“Hidup untuk mati. Motto macam apa itu?!”
###
Masih di hari yang sama. Mentari juga
masih terik pagi ini. Dan aku masih saja histeris di atas tempat tidurku. Dia
terus menerus menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, menyuruhku diam. Tentu
saja aku tidak mau. Bagaimana aku bisa
diam kalau dia tetap berada di dekatku. Apa lagi di kamarku, ini kan kamar
laki-la..
BUK!
Satu pukulan yang mantap mendarat di
kepalaku. Memang tidak terlalu sakit, tetapi usaha yang lumayan untuk membuat
orang yang histeris menjadi diam seketika. Aku menoleh ke arahnya dengan
tatapan jengkel. Tetapi dia malah balik menantangku dengan kedua matanya yang
hendak keluar. Aduh, dia pasti marah..
“Bisa tidak... kau... MENGUNCI MULUTMU
ITU?!” ucapnya sedikit berteriak.
Aku hanya bisa mengangguk perlahan dan
menutup mulutku rapat-rapat. Kulihat dia meletakkan bantal yang baru saja
digunakan sebagai senjata memukulku, lalu kembali menatapku. Kemudian dia
tersenyum. Ketakutanku kembali mencuat. Kugeser badanku sedikit demi sedikit
untuk menjauhinya.
“Namaku Rhin,” ucapnya memperkenalkan
diri.
“Apa?”
“Rhin. Tuan Takaaki yang memberiku nama
itu.”
“Err, kurasa.. kau harus pulang.. ke Pak
Tua itu. Rh... Rhi..”
“Rhin!” potongnya dengan nada tinggi.
“Ya, itu maksudku. Kau, Rhin, harus
pulang.. secepatnya. Sangat cepat, kalau perlu,” kataku.
Dia malah tersenyum, “ini rumahku
sekarang.”
“APA?!!” teriakku.
“Kau yang memberiku nyawa, jadi aku
adalah tanggung jawabmu sekarang,” tuturnya dengan sedikit tertawa.
“BAGAIMANA BISA AKU MEMBERIMU NYAWA?!”
Semakin tinggi tingkat kehisterisanku,
semakin lebar senyumnya. Hal ini membuatku berpikir ulang mengapa semua ini
terjadi padaku. Apa memang peruntunganku tidak bagus di bulan ini?! Atau ini
semacam kutukan turun temurun dari kakek buyutnya buyut-buyutku?!
Kualihkan pemikiranku kepadanya. Kean,
dia bukan manusia. Ingat, kemarin dia adalah manekin. Dan sekarang, aku tidak
tau makhluk apa dia itu.
“Akan aku jelaskan semuanya sambil
berbelanja. Bagaimana?”
###
Aku melirik ke kanan dan ke kiri selama
kami menyusuri deretan pertokoan, seolah-olah banyak mata yang memperhatikan
kami dan menganggap manekin itu, Rhin, aneh. Tetapi mungkin hanya perasaanku
saja. Dia benar-benar terlihat seperti manusia biasa. Jadi semua orang bisa
saja tertipu.
Rhin melambaikan tangannya di depan
sebuah toko bangunan. Aku menghampirinya dengan langkah setengah hati. Ketika
aku sudah berada di sampingnya, dia mulai berceloteh.
“Kau memberiku nyawa, saat kau
memilihku,” ucapnya.
“Bagaimana bisa?”
“Tanya saja pada dirimu sendiri. Dari ratusan
manekin, mengapa kau menghampiriku? Mengapa kau memelukku?”
Aku terdiam sesaat. Kurasa aku
melakukannya karena mabuk. Ya, aku pasti setengah sadar waktu itu. Atau ada
alasan lain? Tetapi apa itu? Ah, otakku pasti terlalu shock untuk mengingatnya.
“Kean!” panggil Rhin, dia sudah berada di
dalam toko.
