CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 19 Juli 2012

MANNAQUIN'S (3rd)


“Suatu tempat yang kosong bisa menjadi terisi karena ada tempat lain yang dikosongkan.”

###

Ada kalanya sesuatu yang disembunyikan, tetap harus tersembunyi. Tetapi sering kali, hal yang tersembunyi itu malah mencuat ke permukaan tanpa aba-aba. Dan inilah yang terjadi padaku. Rhin seharusnya tersembunyi atau jauh dari segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupanku. Sekarang, hal itu hanyalah mimpi.

Aku tidak memiliki maksud lain selain tidak ingin seorangpun tau tentang Rhin. Aku tidak bisa membayangkan bahwa orang-orang terdekatku mengira aku gila. Well, mana ada orang yang percaya bahwa Rhin yang terlihat seperti wanita idaman setiap pria, sesungguhnya adalah manekin.

“AAAAA!!”

Meskipun aku ingin menyembunyikan Rhin dari mereka, tetapi saat ini, aku benar-benar tertangkap basah. Dan yang paling menyebalkan, orang itu yang memergokiku. Saat ini dia sedang berjongkok di samping Rhin sambil mengusap kepalanya.

“Jadi, gadis ini yang kau sembunyikan?” tanyanya.
“Ini urusanku. Kau tidak perlu ikut campur,” jawabku. “Rhin? Kau baik-baik saja?”
Agak lemah, Rhin mengangguk. “Ya.”
“Ada yang terjadi?” tanyaku.
“It..itu” ucap Rhin terbata-bata sambil menunjuk ke dekat bathtub.
“Apa mksudmu?!”
“Ci..cic..cicak!” jawab Rhin, histeris.
“KAU MENJERIT HANYA KARENA SEEKOR CICAK?!” teriakku.
“Kean! Kau memang benar-benar tidak tau cara memperlakukan wanita!” seru tamu tak diundang itu.
“Diam.”

Aku keluar dari kamar mandi, lalu berjalan menyusuri kamar menuju ruang tengah. Kuhempaskan tubuhku di atas sofa. Kepalaku benar-benar pusing. Sekarang, keberadaan Rhin sudah terbongkar. Dan yang menyebabkan hal itu adalah seekor cicak. Biar kuulangi, SE-E-KOR CI-CAK. Aku tidak habis pikir bahwa cicak bisa membongkar rahasia yang kau tutupi.

“Kean? Kau marah?” tanya Rhin di ambang pintu kamar.
“Anakku tidak mungkin marah terhadapmu,” sahut tamu tak diundang itu.
“Maaf? Kean adalah anak anda Nyonya?” tanya Rhin.
“Ya, Kean adalah anak keduaku.”

Well, aku memang anaknya secara biologis. Tidak secara psikologis. Kedua orang tuaku bercerai saat aku berumur 5 tahun. Ayah yang membawaku. Jadi sejak saat itu aku tidak pernah melihat ibu biologisku. Selain itu, ayah juga mengajarkanku untuk membencinya.

“Perkenalkan, namaku Karin.”
“Ah, nama saya Rhin.”
“Kau tidak perlu berkata seformal itu. Anggap aku ini temanmu. Aku masih terlihat muda, kan?”

Nah, nah.. Hal itu adalah salah satu alasan mengapa aku membencinya. Karena dia masih terlihat muda di umurnya yang menginjak 40 tahunan. Ayah selalu mengatakan bahwa Karin suka bergonta-ganti pasangan. Itu sebabnya mereka berpisah.

“Kalau kalian sudah selesai ngobrol, sebaiknya kau keluar dari rumahku.”
“Kean, kau kasar sekali pada ibumu,” ucap Rhin.
Karin tersenyum, “tak apa, Rhin. Aku sudah terbiasa.”
“Tapi Kean tidak seharusnya...”
“Kalau kau memang tidak mau keluar, aku saja yang keluar,” seruku sambil berdiri dari sofa.
“Baiklah, Kean. Terserah kau saja,” ucap Karin. “Nah, Rhin.. Sampai jumpa lagi.”

