“Suatu
tempat yang kosong bisa menjadi terisi karena ada tempat lain yang
dikosongkan.”
###
Ada
kalanya sesuatu yang disembunyikan, tetap harus tersembunyi. Tetapi sering
kali, hal yang tersembunyi itu malah mencuat ke permukaan tanpa aba-aba. Dan
inilah yang terjadi padaku. Rhin seharusnya tersembunyi atau jauh dari segala
sesuatu yang berhubungan dengan kehidupanku. Sekarang, hal itu hanyalah mimpi.
Aku
tidak memiliki maksud lain selain tidak ingin seorangpun tau tentang Rhin. Aku
tidak bisa membayangkan bahwa orang-orang terdekatku mengira aku gila. Well,
mana ada orang yang percaya bahwa Rhin yang terlihat seperti wanita idaman
setiap pria, sesungguhnya adalah manekin.
“AAAAA!!”
Meskipun
aku ingin menyembunyikan Rhin dari mereka, tetapi saat ini, aku benar-benar
tertangkap basah. Dan yang paling menyebalkan, orang itu yang memergokiku. Saat
ini dia sedang berjongkok di samping Rhin sambil mengusap kepalanya.
“Jadi,
gadis ini yang kau sembunyikan?” tanyanya.
“Ini
urusanku. Kau tidak perlu ikut campur,” jawabku. “Rhin? Kau baik-baik saja?”
Agak
lemah, Rhin mengangguk. “Ya.”
“Ada
yang terjadi?” tanyaku.
“It..itu”
ucap Rhin terbata-bata sambil menunjuk ke dekat bathtub.
“Apa
mksudmu?!”
“Ci..cic..cicak!”
jawab Rhin, histeris.
“KAU
MENJERIT HANYA KARENA SEEKOR CICAK?!” teriakku.
“Kean!
Kau memang benar-benar tidak tau cara memperlakukan wanita!” seru tamu tak
diundang itu.
“Diam.”
Aku
keluar dari kamar mandi, lalu berjalan menyusuri kamar menuju ruang tengah.
Kuhempaskan tubuhku di atas sofa. Kepalaku benar-benar pusing. Sekarang,
keberadaan Rhin sudah terbongkar. Dan yang menyebabkan hal itu adalah seekor
cicak. Biar kuulangi, SE-E-KOR CI-CAK. Aku tidak habis pikir bahwa cicak bisa
membongkar rahasia yang kau tutupi.
“Kean?
Kau marah?” tanya Rhin di ambang pintu kamar.
“Anakku
tidak mungkin marah terhadapmu,” sahut tamu tak diundang itu.
“Maaf?
Kean adalah anak anda Nyonya?” tanya Rhin.
“Ya,
Kean adalah anak keduaku.”
Well,
aku memang anaknya secara biologis. Tidak secara psikologis. Kedua orang tuaku
bercerai saat aku berumur 5 tahun. Ayah yang membawaku. Jadi sejak saat itu aku
tidak pernah melihat ibu biologisku. Selain itu, ayah juga mengajarkanku untuk
membencinya.
“Perkenalkan,
namaku Karin.”
“Ah,
nama saya Rhin.”
“Kau
tidak perlu berkata seformal itu. Anggap aku ini temanmu. Aku masih terlihat
muda, kan?”
Nah,
nah.. Hal itu adalah salah satu alasan mengapa aku membencinya. Karena dia
masih terlihat muda di umurnya yang menginjak 40 tahunan. Ayah selalu mengatakan
bahwa Karin suka bergonta-ganti pasangan. Itu sebabnya mereka berpisah.
“Kalau
kalian sudah selesai ngobrol, sebaiknya kau keluar dari rumahku.”
“Kean,
kau kasar sekali pada ibumu,” ucap Rhin.
Karin
tersenyum, “tak apa, Rhin. Aku sudah terbiasa.”
“Tapi
Kean tidak seharusnya...”
“Kalau
kau memang tidak mau keluar, aku saja yang keluar,” seruku sambil berdiri dari
sofa.
