CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 09 Juni 2012

MANNAQUIN'S (2nd)


“Hidup untuk mati. Motto macam apa itu?!”

###

Masih di hari yang sama. Mentari juga masih terik pagi ini. Dan aku masih saja histeris di atas tempat tidurku. Dia terus menerus menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, menyuruhku diam. Tentu saja aku tidak mau.  Bagaimana aku bisa diam kalau dia tetap berada di dekatku. Apa lagi di kamarku, ini kan kamar laki-la..

BUK!
Satu pukulan yang mantap mendarat di kepalaku. Memang tidak terlalu sakit, tetapi usaha yang lumayan untuk membuat orang yang histeris menjadi diam seketika. Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan jengkel. Tetapi dia malah balik menantangku dengan kedua matanya yang hendak keluar. Aduh, dia pasti marah..

“Bisa tidak... kau... MENGUNCI MULUTMU ITU?!” ucapnya sedikit berteriak.

Aku hanya bisa mengangguk perlahan dan menutup mulutku rapat-rapat. Kulihat dia meletakkan bantal yang baru saja digunakan sebagai senjata memukulku, lalu kembali menatapku. Kemudian dia tersenyum. Ketakutanku kembali mencuat. Kugeser badanku sedikit demi sedikit untuk menjauhinya.

“Namaku Rhin,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Apa?”
“Rhin. Tuan Takaaki yang memberiku nama itu.”
“Err, kurasa.. kau harus pulang.. ke Pak Tua itu. Rh... Rhi..”
“Rhin!” potongnya dengan nada tinggi.
“Ya, itu maksudku. Kau, Rhin, harus pulang.. secepatnya. Sangat cepat, kalau perlu,” kataku.
Dia malah tersenyum, “ini rumahku sekarang.”
“APA?!!” teriakku.
“Kau yang memberiku nyawa, jadi aku adalah tanggung jawabmu sekarang,” tuturnya dengan sedikit tertawa.
“BAGAIMANA BISA AKU MEMBERIMU NYAWA?!”

Semakin tinggi tingkat kehisterisanku, semakin lebar senyumnya. Hal ini membuatku berpikir ulang mengapa semua ini terjadi padaku. Apa memang peruntunganku tidak bagus di bulan ini?! Atau ini semacam kutukan turun temurun dari kakek buyutnya buyut-buyutku?!

Kualihkan pemikiranku kepadanya. Kean, dia bukan manusia. Ingat, kemarin dia adalah manekin. Dan sekarang, aku tidak tau makhluk apa dia itu.

“Akan aku jelaskan semuanya sambil berbelanja. Bagaimana?”

###

Aku melirik ke kanan dan ke kiri selama kami menyusuri deretan pertokoan, seolah-olah banyak mata yang memperhatikan kami dan menganggap manekin itu, Rhin, aneh. Tetapi mungkin hanya perasaanku saja. Dia benar-benar terlihat seperti manusia biasa. Jadi semua orang bisa saja tertipu.

Rhin melambaikan tangannya di depan sebuah toko bangunan. Aku menghampirinya dengan langkah setengah hati. Ketika aku sudah berada di sampingnya, dia mulai berceloteh.

“Kau memberiku nyawa, saat kau memilihku,” ucapnya.
“Bagaimana bisa?”
“Tanya saja pada dirimu sendiri. Dari ratusan manekin, mengapa kau menghampiriku? Mengapa kau memelukku?”

Aku terdiam sesaat. Kurasa aku melakukannya karena mabuk. Ya, aku pasti setengah sadar waktu itu. Atau ada alasan lain? Tetapi apa itu? Ah, otakku pasti terlalu shock untuk mengingatnya.

“Kean!” panggil Rhin, dia sudah berada di dalam toko.

Aku menghampirinya. Kulihat di hadapannya ada berkaleng-kaleng cat kayu yang sudah berjajar rapi. Kedua bola matanya berbinar-binar melihat kaleng-kaleng cat itu.

“Menurutmu warna apa yang bagus? Krem, coklat susu, atau yang agak kekuningan ini?” tanyanya.
Kedua alisku terangkat, “untuk apa? Cat lemari-lemariku masih bagus.”
“Siapa bilang ini untuk lemarimu?! Ini untukku!”
“Apa?”
“Ini untuk kulitku,”jelasnya, lagi.

Aku saling berpandangan dengan penjaga toko yang melayani Rhin. Urat maluku pasti sudah terputus saat ini. Tetapi ketika si Penjaga Toko itu membuat lingkaran berulang-ulang di dekat pelipis kanan dengan jari telunjuknya, aku merasa urat maluku tidak jadi terpotong. Opini si Penjaga Toko itu menyelamatkanku dari rasa malu yang berlebihan. Dia menganggap Rhin gila. Dan dengan semangat aku mengangguk.