Karin pergi meninggalkan kami berdua. Ketika sampai di depan pintu, dia berbalik. Dia tersenyum kepadaku, lalu menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan terhadap Rhin. Tetapi aku tau, dia tidak akan membocorkan informasi tentang Rhin.

“Kean, boleh aku tanya sesuatu?”
“Tidak. Cepat pergi tidur!” ucapku sambil berjalan menuju kamar.
“Aku tidak bisa tidur,” ujar Rhin.
“Insomnia?” tanyaku.
“Bukan. Aku benar-benar tidak bisa tidur.”
Aku berbalik, menghadap Rhin. “Lalu apa yang ingin kau lakukan? Main game? Nonton televisi?”
“Aku ingin melihatmu tidur.”
“Apa?! Kau sudah gila?!”
“Err-, aku suka melihat wajahmu saat tidur. Tenang dan damai,” ucapnya.

Aku terdiam. Dia menyindirku atau mengatakan hal yang kurang dariku secara terang-terangan? Dia sama menyebalkannya dengan Karin. Apa wanita memang selalu menyebalkan? Atau semua wanita yang berada di dekatku adalah wanita yang menyebalkan? Kalau hal itu benar, berarti aku memang menerima kutukan turun temurun dari kakek buyutnya buyut-buyutku.

“Kean? Bolehkah?”
Aku masuk ke dalam kamarku, kemudian berbalik. “Tidak! Selamat malam!” ucapku sambil menutup pintu.

###

Sinar mentari merayap ke wajahku. Aku mengerjapkan kedua mataku sambil berusaha bangun. Kamarku terlihat sangat tenang walaupun sedikit berantakan akibat beberapa bajuku berceceran di lantai semenjak kejadian kemarin malam. Aku belum sempat merapikannya karena moodku sedang tidak baik.

Aku bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Senang sekali rasanya karena bisa melakukan aktifitas rutinku. Cuci muka lalu sikat gigi. Seperti tanpa beban. Tenang dan damai.

Aku keluar dari kamar mandi, lalu merapikan semua bajuku yang tergeletak di lantai. Kulipat dan kumasukkan ke dalam lemari. Setelah selesai, aku keluar dari kamar dengan senyum yang mengembang. Tetapi senyum itu segera lenyap ketika aku melihatnya.

“Rhin!” teriakku sambil berlutut di dekatnya. “Kau kenapa?!”

Wajahnya pucat sekali. Tubuhnya kaku dan sangat dingin. Apa dia sakit? Segera kuangkat Rhin dan kubawa ke kamarku. Kubaringkan dia di kasur dan menyelimutinya.

“Rhin? Kau kenapa? Apa yang sakit? Rhin?”

Rhin tidak menjawab sama sekali. Dia hanya bisa menggerang, seperti kesakitan. Aku semakin bingung dengan keadaan Rhin. Rhin adalah manekin. Dan aku tidak tau bagaimana cara mengobati manekin yang sakit. Apa pengobatannya seperti manusia? Ya, kurasa ada baiknya untuk dicoba.

“Rhin, aku akan mengambil air hangat untuk mengompresmu. Jadi, tetaplah disini. Oke?”
Ketika aku akan pergi, Rhin menarik lengan kaosku. Dia menggeleng pelan. “Jangan,” ucapnya lirih.
“Rhin?”

Rhin mencoba duduk. Aku membantunya. Kurasakan suhu tubuhnya tidak sedingin saat aku menemukannya. Aku merasa agak lega. Rhin mencoba tersenyum.