“Baiklah,
Kean. Terserah kau saja,” ucap Karin. “Nah, Rhin.. Sampai jumpa lagi.”
Karin
pergi meninggalkan kami berdua. Ketika sampai di depan pintu, dia berbalik. Dia
tersenyum kepadaku, lalu menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Aku tidak tau
apa yang akan dia lakukan terhadap Rhin. Tetapi aku tau, dia tidak akan
membocorkan informasi tentang Rhin.
“Kean,
boleh aku tanya sesuatu?”
“Tidak.
Cepat pergi tidur!” ucapku sambil berjalan menuju kamar.
“Aku
tidak bisa tidur,” ujar Rhin.
“Insomnia?”
tanyaku.
“Bukan.
Aku benar-benar tidak bisa tidur.”
Aku
berbalik, menghadap Rhin. “Lalu apa yang ingin kau lakukan? Main game? Nonton
televisi?”
“Aku
ingin melihatmu tidur.”
“Apa?!
Kau sudah gila?!”
“Err-,
aku suka melihat wajahmu saat tidur. Tenang dan damai,” ucapnya.
Aku
terdiam. Dia menyindirku atau mengatakan hal yang kurang dariku secara
terang-terangan? Dia sama menyebalkannya dengan Karin. Apa wanita memang selalu
menyebalkan? Atau semua wanita yang berada di dekatku adalah wanita yang
menyebalkan? Kalau hal itu benar, berarti aku memang menerima kutukan turun
temurun dari kakek buyutnya buyut-buyutku.
“Kean?
Bolehkah?”
Aku
masuk ke dalam kamarku, kemudian berbalik. “Tidak! Selamat malam!” ucapku
sambil menutup pintu.
###
Sinar
mentari merayap ke wajahku. Aku mengerjapkan kedua mataku sambil berusaha
bangun. Kamarku terlihat sangat tenang walaupun sedikit berantakan akibat
beberapa bajuku berceceran di lantai semenjak kejadian kemarin malam. Aku belum
sempat merapikannya karena moodku sedang tidak baik.
Aku
bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Senang sekali rasanya karena
bisa melakukan aktifitas rutinku. Cuci muka lalu sikat gigi. Seperti tanpa
beban. Tenang dan damai.
Aku
keluar dari kamar mandi, lalu merapikan semua bajuku yang tergeletak di lantai.
Kulipat dan kumasukkan ke dalam lemari. Setelah selesai, aku keluar dari kamar
dengan senyum yang mengembang. Tetapi senyum itu segera lenyap ketika aku
melihatnya.
“Rhin!”
teriakku sambil berlutut di dekatnya. “Kau kenapa?!”
Wajahnya
pucat sekali. Tubuhnya kaku dan sangat dingin. Apa dia sakit? Segera kuangkat
Rhin dan kubawa ke kamarku. Kubaringkan dia di kasur dan menyelimutinya.
“Rhin?
Kau kenapa? Apa yang sakit? Rhin?”
Rhin
tidak menjawab sama sekali. Dia hanya bisa menggerang, seperti kesakitan. Aku
semakin bingung dengan keadaan Rhin. Rhin adalah manekin. Dan aku tidak tau
bagaimana cara mengobati manekin yang sakit. Apa pengobatannya seperti manusia?
Ya, kurasa ada baiknya untuk dicoba.
“Rhin,
aku akan mengambil air hangat untuk mengompresmu. Jadi, tetaplah disini. Oke?”
Ketika
aku akan pergi, Rhin menarik lengan kaosku. Dia menggeleng pelan. “Jangan,”
ucapnya lirih.
“Rhin?”
Rhin
mencoba duduk. Aku membantunya. Kurasakan suhu tubuhnya tidak sedingin saat aku
menemukannya. Aku merasa agak lega. Rhin mencoba tersenyum.
“Maaf,”
ucapnya. “Kemarin aku kelaparan. Aku tidak bisa menemukan apapun yang bisa
kumakan. Lalu aku pingsan.”
“Kenapa
kau tidak membangunkanku?!” teriakku.
“Kemarin
aku sudah membuatmu marah. Jadi aku tidak mungkin meminta bantuanmu unt...”
