.

Ya, setidaknya kalau rencanaku ini berjalan dengan baik, maka tugas Rhin akan selesai. Sekarang tinggal mempersiapkan Rhin untuk hari esok. Semoga saja dia tidak mengacau.

###

“Kau ingat semua yang kukatakan kemarin?” tanyaku.
Rhin mengangguk. “Ya.”
“Baiklah, aku akan menguji ingatanmu.”
“Baik.”
“Pertama, apa yang harus kau lakukan?”
“Memperkenalkan diri dengan sopan,” jawab Rhin.
“Lalu?”
“Ajak dia bermain. Semua permainan boleh. Yang terpenting bianglala di akhir. Benar, kan?”
Aku mengangguk. “Ya.”
“Saat di bianglala, aku meminta Kyo untuk menikah denganku.”
“100!” seruku. “Ternyata ingatanmu tidak terlalu payah.”
“Tentu saja. Dari kemarin kau selalu mengulanginya sampai aku bosan,” ucap Rhin sambil menggembungkan pipinya.
“Hei, aku hanya tidak ingin rencanaku gagal.”

Kuhentikan mobilku tepat di depan taman hiburan. Rhin menoleh ke arahku. Dia meremas kedua tangannya. Aku tau dia gugup. Tetapi mau tidak mau, dia harus melakukannya.

“Kean, bagaimana kalau dia menolak?”

Aku terdiam. Kemungkinan ditolak memang hampir mendekati 100 persen. Tetapi di antara aku dan Kyo, ada kesepakatan. Kalau dia ternyata tidak memenuhi keinginan Rhin, maka aku tidak akan menjauh dari Hikari. Meskipun aku tidak tau alasan Kyo melarangku.

“Semuanya akan berjalan dengan lancar,” jawabku.

Rhin kembali menunduk. Kurasa dia benar-benar gugup sekaligus takut. Aku bukan tipe orang yang dengan mudahnya menghibur orang lain. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.

“Kean?” panggil Rhin.
“Ya?”
“Terima kasih,” ujarnya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa mengangguk lemah tanpa menatap matanya. Ini sungguh menggelikan. Bagaimana mungkin sampai saat ini aku tidak berani menatap matanya?! Ini bukan kebiasaanku.

“Kalau begitu, aku pergi,” pamit Rhin.
“Y..Ya,” jawabku.

Rhin keluar dari mobilku dan langsung berlari menuju Kyo yang berdiri di dekat tempat penjualan tiket. Di dalam mobil aku menghela nafas panjang, berharap semuanya akan berjalan lancar. Kulihat mereka saling memperkenalkan diri. Rhin terlihat sangat antusias. Dengan gayanya yang supel, kurasa Kyo yang terlihat dingin, pasti bisa dilelehkannya. Ya, semoga saja..

Kupikir tidak ada gunanya aku berada disini. Jadi kunyalakan mesin mobilku, lalu menginjak pedal gas. Belum lama mobil berjalan, bola mataku sudah melirik ke spion. Tanpa alasan, aku mencari sosok Rhin. Tentu saja dia sudah menghilang dari pandangan. Tetapi aku terus mencarinya.

“Idiot!” teriakku.

Untuk apa aku mencarinya? Sekarang dia berada di tangan Kyo. Khawatir padanya? Tidak perlu. Kyo tidak tau bahwa Rhin adalah manekin. Dan Rhin, dia pasti tidak terlalu ceroboh untuk mengatakan pada Kyo, bahwa dia adalah manekin. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kean, fokus!

“Oke.”

Lebih baik aku pergi menemui Hikari. Ada beberapa hal yang harus kuketahui dari Nyonya Tsuki. Dan yang paling penting, Kyo tidak ada di sekitar mereka. Jadi tidak ada yang mengganggu informanku. Hari ini aku pasti akan mendapatkan informasi yang mereka tutupi. Dengan semangat yang membara, kuinjak pedal gas.

Berkat semangatku, aku sampai di Rumah Sakit kurang dari 20 menit. Suasananya masih sama seperti kemarin. Memang tidak ada yang berubah. Tidak ingin membuang waktu, aku berjalan menuju taman. Hikari pasti berada di taman. Dan memang benar. Dia duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Bedanya, hari ini dia ditemani oleh seorang suster. Aku berjalan mendekatinya. Begitu sampai di hadapannya, suster yang menemaninya berdiri dan memberi salam padaku.