“Ah, Tuan, apa kau juga punya plamir*?” tanya Rhin.
“I..iya nona. Anda ingin berapa kaleng?”
“Sepuluh!” teriaknya bersemangat.
Aku sedikit meliriknya. “Ehm, kali ini, apa gunanya plamir untukmu?”
“Plamir adalah makanan favoritku.”

Aku terdiam tanpa ekspresi. Ini sudah melebihi akal sehatku. Ketika si Penjaga Toko melirikku meminta persetujuan, aku hanya bisa mengangguk. Sekitar sepuluh menit kemudian kami keluar dari toko bangunan itu dengan menenteng semua keperluan Rhin. Paku, lem kayu, cat, kuas, dan banyak lainnya. Sialnya, aku yang membayar semua itu.

“Aku ingin beli beberapa pakaian,” ucapnya sambil menatapku dengan tatapan memohon.
“Terserah,” jawabku singkat.

Kami sampai di pusat perbelanjaan yang cukup besar di daerah ini. Setelah menitipkan barang-barang belanjaan Rhin, kami mulai menjelajahi setiap butik. Rhin memang memiliki selera yang tinggi untuk masalah pakaian. Aku harus mengingatkannya berulang kali bahwa uang yang akan dia pakai untuk membeli baju-baju elit itu adalah uangku. Artinya, dia berhutang padaku. Tetapi dia selalu menyangkal..

“Tenang, aku pasti bisa membayarnya.”

Pada saat itu juga aku berharap bahwa aku membawa kartu kredit no limit-ku. “Sial!”

Rhin memang keterlaluan. Ada sekitar 20 butik yang sudah kami masuki dan dia belum memenuhi target baju yang harus dibelinya.

“Kurang dua baju lagi, Kean. Ayo semangat!”

Haah, perempuan memang tidak pernah memikirkan laki-laki yang sedang menemaninya berbelanja. Apa wajahku yang ogah-ogahan ini tidak menarik simpatinya untuk berhenti sebentar?! Well, apapun yang kulakukan untuk menghentikannya berbelanja, tidak berhasil. Aku menyerah.

“Bagaimana dengan ini?” tanya Rhin saat mencoba baju yang dia inginkan untuk kesekian kalinya.
Aku meliriknya sekilas. “Kau bisa menentukan sendiri mana yang bagus untukmu.”

Aku tau wajahnya pasti cemberut saat ini. Tetapi aku memang tidak dibutuhkan untuk menilai apa yang pantas dikenakannya. Semua baju yang dia pakai selalu pas. Tidak kekurangan apapun. Tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek, tidak kebesaran, atau yang lainnya. Ah, tentu saja.. Dia kan manekin.

“Kean, kau tau mengapa kau memberikan nyawamu kepadaku?” tanya Rhin tiba-tiba.
“Apa menurutmu aku tau jawabannya?” jawabku ketus.
“Karna kau bilang senyumku manis. Lalu kau bisa saja menyukaiku kalau aku hidup,” tuturnya.

Aku hanya bisa menatapnya tanpa berkedip. Kurasa aku memang pernah mengatakan hal itu di hadapannya. Tetapi pada saat itu aku sedang mabuk. Jadi mana mungkin yang kukatakan bisa dianggap sebagai permintaan yang keluar dari akal sehatku?

“Pernyataan yang paling murni berasal dari alam bawah sadarmu,” ucapnya. “Jadi aku memutuskan untuk menerima pinjaman darimu, berupa nyawa.”

Aku terdiam mendengar kata-katanya. Kurasa hal itu memang benar, tetapi apakah aku benar-benar mengatakan hal paling murni? Jujur aku meragukannya.

Kulihat Rhin kembali ke ruang ganti. Sebaiknya aku menunggu di dekat kasir karna Rhin pasti akan membeli baju yang baru saja dicobanya. Tetapi baru saja aku berdiri, ada dua orang berjas rapi menghadangku. Salah satu di antara mereka mengeluarkan sebuah buku kecil berisi kartu identitas.

“Kami dari M’s F Corporations. Semoga anda tidak keberatan untuk berbicara sebentar, Tuan Kean.”
Aku mengangguk sedikit, “boleh saja.”
“Mari keluar sebentar,” ajak mereka.