“Dengar!
Aku sudah terbiasa dengan keadaanku. Khususnya pertengkaranku dengan Karin.
Kami memang selalu begitu jika bertemu. Jadi jangan merasa bersalah karena itu.
Oke?”
Rhin
mengangguk. Kemudian tersenyum seperti biasanya. “Terima kasih.”
Spontan
aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Keadaan ini sangat aneh. Rasanya tidak
nyaman, tetapi nyaman. Entahlah! Dengan cepat aku berdiri meninggalkan Rhin.
“Kean?
Mau kemana?”
“A..aku
akan mencarikan plitur untukmu.”
“Kau
serius??”
“I..iya.
Jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Oke?”
###
Sesungguhya
aku tidak percaya bahwa aku akan kembali ke tempat ini. Semenjak ‘kebangkitan’
Rhin, tempat ini sudah kuberi cap ‘jangan masuk’. Tetapi mau tidak mau aku
harus kembali ke tempat ini untuk menyelesaikan masalah Rhin.
“Hei,
apa yang kau lakukan di sini?”
Aku
menoleh ke sumber suara itu. Ternyata dia adalah satpam dari pabrik ini. Dia
muda. Tetapi lebih tua dariku. Jadi kurasa dia masih baru di sini. Aku
menghampiri posnya dan memulai akting yang sudah kurencanakan.
“Ah,
tuan, saya sedang memastikan bahwa pabrik ini adalah Jane’s Mannaquins.”
“Ya,
memang ini adalah Jane’s Mannaquins. Kau bisa lihat papan nama yang besar itu,”
sahut satpam.
“Benar
juga. Oh ya, saya sedang mencari seorang kenalan saya. Dia bekerja di sini.
Boleh saya bertemu dengannya?”
“Hmm,
apa kenalanmu itu adalah pekerja? Atau atasan?”
“Kurasa
dia pekerja. Pembuat manekin.”
“Waah,
sayang sekali tuan. Pekerja tidak dapat diizinkan untuk menemui tamu ketika jam
bekerja.”
“Benarkah?!
Tetapi saya harus menyampaikan hal penting kepadanya. Ini menyangkut nyawa
seseorang, tuan!”
“Nyawa?
Nyawa siapa?” tanya satpam dengan sedikit nada kasihan.
“Anaknya,
tuan. Anaknya sedang sakit keras. Kurasa dia tidak akan bertahan lama. Dan
permintaan terakhirnya adalah supaya saya membawa ayahnya,” ucapku sambil
sedikit terisak.
Kulihat satpam
itu kebingungan. Dan kurasa umpanku pasti akan termakan. Sebentar lagi, dia
pasti akan dibawa keluar oleh satpam ini. Aku yakin 100 persen.
“Katakan
siapa nama ayahnya”
Aku
tersenyum. “Namanya Tuan Takaaki. Apakah tuan akan memanggilkannya untukku?”
“Ya.
Tunggulah sebentar.”
“Terima
kasih, tuan,” ucapku.
Satpam
itu mengangguk. “Oh, ya. Siapa namamu?”
“Kean.
Katakan kepada Tuan Takaaki bahwa aku adalah Kean yang menjaga anaknya.”
###
“Apa
maumu? Dimana Rhin?”
Kalau
boleh jujur, aku lebih baik berhadapan dengan Karin selama setahun penuh
daripada berhadapan dengan Tuan Takaaki. Dia benar-benar dingin dan lebih
menyeramkan bila dibandingkan dengan dua bodyguard yang kemarin mengejarku.
“Dia
aman. Rhin ada di rumahku. Anda tidak perlu khawatir.”
“Lalu
apa maumu?”
“Saya
ingin bertanya tentang satu hal. Bagaimana caranya agar saya bisa membantu
Rhin?”
“Kau
yang membangunkannya, kau yang tau apa yang harus kau lakukan.”
“Tetapi
masalahnya, saya tidak tau apa yang harus saya lakukan.”
“Kau
yang membangunkannya, kau yang tau apa yang harus kau lakukan.” jawab Tuan
Takaaki, lagi.