Aku menghampirinya. Kulihat di hadapannya
ada berkaleng-kaleng cat kayu yang sudah berjajar rapi. Kedua bola matanya
berbinar-binar melihat kaleng-kaleng cat itu.
“Menurutmu warna apa yang bagus? Krem,
coklat susu, atau yang agak kekuningan ini?” tanyanya.
Kedua alisku terangkat, “untuk apa? Cat
lemari-lemariku masih bagus.”
“Siapa bilang ini untuk lemarimu?! Ini
untukku!”
“Apa?”
“Ini untuk kulitku,”jelasnya, lagi.
Aku saling berpandangan dengan penjaga
toko yang melayani Rhin. Urat maluku pasti sudah terputus saat ini. Tetapi
ketika si Penjaga Toko itu membuat lingkaran berulang-ulang di dekat pelipis
kanan dengan jari telunjuknya, aku merasa urat maluku tidak jadi terpotong.
Opini si Penjaga Toko itu menyelamatkanku dari rasa malu yang berlebihan. Dia
menganggap Rhin gila. Dan dengan semangat aku mengangguk.
“Ah, Tuan, apa kau juga punya plamir*?”
tanya Rhin.
“I..iya nona. Anda ingin berapa kaleng?”
“Sepuluh!” teriaknya bersemangat.
Aku sedikit meliriknya. “Ehm, kali ini,
apa gunanya plamir untukmu?”
“Plamir adalah makanan favoritku.”
Aku terdiam tanpa ekspresi. Ini sudah
melebihi akal sehatku. Ketika si Penjaga Toko melirikku meminta persetujuan,
aku hanya bisa mengangguk. Sekitar sepuluh menit kemudian kami keluar dari toko
bangunan itu dengan menenteng semua keperluan Rhin. Paku, lem kayu, cat, kuas, dan
banyak lainnya. Sialnya, aku yang membayar semua itu.
“Aku ingin beli beberapa pakaian,”
ucapnya sambil menatapku dengan tatapan memohon.
“Terserah,” jawabku singkat.
Kami sampai di pusat perbelanjaan yang
cukup besar di daerah ini. Setelah menitipkan barang-barang belanjaan Rhin,
kami mulai menjelajahi setiap butik. Rhin memang memiliki selera yang tinggi
untuk masalah pakaian. Aku harus mengingatkannya berulang kali bahwa uang yang
akan dia pakai untuk membeli baju-baju elit itu adalah uangku. Artinya, dia
berhutang padaku. Tetapi dia selalu menyangkal..
“Tenang, aku pasti bisa membayarnya.”
Pada saat itu juga aku berharap bahwa aku
membawa kartu kredit no limit-ku. “Sial!”
Rhin memang keterlaluan. Ada sekitar 20
butik yang sudah kami masuki dan dia belum memenuhi target baju yang harus
dibelinya.
“Kurang dua baju lagi, Kean. Ayo
semangat!”
Haah, perempuan memang tidak pernah
memikirkan laki-laki yang sedang menemaninya berbelanja. Apa wajahku yang
ogah-ogahan ini tidak menarik simpatinya untuk berhenti sebentar?! Well, apapun
yang kulakukan untuk menghentikannya berbelanja, tidak berhasil. Aku menyerah.
“Bagaimana dengan ini?” tanya Rhin saat
mencoba baju yang dia inginkan untuk kesekian kalinya.
Aku meliriknya sekilas. “Kau bisa
menentukan sendiri mana yang bagus untukmu.”
Aku tau wajahnya pasti cemberut saat ini.
Tetapi aku memang tidak dibutuhkan untuk menilai apa yang pantas dikenakannya. Semua
baju yang dia pakai selalu pas. Tidak kekurangan apapun. Tidak terlalu panjang,
tidak terlalu pendek, tidak kebesaran, atau yang lainnya. Ah, tentu saja.. Dia
kan manekin.
“Kean, kau tau mengapa kau memberikan
nyawamu kepadaku?” tanya Rhin tiba-tiba.