“Maaf,” ucapnya. “Kemarin aku kelaparan. Aku tidak bisa menemukan apapun yang bisa kumakan. Lalu aku pingsan.”
“Kenapa kau tidak membangunkanku?!” teriakku.
“Kemarin aku sudah membuatmu marah. Jadi aku tidak mungkin meminta bantuanmu unt...”
“Dengar! Aku sudah terbiasa dengan keadaanku. Khususnya pertengkaranku dengan Karin. Kami memang selalu begitu jika bertemu. Jadi jangan merasa bersalah karena itu. Oke?”
Rhin mengangguk. Kemudian tersenyum seperti biasanya. “Terima kasih.”

Spontan aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Keadaan ini sangat aneh. Rasanya tidak nyaman, tetapi nyaman. Entahlah! Dengan cepat aku berdiri meninggalkan Rhin.

“Kean? Mau kemana?”
“A..aku akan mencarikan plitur untukmu.”
“Kau serius??”
“I..iya. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Oke?”

###

Sesungguhya aku tidak percaya bahwa aku akan kembali ke tempat ini. Semenjak ‘kebangkitan’ Rhin, tempat ini sudah kuberi cap ‘jangan masuk’. Tetapi mau tidak mau aku harus kembali ke tempat ini untuk menyelesaikan masalah Rhin.

“Hei, apa yang kau lakukan di sini?”

Aku menoleh ke sumber suara itu. Ternyata dia adalah satpam dari pabrik ini. Dia muda. Tetapi lebih tua dariku. Jadi kurasa dia masih baru di sini. Aku menghampiri posnya dan memulai akting yang sudah kurencanakan.

“Ah, tuan, saya sedang memastikan bahwa pabrik ini adalah Jane’s Mannaquins.”
“Ya, memang ini adalah Jane’s Mannaquins. Kau bisa lihat papan nama yang besar itu,” sahut satpam.
“Benar juga. Oh ya, saya sedang mencari seorang kenalan saya. Dia bekerja di sini. Boleh saya bertemu dengannya?”
“Hmm, apa kenalanmu itu adalah pekerja? Atau atasan?”
“Kurasa dia pekerja. Pembuat manekin.”
“Waah, sayang sekali tuan. Pekerja tidak dapat diizinkan untuk menemui tamu ketika jam bekerja.”
“Benarkah?! Tetapi saya harus menyampaikan hal penting kepadanya. Ini menyangkut nyawa seseorang, tuan!”
“Nyawa? Nyawa siapa?” tanya satpam dengan sedikit nada kasihan.
“Anaknya, tuan. Anaknya sedang sakit keras. Kurasa dia tidak akan bertahan lama. Dan permintaan terakhirnya adalah supaya saya membawa ayahnya,” ucapku sambil sedikit terisak.

Kulihat satpam itu kebingungan. Dan kurasa umpanku pasti akan termakan. Sebentar lagi, dia pasti akan dibawa keluar oleh satpam ini. Aku yakin 100 persen.

“Katakan siapa nama ayahnya”
Aku tersenyum. “Namanya Tuan Takaaki. Apakah tuan akan memanggilkannya untukku?”
“Ya. Tunggulah sebentar.”
“Terima kasih, tuan,” ucapku.
Satpam itu mengangguk. “Oh, ya. Siapa namamu?”
“Kean. Katakan kepada Tuan Takaaki bahwa aku adalah Kean yang menjaga anaknya.”

###

“Apa maumu? Dimana Rhin?”

Kalau boleh jujur, aku lebih baik berhadapan dengan Karin selama setahun penuh daripada berhadapan dengan Tuan Takaaki. Dia benar-benar dingin dan lebih menyeramkan bila dibandingkan dengan dua bodyguard yang kemarin mengejarku.