“Tuan
Takaaki, saya serius. Saya tidak tau tugas apa yang ingin diselesaikan Rhin.
Tolonglah.”
“Kau
yang membangunkannya, kau yang tau apa yang harus kau lakukan.”
“Tuan,
Rhin ingin meninggal dengan tenang. Oleh karena itu, katakan dimana saya bisa
mengetahui tugas itu.”
“Kau
yang membangunkannya, kau yang tau apa yang harus kau lakukan.”
Aku
menghela nafas panjang. “Tuan, tolong. Kalau saja Rhin tau apa yang harus
diselesaikannya, saya pasti tidak akan berada disi..”
Aku
terdiam. Tuan Takaaki sedikit tersenyum. Rhin dalam wujud manekin memang tidak
mengetahui tugas yang harus diselesaikannya dan aku ingat bahwa Rhin hanyalah
sebagian roh dari orang yang sedang sekarat. Jadi pastilah ada Rhin dalam wujud
manusia. Dia pasti tau.
“Bagaimana
aku bisa menemukannya?”
“Dia
sekarat,” jawab Tuan Takaaki.
Otakku
kembali bekerja. Tak lama, aku tersenyum. “Rumah sakit! Tetapi, rumah sakit
yang mana?”
“Dia
sekarat,” jawabnya, lagi.
Sekarat.
Mengapa Rhin sekarat? Apa dia sakit? Atau ada kecelakaan yang menimpanya?
Tunggu, kecelakaan? Kebanyakan roh bergentayangan karena meninggal tidak wajar.
Apa Rhin adalah salah satunya?
“Apa
kecelakaan yang membuat Rhin sekarat?” tanyaku.
“Tidak
ada yang tau pasti.”
“Kalau
seandainya terjadi kecelakaan, pastinya ada data di kep...”
Tuan
Takaaki kembali tersenyum. Kali ini lebih lebar. “Pergilah.”
“Terima
kasih, Tuan Takaaki. Terima kasih,” ucapku.
“Kau
yang membangunkannya, kau yang tau apa yang harus kau lakukan,” ucap Tuan
Takaaki untuk kesekian kalinya.
Aku
tersenyum. Ya, kurasa memang pernyataan itu adalah jawaban dari semua
pertanyaanku. Aku memang sudah mengetahui jawabannya. Aku hanya tidak bisa
membuka pikiranku. Dan sekarang, aku tau harus memulai dari mana.
###
Saat ini
aku berada di depan rumah sakit kelima dari daftar rumah sakit tempat korban
kecelakaan yang kudapatkan dari kepolisian. Ya, sebelumnya aku mengkonfirmasi
beberapa hal di kantor kepolisian pusat dan mendapatkan sederet nama korban kecelakaan
dan rumah sakit tempatnya dirawat. Aku memfokuskan pencarianku kepada korban
kecelakaan sebulan yang lalu. Mengapa? Karena Rhin belum berganti pakaian
selama satu bulan.
“Ada
yang bisa saya bantu, tuan?” tanya resepsionis, sangat ramah.
“Begini,
saya sedang mencari seseorang. Dia temanku.”
“Siapa
nama teman anda, tuan?”
“Ehm,
Yukari. Namanya Yukari.”
“Baiklah,
tolong tunggu sebentar.”
Aku
mengetuk-ngetuk meja resepsionis sambil mengamati sekeliling. Banyak orang yang
hilir mudik dengan wajah cemas. Tak sedikit pula yang tersenyum gembira.
Melihat semua ekspresi orang yang berlalu lalang di sekitarku membuatku
berpikir. Apakah orang-orang ini benar-benar menunjukkan isi hatinya atau hanya
pura-pura? Tolong jangan salahkan aku jika berkata demikian. Ini karena aku
lebih sering melihat manusia dengan sisi negatifnya.
“Maaf
tuan, nama yang anda sebutkan tidak ada dalam daftar pasien.”