Kami bertiga keluar dari butik. Aku memperhatikan kedua orang itu dengan seksama. Wajah mereka sama sekali tidak bersahabat, bahkan terkesan seperti ingin memangsaku. Dada mereka bidang, dan juga berotot. Mereka pastilah golongan bodyguard yang terlatih. Dan hal yang paling membuatku risih adalah salah satu di antara mereka tidak memiliki rambut alias botak.

“Saya rasa anda mengenal gadis ini,” ucap si Botak sambil mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.

Kuambil foto itu, lalu mengamatinya. Aku agak kaget. Di dalam foto itu ada aku dan Rhin yang baru saja keluar dari butik yang kami kunjungi sebelum butik ini. Kapan mereka mengambilnya? Dan mereka menanyakan Rhin. Apa hubungan mereka dengan Rhin? Atau jangan-jangan mereka tau kalau Rhin adalah manekin?!

“Tuan Kean?”
“A..a..ah iya. Dia teman lamaku,” jawabku, berbohong. “Nah, tuan-tuan, boleh kutanya apa alasan kalian menanyakannya?”
“Kami harus menyampaikannya secara langsung kepada teman anda, Tuan Kean.”
Kedua alisku terangkat. Aku mencium adanya hal yang mencurigakan. “Oh, begitu rupanya. Ehm, kalau boleh tau, apa singkatan dari nama perusahaan tempat anda bekerja? M’s F, pastilah sebuah singkatan.”
“Mannaquin’s Freedom,” jawab si Botak.

Dadaku terasa sesak seketika. Mereka tau bahwa Rhin adalah manekin. Kurasa mereka menginginkan sesuatu dari Rhin. Tetapi apa itu? Rhin tidak memiliki apapun. Jadi pastilah yang mereka inginkan adalah Rhin. Mengapa?

“Kean, kurasa kau harus membayar baju ini juga.”

Suara Rhin mengagetkanku. Kulihat dia menenteng sebuah dress biru langit sambil tersenyum. Aku menarik nafas dalam-dalam dan memperhatikan gerak-gerik dari dua orang yang ada di hadapanku.

“Wah, kau pasti Nona Rhin,” sapa si Botak.

Aku sangat kaget, mereka mengetahui namanya. Ini benar-benar mencurigakan. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?!

Rhin mengangguk, “i..iya.”
“Kami dari M’s F Corpora...”
“Ah! Rhin! Coba kulihat baju yang kau pegang itu!” ucapku sambil mengambil baju yang Rhin pegang.
“Kean!”
“Hmm, kurasa baju ini kurang cocok untukmu. Ini terlalu biasa..” celotehku. “Kurasa... baju ini lebih pantas untuk... KALIAN BERDUA!”

Kubuang baju itu ke wajah mereka dan langsung menggandeng Rhin untuk berlari. Rhin terus meronta-ronta. Tetapi aku tetap menggandeng sekaligus sedikit menyeretnya agar kedua bodyguard itu tidak dapat mengikuti kami.

Upayaku sia-sia. Mereka berada tak jauh dari kami. Kukerahkan segenap tenagaku untuk tetap menyeret Rhin pergi. Kami berbelok ke deretan toko sepatu, lalu berlari lurus ke arah lift. Aku segera menekan tombol pemanggil lift. Tetapi lift itu masih berada di lantai teratas, sedangkan kami berada di lantai 4. Dengan cepat aku kembali menyeret Rhin menuju pintu darurat. Kami menuruni setiap anak tangga dengan tergesa-gesa.

“Kean!”

Aku tak menjawabnya. Yang terpenting sekarang adalah kami harus pergi dari sini. Bagaimanapun caranya.

“Kean! Siapa mereka?!” teriak Rhin.

Aku kembali tak menggubrisnya karena aku sedang fokus untuk mengamati keadaan dengan mengintip melalui pintu darurat di lantai 2. Kurasa mereka sudah kehilangan jejak kami. Ya, memag tidak ada tanda-tanda dari mereka. Kami aman, untuk saat ini.

“KEAN! SIAPA MEREKA?!”

Rhin berteriak tepat di telinga kiriku. Aku menggosok telingaku sambil menatapnya dengan tatapan jengkel. “Kau punya speaker di mulutmu, ya?! Bisa tidak, kau TIDAK MENGGUNAKANNYA TEPAT DI TELINGA ORANG?!”

“Itu karna kau tidak menjawab pertanyaanku! Siapa mereka?!”
“Mannaquin’s Freedom,” jawabku.
“Manna.. quin’s?”
“MA-NE-KIN. Kebebasan Manekin, itu artinya.”
“Err-” gumam Rhin dengan wajahnya yang polos dan seolah-olah tidak mengerti apapun.