“Dia aman. Rhin ada di rumahku. Anda tidak perlu khawatir.”
“Lalu apa maumu?”
“Saya ingin bertanya tentang satu hal. Bagaimana caranya agar saya bisa membantu Rhin?”
“Kau yang membangunkannya, kau yang tau apa yang harus kau lakukan.”
“Tetapi masalahnya, saya tidak tau apa yang harus saya lakukan.”
“Kau yang membangunkannya, kau yang tau apa yang harus kau lakukan.” jawab Tuan Takaaki, lagi.
“Tuan Takaaki, saya serius. Saya tidak tau tugas apa yang ingin diselesaikan Rhin. Tolonglah.”
“Kau yang membangunkannya, kau yang tau apa yang harus kau lakukan.”
“Tuan, Rhin ingin meninggal dengan tenang. Oleh karena itu, katakan dimana saya bisa mengetahui tugas itu.”
“Kau yang membangunkannya, kau yang tau apa yang harus kau lakukan.”
Aku menghela nafas panjang. “Tuan, tolong. Kalau saja Rhin tau apa yang harus diselesaikannya, saya pasti tidak akan berada disi..”

Aku terdiam. Tuan Takaaki sedikit tersenyum. Rhin dalam wujud manekin memang tidak mengetahui tugas yang harus diselesaikannya dan aku ingat bahwa Rhin hanyalah sebagian roh dari orang yang sedang sekarat. Jadi pastilah ada Rhin dalam wujud manusia. Dia pasti tau.

“Bagaimana aku bisa menemukannya?”
“Dia sekarat,” jawab Tuan Takaaki.
Otakku kembali bekerja. Tak lama, aku tersenyum. “Rumah sakit! Tetapi, rumah sakit yang mana?”
“Dia sekarat,” jawabnya, lagi.

Sekarat. Mengapa Rhin sekarat? Apa dia sakit? Atau ada kecelakaan yang menimpanya? Tunggu, kecelakaan? Kebanyakan roh bergentayangan karena meninggal tidak wajar. Apa Rhin adalah salah satunya?

“Apa kecelakaan yang membuat Rhin sekarat?” tanyaku.
“Tidak ada yang tau pasti.”
“Kalau seandainya terjadi kecelakaan, pastinya ada data di kep...”
Tuan Takaaki kembali tersenyum. Kali ini lebih lebar. “Pergilah.”
“Terima kasih, Tuan Takaaki. Terima kasih,” ucapku.
“Kau yang membangunkannya, kau yang tau apa yang harus kau lakukan,” ucap Tuan Takaaki untuk kesekian kalinya.

Aku tersenyum. Ya, kurasa memang pernyataan itu adalah jawaban dari semua pertanyaanku. Aku memang sudah mengetahui jawabannya. Aku hanya tidak bisa membuka pikiranku. Dan sekarang, aku tau harus memulai dari mana.

###

Saat ini aku berada di depan rumah sakit kelima dari daftar rumah sakit tempat korban kecelakaan yang kudapatkan dari kepolisian. Ya, sebelumnya aku mengkonfirmasi beberapa hal di kantor kepolisian pusat dan mendapatkan sederet nama korban kecelakaan dan rumah sakit tempatnya dirawat. Aku memfokuskan pencarianku kepada korban kecelakaan sebulan yang lalu. Mengapa? Karena Rhin belum berganti pakaian selama satu bulan.

“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” tanya resepsionis, sangat ramah.
“Begini, saya sedang mencari seseorang. Dia temanku.”
“Siapa nama teman anda, tuan?”
“Ehm, Yukari. Namanya Yukari.”
“Baiklah, tolong tunggu sebentar.”

Aku mengetuk-ngetuk meja resepsionis sambil mengamati sekeliling. Banyak orang yang hilir mudik dengan wajah cemas. Tak sedikit pula yang tersenyum gembira. Melihat semua ekspresi orang yang berlalu lalang di sekitarku membuatku berpikir. Apakah orang-orang ini benar-benar menunjukkan isi hatinya atau hanya pura-pura? Tolong jangan salahkan aku jika berkata demikian. Ini karena aku lebih sering melihat manusia dengan sisi negatifnya.