“Kalau
begitu tolong carikan nama-nama yang ada di daftar ini,” ucapku sambil
memberikan kertas berisi daftar nama korban kecelakaan. Mau bagaimana lagi, aku
capek berkeliling rumah sakit untuk mencari Rhin dalam wujud manusia.
“Maaf
tuan, saya rasa ini semua bukan nama teman tuan. Maaf apabila saya lancang,
tetapi apa tujuan tuan?” tanya resepsionis itu.
“Salah
satu di antara mereka adalah temanku. Kudengar dia kecelakaan sebula...”
Tiba-tiba
saja bulu kudukku berdiri. Ada perasaan aneh menjalar di pundakku. Aku segera
menoleh ke belakang. Kudapati seorang gadis dengan dengan wajah pucat berdiri
menatapku. Dia mengenakan baju pasien. Ada perban yang membalut keningnya. Gips
terpasang di lengan kanannya. Entah mengapa aku merasa bahwa gadis itu adalah
Rhin.
“Rhin?”
ucapku sambil mendekatinya.
Dia
tidak menjawab. Tatapannya kosong, tetapi sorot matanya mengarah kepadaku. Aku
menoleh ke arah resepsionis. Sepertinya dia mengerti apa yang kumaksud, karena
setelah aku menoleh ke arahnya dia langsung mencocokkan daftar yang kuberikan
dengan daftar pasien. Tak lama kemudian resepsionis itu mengangguk.
Aku
merasakan ada letupan-letupan kecil di hatiku. Walaupun aku belum benar-benar
yakin bahwa dia adalah Rhin. Tetapi setidaknya aku bisa menemukan kandidat yang
sekiranya agak pas dengan Rhin.
“Siapa
kau?” tanya seseorang dari belakangku.
Aku
melihat seorang wanita paruh baya sedang memegang pundak Rhin. Wajahnya masam
dan terdapat kantung mata yang cukup besar. Kurasa dia tidak cukup tidur karena
menjaga Rhin.
“Siapa
kau? Apa kau mengenal Hikari?” tanya wanita itu, lagi.
“Nama
saya Kean. Apa namanya Hikari? Bukan Rhin?”
“Dia
anakku dan namanya Hikari. Bukan Rhin. Apa kau mengenalnya?”
“Saya
rasa iya, Nyonya. Saya adalah temannya. Saya lebih sering memanggilnya Rhin.”
“Begitukah?”
ucap wanita itu. “Tidak banyak teman Hikari yang datang untuk menjenguknya. Kau
orang ketiga yang menjenguknya.”
Tatapanku
beralih ke arah Hikari. Dia masih berada di posisi yang sama. Aku merasa Hikari
seperti manekin. Kaku dan kosong. Berbeda jauh dengan Rhin yang enerjik dan
ekspresif.
“Maaf,
Nyonya. Boleh saya tau, apa yang sudah terjadi?” tanyaku, sopan.
###
Aku
turun dari mobil dengan membawa sebuah buku bersampul coklat. Kulihat di depan
rumahku ada sedan hitam milik Karin. Dia benar-benar keterlauan. Sudah
kukatakan berkali-kali untuk tidak mengunjungiku. Tetapi dia memang keras
kepala. Dan kuakui sangat sulit untuk menyingkirkannya.
Begitu
aku masuk ke dalam rumah, Karin menyambutku. Dia tersenyum sok ramah. Rhin
mengkutinya dari belakang. Dia juga tersenyum, tetapi ada sedikit rasa bersalah
didalamnya. Aku hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan datar.
“Kean?”
panggil Rhin.
“Hmm?”
“Apa kau
menemukan sesuatu?” tanyanya.
“Sesuatu
apa?” sahut Karin.
Aku
menatap Karin dengan tatapan sinis. “Tidak ada yang kutemukan kalau orang ini
berada di dekatku.”
“Kean!
Kau keterlaluan!” bentak Rhin.
“Rhin,
tenanglah,” ucap Karin. “Kau tidak perlu memintaku pergi, Kean. Aku memang
sudah berniat pergi.”
“Sejauh
mungkin, kalau bisa,” sahutku.
“KEAN!”
teriak Rhin.