“Apa menurutmu aku tau jawabannya?”
jawabku ketus.
“Karna kau bilang senyumku manis. Lalu
kau bisa saja menyukaiku kalau aku hidup,” tuturnya.
Aku hanya bisa menatapnya tanpa berkedip.
Kurasa aku memang pernah mengatakan hal itu di hadapannya. Tetapi pada saat itu
aku sedang mabuk. Jadi mana mungkin yang kukatakan bisa dianggap sebagai
permintaan yang keluar dari akal sehatku?
“Pernyataan yang paling murni berasal
dari alam bawah sadarmu,” ucapnya. “Jadi aku memutuskan untuk menerima pinjaman
darimu, berupa nyawa.”
Aku terdiam mendengar kata-katanya.
Kurasa hal itu memang benar, tetapi apakah aku benar-benar mengatakan hal
paling murni? Jujur aku meragukannya.
Kulihat Rhin kembali ke ruang ganti. Sebaiknya
aku menunggu di dekat kasir karna Rhin pasti akan membeli baju yang baru saja
dicobanya. Tetapi baru saja aku berdiri, ada dua orang berjas rapi
menghadangku. Salah satu di antara mereka mengeluarkan sebuah buku kecil berisi
kartu identitas.
“Kami dari M’s F Corporations. Semoga
anda tidak keberatan untuk berbicara sebentar, Tuan Kean.”
Aku mengangguk sedikit, “boleh saja.”
“Mari keluar sebentar,” ajak mereka.
Kami bertiga keluar dari butik. Aku
memperhatikan kedua orang itu dengan seksama. Wajah mereka sama sekali tidak
bersahabat, bahkan terkesan seperti ingin memangsaku. Dada mereka bidang, dan
juga berotot. Mereka pastilah golongan bodyguard yang terlatih. Dan hal yang
paling membuatku risih adalah salah satu di antara mereka tidak memiliki rambut
alias botak.
“Saya rasa anda mengenal gadis ini,” ucap
si Botak sambil mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.
Kuambil foto itu, lalu mengamatinya. Aku
agak kaget. Di dalam foto itu ada aku dan Rhin yang baru saja keluar dari butik
yang kami kunjungi sebelum butik ini. Kapan mereka mengambilnya? Dan mereka
menanyakan Rhin. Apa hubungan mereka dengan Rhin? Atau jangan-jangan mereka tau
kalau Rhin adalah manekin?!
“Tuan Kean?”
“A..a..ah iya. Dia teman lamaku,”
jawabku, berbohong. “Nah, tuan-tuan, boleh kutanya apa alasan kalian
menanyakannya?”
“Kami harus menyampaikannya secara
langsung kepada teman anda, Tuan Kean.”
Kedua alisku terangkat. Aku mencium
adanya hal yang mencurigakan. “Oh, begitu rupanya. Ehm, kalau boleh tau, apa
singkatan dari nama perusahaan tempat anda bekerja? M’s F, pastilah sebuah
singkatan.”
“Mannaquin’s Freedom,” jawab si Botak.
Dadaku terasa sesak seketika. Mereka tau
bahwa Rhin adalah manekin. Kurasa mereka menginginkan sesuatu dari Rhin. Tetapi
apa itu? Rhin tidak memiliki apapun. Jadi pastilah yang mereka inginkan adalah
Rhin. Mengapa?
“Kean, kurasa kau harus membayar baju ini
juga.”
Suara Rhin mengagetkanku. Kulihat dia menenteng
sebuah dress biru langit sambil tersenyum. Aku menarik nafas dalam-dalam dan
memperhatikan gerak-gerik dari dua orang yang ada di hadapanku.
“Wah, kau pasti Nona Rhin,” sapa si
Botak.
Aku sangat kaget, mereka mengetahui
namanya. Ini benar-benar mencurigakan. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?!