“Begini,” ucapku memulai penjelasan. “Kau adalah manekin yang hidup. Sedangkan mereka dari perusahaan Mannaquin’s Freedom yang artinya Kebebasan Manekin. Secara logika, mereka menginginkan sesuatu darimu. Dan dengan wajah mereka yang seram, aku menyimpulkan bahwa mereka akan membawa dampak buruk terhadapmu. Kau paham?”

Mimik wajah Rhin benar-benar tidak meyakinkanku bahwa dia paham dengan apa yang kujelaskan padanya. Kurasa aku akan menjadi orang gila kalau Rhin terus berada di dekatku. Dia sangat menguji tingkat kesabaranku.

“Itu mereka!”

Jantungku kembali melompat. Mereka datang lagi! Dengan cepat kuraih tangan Rhin dan kembali menuruni anak tangga. Masih dengan nafas yang tidak beraturan, mereka berada tidak jauh dari kami.

DOR!
Aku berhenti berlari dan menoleh ke arah mereka. Aku sangat tidak percaya bahwa mereka juga menggunakan senjata api untuk menuntaskan tugasnya yang berhubungan dengan Rhin. Mereka memang orang yang berbahaya.

“509! Sudah kukatakan berkali-kali untuk tidak menembak sembarangan! Kau bisa mengenai target!” teriak si Botak kepada rekannya.

Melihat kesempatan untuk melarikan diri, aku segera menarik Rhin keluar melalui pintu darurat di lantai 1. Kami membaur dengan sekumpulan orang yang tengah menonton sebuah acara yang diadakan oleh pemilik pusat perbelanjaan. Kemudian kami keluar dengan shock. Oh bukan, kurasa hanya aku yang terkena shock berat.

###

Hampir jam setengah delapan malam dan Rhin tidak berhenti membicarakan nasib dari semua barang yang sudah ‘dibelinya’ tadi pagi. Memang semua barang Rhin tertinggal. Bahkan aku tidak mengingatnya sama sekali. Ini akibat dua bodyguard seram itu.

“Sudah kukatakan berkali-kali, besok aku akan menyuruh orang untuk mengambilnya!”
“Tapi kalau barangnya hilang? Atau mereka tidak mau mengembalikannya? Bagaimana ini?” ujarnya sambil berjalan mondar-mandir di hadapanku.
“Relakan saja kalau begitu.”
“Kean! Ah, bagaimana ini? Baju-baju itu sangat...”

Aku sangat tidak memahaminya. Bagaimana bisa dia setenang itu dengan kejadian yang baru saja terjadi? Apa dia tidak takut kalau nyawanya terancam? Atau dia memang tidak peduli dengan dirinya sendiri?!

“... Seharusnya kau tidak lupa untuk membawa baju-baju itu sebelum mengajakku lari maraton. Baju-baju itu sangat bagus sekal, sayang kalau...”
“RHIN!” teriakku.
“I..iya?”
“Apa kau benar-benar tidak mengenal mereka?”
Rhin mengangguk, lalu duduk di sampingku. “Hari ini pertama kali aku melihat mereka. Aku tidak mengenal mereka.”
“Lalu kenapa mereka menginginkanmu? Kenapa mereka mengejarmu?”

Rhin terlihat berpikir keras. Dia mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk. Kemudia dia menghela nafas panjang sambil menyandarkan diri pada lengan sofa.

“Mungkin mereka tidak ingin tugasku selesai.”
“Tugas? Tugas apa?” tanyaku penasaran.
“Mungkin lebih tepat kalau disebut tujuan,” ujarnya.
Aku sangat penasaran saat ini, “katakan dengan jelas!”
“Mati,” ucapnya.
“Apa maksudmu?”
Dia menoleh ke arahku, lalu tersenyum. “Aku hidup untuk mati.”
“Apa?”

Rhin berdiri dan berjalan mendekati pintu beranda. Dia menyingkap gorden, lalu membuka pintu itu dan membiarkan udara malam masuk. Rhin membalikkan badan. Kedua tangannya bersila di dadanya.

“Aku hanyalah sebagian roh dari orang yang sedang sekarat dan berdiam diri di dalam manekin untuk menunggu seseorang yang rela memberikan sedikit nyawanya agar aku hidup,” tuturnya.
“Kau sekarat?”
Dia mengangguk. “Aku lelah. Jadi sebagian rohku keluar untuk mencari cara agar aku bisa mati.”
Aku menelan ludah, “Maksudmu, aku memberimu nyawa agar kau bisa meninggal?!”
“Ya.”
“Bagaimana caranya agar kau bisa meninggal?” tanyaku, penasaran.
“Setelah semua tugasku selesai,” jawabnya.
“Memangnya apa tugasmu?”
Rhin tersenyum, “itu tugasmu untuk mencari tau.”
“MAKSUDMU KAU TIDAK TAU APA TUGASMU?!”