“Anda datang lebih awal hari ini,” ucap suster itu.
Aku memiringkan kepalaku. “Kenapa kau berkata seperti itu?”
“Maaf, Tuan. Saya adalah suster yang merawat Nona Hikari. Jadi tanpa sadar saya telah menghafal beberapa kebiasaan penjenguk Nona.”
Aku hanya bisa mengangguk dan mengiyakan. “Lalu, kau tau dimana Nyonya Tsuki?”
“Beliau sedang ada keperluan. Tuan Kyo sedang pergi. Jadi saya ditugaskan untuk menjaga Nona,” tutur suster itu.
“Kau boleh pergi. Aku akan menemaninya.”
“Bak, Tuan. Permisi.”

Aku duduk di samping Hikari setelah suster itu pergi. Kulihat Hikari masih sama seperti kemarin. Tatapannya tetap kosong. Dan dia sama sekali tidak menggerakkan badannya. Satu-satunya gerakan yang dilakukannya adalah berkedip.

Saat ini aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Nyonya Tsuki tidak ada. Artinya tidak ada informasi yang dapat kukumpulkan darinya. Sedangkan Hikari? Aku tidak bisa berharap banyak padanya.

Hampir sepuluh menit aku duduk di sampingnya tanpa mengucap sepatah katapun. Hal ini membuatku semakin merasa tidak enak. Kalau aku tidak berbicara sama sekali, aku pasti akan dianggap tidak peduli. Tetapi kalau aku berbicara, aku tidak tau apa yang harus kubicarakan. Geez, apa yang akan dilakukan Rhin jika dia berada di posisiku?

“Rhin? Idiot!” gumamku. “Dari sekian banyak nama, mengapa harus namanya? Apa kau pernah mengalaminya, Hikari?”
Hikari diam. Nah, sekarang aku berbicara padanya.
“Aku tidak harus memikirkanya, bukan? Aku mempunyai kehidupan sendiri. Tetapi saat dia datang, secara tiba-tiba aku harus berbagi kehidupan dengannya. Jadi aku tidak harus memikirkannya, kan?”
Hikari tetap tak bergeming.
“Berbagi kehidupan secara tiba-tiba membuatku merasa aneh. Mau tidak mau, aku harus memikirkannya,” ucapku sambil menoleh ke arah Hikari.
Tanpa kuduga, Hikari menoleh ke arahku, seolah ingin mengoreksi perkataanku.
“Baiklah, aku memang memikirkannya dengan suka rela. Tetapi apa itu pent..”
“Kean.”

Aku terdiam. Kurasakan jantungku berdetak lebih cepat. Apa aku tidak salah dengar? Atau ada orang lain yang memanggilku? Perlahan, aku menoleh ke arah Hikari. Saat ini dia menghadap lurus ke depan. Kurasa dia baru saja memanggilku.

“Kean,” panggilnya.

Kali ini aku memperhatikannya. Dan tidak mungkin aku salah melihat. Hikari menggerakkan bibirnya dan nama yang dia sebut adalah namaku. Mana mungkin aku salah. Aku segera mengganti posisiku menjadi berjongkok di hadapannya. Aku ingin lebih memastikan lagi.

“Hikari?”

Tidak ada jawaban dari Hikari. Tetapi dia menundukkan kepalanya, sehingga bertatapan langsung denganku. Aku tidak tau apakah ada keajaiban besar hari ini. Tetapi hal itu pasti terjadi hari ini. Tatapan Hikari sangat berbeda. Hangat dan menenangkan. Aku bahkan tidak mengetahui bahwa Hikari memiliki tatapan yang begitu hangat.

“Kean,” panggilnya, lagi.
“Ya?”

Hikari mengulurkan tangannya, lalu meletakkannya di atas kepalaku. Aku sedikit kaget, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Perlahan Hikari mengusap kepalaku dengan lembut. Aku tidak dapat menjelaskan apa yang persis kurasakan saat ini. Aku sendiri bingung. Entah mengapa aku merasa sangat lega dan tenang, seperti aku sudah melakukan hal yang benar. Tetapi di lain pihak, aku merasa telah melakukan kesalahan.

“Hik..”

Tiba-tiba lenganku ditarik oleh seseorang hingga tubuhku ikut terangkat. Ketika kulihat orang yang berani memperlakukanku seperti ini, aku hanya bisa terdiam. Kyo? Bagaimana bisa dia berada di sini? Bukankah dia seharusnya bersama Rhin di taman hiburan? Tetapi mengapa dia ada di sini? Dan Rhin? Rhin?! Dimana dia?