“Maaf tuan, nama yang anda sebutkan tidak ada dalam daftar pasien.”
“Kalau begitu tolong carikan nama-nama yang ada di daftar ini,” ucapku sambil memberikan kertas berisi daftar nama korban kecelakaan. Mau bagaimana lagi, aku capek berkeliling rumah sakit untuk mencari Rhin dalam wujud manusia.
“Maaf tuan, saya rasa ini semua bukan nama teman tuan. Maaf apabila saya lancang, tetapi apa tujuan tuan?” tanya resepsionis itu.
“Salah satu di antara mereka adalah temanku. Kudengar dia kecelakaan sebula...”

Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri. Ada perasaan aneh menjalar di pundakku. Aku segera menoleh ke belakang. Kudapati seorang gadis dengan dengan wajah pucat berdiri menatapku. Dia mengenakan baju pasien. Ada perban yang membalut keningnya. Gips terpasang di lengan kanannya. Entah mengapa aku merasa bahwa gadis itu adalah Rhin.

“Rhin?” ucapku sambil mendekatinya.

Dia tidak menjawab. Tatapannya kosong, tetapi sorot matanya mengarah kepadaku. Aku menoleh ke arah resepsionis. Sepertinya dia mengerti apa yang kumaksud, karena setelah aku menoleh ke arahnya dia langsung mencocokkan daftar yang kuberikan dengan daftar pasien. Tak lama kemudian resepsionis itu mengangguk.

Aku merasakan ada letupan-letupan kecil di hatiku. Walaupun aku belum benar-benar yakin bahwa dia adalah Rhin. Tetapi setidaknya aku bisa menemukan kandidat yang sekiranya agak pas dengan Rhin.

“Siapa kau?” tanya seseorang dari belakangku.

Aku melihat seorang wanita paruh baya sedang memegang pundak Rhin. Wajahnya masam dan terdapat kantung mata yang cukup besar. Kurasa dia tidak cukup tidur karena menjaga Rhin.

“Siapa kau? Apa kau mengenal Hikari?” tanya wanita itu, lagi.
“Nama saya Kean. Apa namanya Hikari? Bukan Rhin?”
“Dia anakku dan namanya Hikari. Bukan Rhin. Apa kau mengenalnya?”
“Saya rasa iya, Nyonya. Saya adalah temannya. Saya lebih sering memanggilnya Rhin.”
“Begitukah?” ucap wanita itu. “Tidak banyak teman Hikari yang datang untuk menjenguknya. Kau orang ketiga yang menjenguknya.”

Tatapanku beralih ke arah Hikari. Dia masih berada di posisi yang sama. Aku merasa Hikari seperti manekin. Kaku dan kosong. Berbeda jauh dengan Rhin yang enerjik dan ekspresif.

“Maaf, Nyonya. Boleh saya tau, apa yang sudah terjadi?” tanyaku, sopan.

###

Aku turun dari mobil dengan membawa sebuah buku bersampul coklat. Kulihat di depan rumahku ada sedan hitam milik Karin. Dia benar-benar keterlauan. Sudah kukatakan berkali-kali untuk tidak mengunjungiku. Tetapi dia memang keras kepala. Dan kuakui sangat sulit untuk menyingkirkannya.

Begitu aku masuk ke dalam rumah, Karin menyambutku. Dia tersenyum sok ramah. Rhin mengkutinya dari belakang. Dia juga tersenyum, tetapi ada sedikit rasa bersalah didalamnya. Aku hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan datar.

“Kean?” panggil Rhin.
“Hmm?”
“Apa kau menemukan sesuatu?” tanyanya.
“Sesuatu apa?” sahut Karin.
Aku menatap Karin dengan tatapan sinis. “Tidak ada yang kutemukan kalau orang ini berada di dekatku.”
“Kean! Kau keterlaluan!” bentak Rhin.
“Rhin, tenanglah,” ucap Karin. “Kau tidak perlu memintaku pergi, Kean. Aku memang sudah berniat pergi.”
“Sejauh mungkin, kalau bisa,” sahutku.
“KEAN!” teriak Rhin.
“Aku tidak bisa pergi sejauh yang kau mau karena aku tetaplah ibumu,” ujar Karin.
“Terserah,” jawabku. “Aku capek. Aku akan istirahat. Jangan ganggu aku.”
“Kean, makan dulu sup yang dibuatkan ibumu,” kata Rhin sambil menarik lengan bajuku.
“Tidak, terima kasih.”