Rhin kembali mengangguk sambil tersenyum kepadaku. Well, aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa roh bergentayangan dan masuk ke dalam sebuah manekin? Kalau dia memang sekarat, berarti sebenarnya dia juga manusia?

“Kean, kalau boleh jujur, aku mulai gerah karna memakai baju ini selama satu bulan,” ujarnya sambil melirik blus hijau toska yang dikenakannya.
“Satu bulan?! Kau kan baru hidup selama kurang dari 24 jam!”
“Tapi aku sudah memakai baju ini selama satu bulan.”

Aku berdiri dari sofa, lalu pergi ke kamar. Rhin mengikutiku dari belakang. Ketika aku membuka lemari pakaianku, Rhin langsung mendekat dan memilah-milah pakaianku. Aku hanya bisa menghela nafas sambil menggeleng. Dia memang tidak memiliki sopan satun.

“Aku pinjam ini!” serunya sambil menenteng kaos polo dan boxer hitamku.
“Jangan boxerku!” teriakku sambil merebut boxer dari tangannya.

Aku segera menggembalikan boxer itu ke dalam lemari dan mencari penggantinya untuk Rhin. Tak lama kemudian aku berbalik dan menenteng celana jeans pendekku. Rhin menerimanya dan mulai mengomentari.

“Kenapa celana ini kecil sekali? Ini celana adikmu?”
“Itu memang celanaku. Waktu aku masih SMP.”
“Kenapa masih kau simpan? Celana ini juga sudah jelek dan berlubang,” ucapnya sambil memperlihatkan lubang yang ada di bagian lutut.
“Itu urusanku. Jangan banyak tanya. Pakai saj...”
“Kean? Kau ada di dalam?!”

Kedua mataku terbelalak. Gawat! Suara itu memang suaranya! Bagaimana ini? Kalau dia tau Rhin ada di dalam rumahku, aku pasti tidak akan selamat! Dan Rhin pasti sudah tamat sebelum menyelesaikan tugasnya.

“Kean, ada tamu. Apa kau tidak mau menemui...”
“Rhin, cepat sembunyi di dalam lemari,” perintahku dengan sedikit berbisik.
“Kenapa? Ada apa?”
“Cepat sembunyi!”

Kutarik Rhin ke dalam lemari dan memberinya kode agar dia tidak berisik. Dengan cepat aku menutup pintu lemari, kemudian menuju pintu kamar dan bersiap membukanya.

“Sudah kuduga kalau kau berada di dalam kamar,” ucapnya sambil membuka pintu kamar, mendahuluiku.
“Lalu?” tanyaku sambil sebisa mungkin menenangkan diri.
“Bersama wanita. Dimana kau menyembunyikannya?”
“Ini bukan urusanmu.”
“Biar kutebak. Di dalam lemari?”

Detak jantungku terasa ingin berhenti. Mengapa dia selalu tau segalanya?! Bahkan detail yang paling kecil dalam hidupku. Dia memang orang yang menyebalkan. Paling menyebalkan dalam hidupku.

“Kau pasti tidak keberatan kalau aku melihat isi lemarimu, kan?” tanyanya, sok sopan.
“Kurasa kau selalu masuk tanpa izin dan sepengetahuanku. Jadi kenapa sekarang kau meminta izin?”
“Kalau begitu aku akan memeriksanya.”

Dia masuk ke kamarku, lalu berhenti tepat di depan lemari. Dia sempat melirikku sebelum membuka lemari. Kurasa dia mengejekku. Sialan.

“Oh!” serunya setelah membuka lemari.
“Sial,” gumamku.
“Lemarimu sangat berantakan! Kau jorok sekali!”
“Apa?”

Aku berjalan menghampirinya. Kulihat semua pakaianku memang berantakan dan Rhin.. Rhin tidak ada! RHIN TIDAK ADA DI DALAM LEMARIKU! Dimana? Dimana dia?!

“Kau mencari sesuatu? Apa wanita... Ah, jadi kau benar-benar menyembunyikan wanita di dalam lemari?!”
“Diam!”

Kalau Rhin tidak ada di dalam lemari, berarti dimana dia? Kapan dia keluar dari lemari? Dan bagaimana bisa dia keluar? Bagaimana bisa?

“AAAAAAAAAA!!!”
“Rhin? RHIN!!”

###

Bersambung :)

#Askaward