Rhin mengangguk, “i..iya.”
“Kami dari M’s F Corpora...”
“Ah! Rhin! Coba kulihat baju yang kau
pegang itu!” ucapku sambil mengambil baju yang Rhin pegang.
“Kean!”
“Hmm, kurasa baju ini kurang cocok
untukmu. Ini terlalu biasa..” celotehku. “Kurasa... baju ini lebih pantas
untuk... KALIAN BERDUA!”
Kubuang baju itu ke wajah mereka dan
langsung menggandeng Rhin untuk berlari. Rhin terus meronta-ronta. Tetapi aku
tetap menggandeng sekaligus sedikit menyeretnya agar kedua bodyguard itu tidak
dapat mengikuti kami.
Upayaku sia-sia. Mereka berada tak jauh dari
kami. Kukerahkan segenap tenagaku untuk tetap menyeret Rhin pergi. Kami
berbelok ke deretan toko sepatu, lalu berlari lurus ke arah lift. Aku segera
menekan tombol pemanggil lift. Tetapi lift itu masih berada di lantai teratas,
sedangkan kami berada di lantai 4. Dengan cepat aku kembali menyeret Rhin
menuju pintu darurat. Kami menuruni setiap anak tangga dengan tergesa-gesa.
“Kean!”
Aku tak menjawabnya. Yang terpenting
sekarang adalah kami harus pergi dari sini. Bagaimanapun caranya.
“Kean! Siapa mereka?!” teriak Rhin.
Aku kembali tak menggubrisnya karena aku
sedang fokus untuk mengamati keadaan dengan mengintip melalui pintu darurat di
lantai 2. Kurasa mereka sudah kehilangan jejak kami. Ya, memag tidak ada
tanda-tanda dari mereka. Kami aman, untuk saat ini.
“KEAN! SIAPA MEREKA?!”
Rhin berteriak tepat di telinga kiriku.
Aku menggosok telingaku sambil menatapnya dengan tatapan jengkel. “Kau punya
speaker di mulutmu, ya?! Bisa tidak, kau TIDAK MENGGUNAKANNYA TEPAT DI TELINGA
ORANG?!”
“Itu karna kau tidak menjawab
pertanyaanku! Siapa mereka?!”
“Mannaquin’s Freedom,” jawabku.
“Manna.. quin’s?”
“MA-NE-KIN. Kebebasan Manekin, itu
artinya.”
“Err-” gumam Rhin dengan wajahnya yang
polos dan seolah-olah tidak mengerti apapun.
“Begini,” ucapku memulai penjelasan. “Kau
adalah manekin yang hidup. Sedangkan mereka dari perusahaan Mannaquin’s Freedom
yang artinya Kebebasan Manekin. Secara logika, mereka menginginkan sesuatu
darimu. Dan dengan wajah mereka yang seram, aku menyimpulkan bahwa mereka akan
membawa dampak buruk terhadapmu. Kau paham?”
Mimik wajah Rhin benar-benar tidak
meyakinkanku bahwa dia paham dengan apa yang kujelaskan padanya. Kurasa aku
akan menjadi orang gila kalau Rhin terus berada di dekatku. Dia sangat menguji
tingkat kesabaranku.
“Itu mereka!”
Jantungku kembali melompat. Mereka datang
lagi! Dengan cepat kuraih tangan Rhin dan kembali menuruni anak tangga. Masih
dengan nafas yang tidak beraturan, mereka berada tidak jauh dari kami.
DOR!
Aku berhenti berlari dan menoleh ke arah
mereka. Aku sangat tidak percaya bahwa mereka juga menggunakan senjata api
untuk menuntaskan tugasnya yang berhubungan dengan Rhin. Mereka memang orang
yang berbahaya.
“509! Sudah kukatakan berkali-kali untuk
tidak menembak sembarangan! Kau bisa mengenai target!” teriak si Botak kepada
rekannya.