Aku segera masuk ke dalam kamar. Kuhempaskan tubuhku ke atas ranjang sambil membawa buku sampul coklat. Kudekap buku itu. Di dalam pikiranku, wajah Karin yang menyebalkan masih membayangiku. Melihat wajahnya di dalam pikiranku saja sudah cukup untuk membuat moodku turun drastis.

“Kean? Boleh aku masuk?”

Belum sempat aku menjawab, kepala Rhin sudah masuk ke dalam kamarku. Melihat wajahku yang datar, dia tersenyum. Tak lama kemudian seluruh tubuhnya sudah berada di dalam kamarku. Dia berjalan mendekat, lalu duduk di pinggir ranjangku.

“Kau marah lagi, ya?” tanyanya.
“Kenapa kau membawanya masuk ke rumahku?”
“Nah, kau marah lagi, kan? Tapi aku tidak tau kapan ibumu masuk ke dalam. Saat itu aku sedang berada di halaman. Maaf.”
“Sudah, lupakan.”

Rhin menunduk. Agak lama dia berdiam diri sambil menunduk. Aku merasakan situasi yang sangat tidak nyaman. Hingga akhirnya aku ikut duduk di pinggir ranjang sambil menimang buku sampul coklat.

“Kurasa, aku sudah menemukannya,” ucapku memulai pembicaraan.
“Apa maksudmu?”
“Tugasmu.”
“Tugasku?! Jadi kau sudah tau?!” tanya Rhin, bersemangat.
“Ya, kurasa,” jawabku.
“Apa saja?”
“Tunggu, aku harus menjelaskan beberapa hal kepadamu.”
Rhin menggembungkan kedua pipinya, terlihat sangat lucu. “Apa itu?”
“Yang pertama, nama aslimu adalah Hikari. Dan yang tak kusangka, umurmu 2 tahun lebih tua dariku.”
Mulut Rhin terbuka lebar, “benarkah?”
“Ya. Dan yang kedua, kau mengalami kecelakaan mobil sebulan yang lalu sehingga kehilangan ingatan dan mengalami patah tulang.”
“Mengerikan sekali..”
“Ketiga, kabar baiknya, kau masih bisa bertahan dengan sisa roh yang kau tinggalkan. Kau masih bisa berjalan-jalan. Bagaimana?”

Rhin terdiam. Dia meremas kedua tangannya. “Kean, bukankah seharusnya aku sekarat?”
“Kau memang sekarat,” jawabku. “Semenjak kecelakaan itu, fungsi jantungmu menjadi abnormal.”
Rhin memiringkan kepalanya. “Ab..normal?”
“Ya,” ucapku sambil mengangguk. “Jantungmu bekerja lebih lambat dibandingkan jantung biasanya dan semakin lama aktifitasnya akan semakin menurun.”

Rhin menunduk sambil meremas kedua tangannya. Kurasa dia sangat sedih saat mendengar keadaan belahan jiwanya sedang menderita. Ya, memang seharusnya dia merasa sedih. Tetapi semakin lama Rhin terisak, lalu menangis sekeras-kerasnya. Hal ini membuatku kebingungan setengah mati.

“Rhin, sudahlah. Jangan menangis,” ucapku, mulai menghiburnya.

Rhin tidak menghiraukan ucapanku. Tangisnya malah semakin keras. Dia bahkan sampai merosot dari ranjang dan jatuh terduduk di atas lantai. Dia membenamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya. Aku segera mengambil tindakan. Yaa, tindakan yang biasa dilakukan semua orang ketika melihat orang lain menangis. Meminjami sapu tangan atau memberi tissu.