“Aku
tidak bisa pergi sejauh yang kau mau karena aku tetaplah ibumu,” ujar Karin.
“Terserah,”
jawabku. “Aku capek. Aku akan istirahat. Jangan ganggu aku.”
“Kean,
makan dulu sup yang dibuatkan ibumu,” kata Rhin sambil menarik lengan bajuku.
“Tidak,
terima kasih.”
Aku
segera masuk ke dalam kamar. Kuhempaskan tubuhku ke atas ranjang sambil membawa
buku sampul coklat. Kudekap buku itu. Di dalam pikiranku, wajah Karin yang
menyebalkan masih membayangiku. Melihat wajahnya di dalam pikiranku saja sudah
cukup untuk membuat moodku turun drastis.
“Kean?
Boleh aku masuk?”
Belum
sempat aku menjawab, kepala Rhin sudah masuk ke dalam kamarku. Melihat wajahku
yang datar, dia tersenyum. Tak lama kemudian seluruh tubuhnya sudah berada di
dalam kamarku. Dia berjalan mendekat, lalu duduk di pinggir ranjangku.
“Kau
marah lagi, ya?” tanyanya.
“Kenapa
kau membawanya masuk ke rumahku?”
“Nah,
kau marah lagi, kan? Tapi aku tidak tau kapan ibumu masuk ke dalam. Saat itu
aku sedang berada di halaman. Maaf.”
“Sudah,
lupakan.”
Rhin
menunduk. Agak lama dia berdiam diri sambil menunduk. Aku merasakan situasi
yang sangat tidak nyaman. Hingga akhirnya aku ikut duduk di pinggir ranjang
sambil menimang buku sampul coklat.
“Kurasa,
aku sudah menemukannya,” ucapku memulai pembicaraan.
“Apa
maksudmu?”
“Tugasmu.”
“Tugasku?!
Jadi kau sudah tau?!” tanya Rhin, bersemangat.
“Ya,
kurasa,” jawabku.
“Apa
saja?”
“Tunggu,
aku harus menjelaskan beberapa hal kepadamu.”
Rhin
menggembungkan kedua pipinya, terlihat sangat lucu. “Apa itu?”
“Yang
pertama, nama aslimu adalah Hikari. Dan yang tak kusangka, umurmu 2 tahun lebih
tua dariku.”
Mulut
Rhin terbuka lebar, “benarkah?”
“Ya. Dan
yang kedua, kau mengalami kecelakaan mobil sebulan yang lalu sehingga
kehilangan ingatan dan mengalami patah tulang.”
“Mengerikan
sekali..”
“Ketiga,
kabar baiknya, kau masih bisa bertahan dengan sisa roh yang kau tinggalkan. Kau
masih bisa berjalan-jalan. Bagaimana?”
Rhin
terdiam. Dia meremas kedua tangannya. “Kean, bukankah seharusnya aku sekarat?”
“Kau
memang sekarat,” jawabku. “Semenjak kecelakaan itu, fungsi jantungmu menjadi abnormal.”
Rhin
memiringkan kepalanya. “Ab..normal?”
“Ya,”
ucapku sambil mengangguk. “Jantungmu bekerja lebih lambat dibandingkan jantung
biasanya dan semakin lama aktifitasnya akan semakin menurun.”
Rhin
menunduk sambil meremas kedua tangannya. Kurasa dia sangat sedih saat mendengar
keadaan belahan jiwanya sedang menderita. Ya, memang seharusnya dia merasa
sedih. Tetapi semakin lama Rhin terisak, lalu menangis sekeras-kerasnya. Hal
ini membuatku kebingungan setengah mati.
“Rhin,
sudahlah. Jangan menangis,” ucapku, mulai menghiburnya.
Rhin
tidak menghiraukan ucapanku. Tangisnya malah semakin keras. Dia bahkan sampai
merosot dari ranjang dan jatuh terduduk di atas lantai. Dia membenamkan
wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya. Aku segera mengambil tindakan. Yaa,
tindakan yang biasa dilakukan semua orang ketika melihat orang lain menangis.
Meminjami sapu tangan atau memberi tissu.