“Kenapa kau tidak mendengarkanku?!” teriak Kyo.
Aku berbalik menatapnya dengan tatapan sinis. “Kenapa kau juga tidak mendengarkanku?! Dimana dia?!”
“Aku meninggalk..”

BUK!
Satu pukulan kuberikan padanya. Dia benar-benar tidak bisa menghargai sesuatu. Bagaimana mungkin dia berani meninggalkan gadis sepolos Rhin sendirian?! Apa dia tidak memiliki hati?!

“Beraninya kau memukulku?!”
“Kau benar-benar gila! Kurasa aku tidak bisa membiarkannya menikah dengan orang yang tidak punya hati sepertimu!”
Kyo mengusap darah di ujung bibirnya. “Ah, ya, teman perempuanmu itu benar-benar menjengkelkan! Memangnya siapa dia sampai-sampai aku harus menik...”

BUK!

Kuraba jari-jariku setelah memukulnya. “Kurasa perjanjian kita tidak bisa diteruskan lagi. Sampai jumpa.”

Dari awal aku tidak menyukai orang yang ingkar janji. Mereka selalu mengumbar kata-kata manis di depan, tetapi pada akhirnya mereka akan memberi kejutan pahit. Aku membenci mereka. Dan aku tidak segan-segan mendepak mereka dari kehidupanku, meskipun mereka telah mengucap kata maaf ribuan kali.

Tetapi kali ini, saat Kyo mengingkari perjanjian, aku merasa amarahku kutujukan untuk hal yang berbeda. Aku tidak terlalu marah saat dia tidak menepati janjinya. Karena aku juga menyadari bahwa tidak mungkin dia mau menikahi Rhin dengan alasan perjanjian kami. Yang kupermasalahkan adalah cara dia memperlakukan Rhin. Bukankah seharusnya laki-laki menjaga perempuan? Atau setidaknya dia harus menghormati perempuan yang dipercayakan kepadanya. Tetapi Kyo tidak melakukan keduanya. Dan hal itu yang membuatku marah.

Kupercepat langkahku menuju lahan parkir. Aku tidak bisa membayangkan hal-hal aneh bahkan buruk yang bisa dilakukan Rhin. Dia sedang sendirian dan patah hati, kurasa. Jadi semua hal bisa terjadi padanya. Berulang kali aku berdoa agar Rhin tidak melompat dari bianglala. Dan semoga saja dia tidak melompat..

Beberapa menit kemudian aku masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin. Tak ingin membuang waktu, pedal gas kutekan dengan kuat. Mobilku melaju dengan kecepatan 60 kilometer per jam saat melintasi lahan parkir. Beberapa orang berada di sana meneriakiku. Tetapi aku tidak peduli. Bagaimanapun caranya, aku harus segera sampai di hadapan Rhin.

Kurang dari sepuluh menit, aku sampai di depan taman hiburan. Kuparkir mobilku tepat di depan pintu masuk, lalu aku segera berlari ke tengah taman hiburan. Setelah beberapa menit berlari, di hadapanku sudah berdiri kokoh roda besar dengan kerangkeng-kerangkeng yang dibawanya berputar. Kedua bola mataku menyisir ke segala penjuru. Setidaknya disini dia bisa kutemukan.

“Rhin?”

Rhin berdiri di dekat beberapa orang yang sedang antre. Dia menundukkan wajahnya sambil menatap dua minuman yang dibawanya. Kurasa dia benar-benar patah hati. Kulangkahkan kakiku untuk mendekat kepadanya. Sambil berjalan, aku berpikir, apa yang harus kukatakan untuk menghiburnya? Apa aku harus mengatakan bahwa Kyo memang laki-laki yang tidak bertanggung jawab? Atau aku harus berkata bahwa masih ada kesempatan lain?

Tanpa kusadari, bukan hanya aku yang ingin menghampiri Rhin. Mereka.. Bodyguard-bodyguard jelek itu. Aku baru menyadari kehadiran mereka saat mereka sudah mengepung Rhin. Tanpa pikir panjang aku segera berlari ke arahnya. Entah apa yang akan terjadi padaku. Mereka bisa saja menembakku dengan pistolnya. Tetapi aku tidak akan menyerahkan Rhin pada mereka. TIDAK AKAN PERNAH!

“RHIN!!”

###

0 komentar:

Posting Komentar