“Ini, pakailah,” ucapku setelah mengambil sapu tangan dari laci meja kecil di samping ranjang.

Rhin menurunkan kedua telapak tangannya. Dia menoleh, lalu menatapku. Seketika kelopak mataku terbuka lebar. Melihat hal itu, Rhin melakukan hal yang sama. Dia membuka matanya lebar-lebar.

“Apa yang kau lihat?” tanyanya.
“Kau menangis, kan?”
Rhin mengangguk, “iya.”
“Kalau begitu, dimana air matanya?”

Tangis Rhin kembali meledak. Dia menangis histeris. Aku semakin kewalahan dengan keadaan Rhin. Dia tidak berhenti menangis walaupun aku sudah menyuruhnya berhenti. Aku juga sudah minta maaf kalau memang perlakuanku terhadapnya buruk. Aarrgghh! Aku tidak tau apa lagi yang harus kulakukan.

“Rhin, jangan menangis lagi! Please, jangan!”
Tiba-tiba Rhin berhenti menangis. Kemudian dia menoleh ke arahku. “Apa air matanya sudah keluar?” tanyanya sambil menunjuk matanya.
Aku menggeleng. “Tidak ada.”
“Bagaimana ini?! Apa aku memang tidak bisa mengeluarkan air mata?”

Aku hanya bisa mengusap keningku. Rhin memang sulit dimengerti. Ada banyak hal yang harus diungkapkan untuk memahami Rhin. Dan untuk saat ini aku hanya memiliki gambaran luar mengenai Rhin. Kurasa akan ada perjalanan panjang agar aku bisa benar-benar memahaminya.

“Kean, kurasa ada tamu. Belnya berbunyi,” ucap Rhin membuyarkan lamunanku.
“Biar aku saja. Pasti Karin lagi. Dia memang keras kepala.”

Aku keluar dari kamar dan langsung menuju pintu depan. Begitu aku membuka pintu dan melihat siapa tamuku, detak jantungku terasa ingin berhenti. Aku menahan nafasku. Mengapa dia masih berani menunjukkan batang hidungnya di hadapanku?! Apa dia tidak tau malu?!

“Kean? Ak..”
“Pergi.”
“Kean, aku hanya ing..”
“Pergi!”
“Kean, tolong dengarkan aku. Aku ingin minta maaf. Aku akan menj...”
“APA KAU TIDAK MENDENGARNYA?! AKU BILANG, PERGI!”

Sekarang, di hadapanku, dia hanyalah seorang gadis yang menyesali perbuatannya. Paras cantiknya mendadak luntur hanya karena satu kesalahan. Kecil, tetapi fatal. Aku tidak ingin menyalahkannya, tetapi aku terlanjur menyalahkannya. Aku sudah menumpahkan segalanya dan semua itu tidak dapat kutarik kembali.

Aku tidak bisa berlama-lama melihatnya. Karena hal itu dapat mengacaukan pikiranku. Secepat mungkin aku menutup pintu. Tetapi beberapa detik sebelum pintu benar-benar tertutup, dia berteriak..

“Kean, aku masih mencintaimu!”

Aku berusaha menutup telingaku. Aku tidak boleh tergoda lagi. Tidak. Kali ini aku akan benar-benar meninggalkannya. Dan harus. Dia memang spesial, tetapi aku akan memastikan bahwa dia tidak se-spesial yang kupikirkan.

Ketika aku membalikkan badan, kulihat Rhin berdiri menatapku dengan tatapan kosong. Sangat mirip dengan kejadian saat Hikari menatapku. Tetapi saat ini, jantungku berdetak sangat cepat seperti sedang berlari.

“Rhin?”
“Kurasa..kau perlu..waktu sendiri,” ucapnya sambil memalingkan wajah.

Tunggu dulu.. Ada apa ini? Rhin? Apa yang salah? Dan mengapa aku merasa bersalah?

"Rhin!" 

0 komentar:

Posting Komentar