“Ini,
pakailah,” ucapku setelah mengambil sapu tangan dari laci meja kecil di samping
ranjang.
Rhin
menurunkan kedua telapak tangannya. Dia menoleh, lalu menatapku. Seketika kelopak
mataku terbuka lebar. Melihat hal itu, Rhin melakukan hal yang sama. Dia
membuka matanya lebar-lebar.
“Apa
yang kau lihat?” tanyanya.
“Kau
menangis, kan?”
Rhin
mengangguk, “iya.”
“Kalau
begitu, dimana air matanya?”
Tangis
Rhin kembali meledak. Dia menangis histeris. Aku semakin kewalahan dengan
keadaan Rhin. Dia tidak berhenti menangis walaupun aku sudah menyuruhnya
berhenti. Aku juga sudah minta maaf kalau memang perlakuanku terhadapnya buruk.
Aarrgghh! Aku tidak tau apa lagi yang harus kulakukan.
“Rhin,
jangan menangis lagi! Please, jangan!”
Tiba-tiba
Rhin berhenti menangis. Kemudian dia menoleh ke arahku. “Apa air matanya sudah
keluar?” tanyanya sambil menunjuk matanya.
Aku
menggeleng. “Tidak ada.”
“Bagaimana
ini?! Apa aku memang tidak bisa mengeluarkan air mata?”
Aku
hanya bisa mengusap keningku. Rhin memang sulit dimengerti. Ada banyak hal yang
harus diungkapkan untuk memahami Rhin. Dan untuk saat ini aku hanya memiliki
gambaran luar mengenai Rhin. Kurasa akan ada perjalanan panjang agar aku bisa
benar-benar memahaminya.
“Kean,
kurasa ada tamu. Belnya berbunyi,” ucap Rhin membuyarkan lamunanku.
“Biar
aku saja. Pasti Karin lagi. Dia memang keras kepala.”
Aku
keluar dari kamar dan langsung menuju pintu depan. Begitu aku membuka pintu dan
melihat siapa tamuku, detak jantungku terasa ingin berhenti. Aku menahan
nafasku. Mengapa dia masih berani menunjukkan batang hidungnya di hadapanku?!
Apa dia tidak tau malu?!
“Kean?
Ak..”
“Pergi.”
“Kean,
aku hanya ing..”
“Pergi!”
“Kean,
tolong dengarkan aku. Aku ingin minta maaf. Aku akan menj...”
“APA KAU
TIDAK MENDENGARNYA?! AKU BILANG, PERGI!”
Sekarang,
di hadapanku, dia hanyalah seorang gadis yang menyesali perbuatannya. Paras
cantiknya mendadak luntur hanya karena satu kesalahan. Kecil, tetapi fatal. Aku
tidak ingin menyalahkannya, tetapi aku terlanjur menyalahkannya. Aku sudah
menumpahkan segalanya dan semua itu tidak dapat kutarik kembali.
Aku
tidak bisa berlama-lama melihatnya. Karena hal itu dapat mengacaukan pikiranku.
Secepat mungkin aku menutup pintu. Tetapi beberapa detik sebelum pintu
benar-benar tertutup, dia berteriak..
“Kean,
aku masih mencintaimu!”
Aku
berusaha menutup telingaku. Aku tidak boleh tergoda lagi. Tidak. Kali ini aku
akan benar-benar meninggalkannya. Dan harus. Dia memang spesial, tetapi aku
akan memastikan bahwa dia tidak se-spesial yang kupikirkan.
Ketika
aku membalikkan badan, kulihat Rhin berdiri menatapku dengan tatapan kosong.
Sangat mirip dengan kejadian saat Hikari menatapku. Tetapi saat ini, jantungku
berdetak sangat cepat seperti sedang berlari.
“Rhin?”
“Kurasa..kau perlu..waktu sendiri,” ucapnya sambil
memalingkan wajah.Tunggu dulu.. Ada apa ini? Rhin? Apa yang salah? Dan mengapa aku merasa bersalah?
"Rhin!"
0 komentar:
Posting Komentar