Melihat kesempatan untuk melarikan diri,
aku segera menarik Rhin keluar melalui pintu darurat di lantai 1. Kami membaur
dengan sekumpulan orang yang tengah menonton sebuah acara yang diadakan oleh
pemilik pusat perbelanjaan. Kemudian kami keluar dengan shock. Oh bukan, kurasa
hanya aku yang terkena shock berat.
###
Hampir jam setengah delapan malam dan
Rhin tidak berhenti membicarakan nasib dari semua barang yang sudah ‘dibelinya’
tadi pagi. Memang semua barang Rhin tertinggal. Bahkan aku tidak mengingatnya
sama sekali. Ini akibat dua bodyguard seram itu.
“Sudah kukatakan berkali-kali, besok aku
akan menyuruh orang untuk mengambilnya!”
“Tapi kalau barangnya hilang? Atau mereka
tidak mau mengembalikannya? Bagaimana ini?” ujarnya sambil berjalan
mondar-mandir di hadapanku.
“Relakan saja kalau begitu.”
“Kean! Ah, bagaimana ini? Baju-baju itu
sangat...”
Aku sangat tidak memahaminya. Bagaimana
bisa dia setenang itu dengan kejadian yang baru saja terjadi? Apa dia tidak
takut kalau nyawanya terancam? Atau dia memang tidak peduli dengan dirinya
sendiri?!
“... Seharusnya kau tidak lupa untuk
membawa baju-baju itu sebelum mengajakku lari maraton. Baju-baju itu sangat
bagus sekal, sayang kalau...”
“RHIN!” teriakku.
“I..iya?”
“Apa kau benar-benar tidak mengenal
mereka?”
Rhin mengangguk, lalu duduk di sampingku.
“Hari ini pertama kali aku melihat mereka. Aku tidak mengenal mereka.”
“Lalu kenapa mereka menginginkanmu?
Kenapa mereka mengejarmu?”
Rhin terlihat berpikir keras. Dia
mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk. Kemudia dia menghela nafas
panjang sambil menyandarkan diri pada lengan sofa.
“Mungkin mereka tidak ingin tugasku
selesai.”
“Tugas? Tugas apa?” tanyaku penasaran.
“Mungkin lebih tepat kalau disebut
tujuan,” ujarnya.
Aku sangat penasaran saat ini, “katakan
dengan jelas!”
“Mati,” ucapnya.
“Apa maksudmu?”
Dia menoleh ke arahku, lalu tersenyum.
“Aku hidup untuk mati.”
“Apa?”
Rhin berdiri dan berjalan mendekati pintu
beranda. Dia menyingkap gorden, lalu membuka pintu itu dan membiarkan udara
malam masuk. Rhin membalikkan badan. Kedua tangannya bersila di dadanya.
“Aku hanyalah sebagian roh dari orang
yang sedang sekarat dan berdiam diri di dalam manekin untuk menunggu seseorang
yang rela memberikan sedikit nyawanya agar aku hidup,” tuturnya.
“Kau sekarat?”
Dia mengangguk. “Aku lelah. Jadi sebagian
rohku keluar untuk mencari cara agar aku bisa mati.”
Aku menelan ludah, “Maksudmu, aku
memberimu nyawa agar kau bisa meninggal?!”
“Ya.”
“Bagaimana caranya agar kau bisa
meninggal?” tanyaku, penasaran.
“Setelah semua tugasku selesai,”
jawabnya.
“Memangnya apa tugasmu?”
Rhin tersenyum, “itu tugasmu untuk
mencari tau.”
“MAKSUDMU KAU TIDAK TAU APA TUGASMU?!”
Rhin kembali mengangguk sambil tersenyum
kepadaku. Well, aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa roh bergentayangan dan
masuk ke dalam sebuah manekin? Kalau dia memang sekarat, berarti sebenarnya dia
juga manusia?
“Kean, kalau boleh jujur, aku mulai gerah
karna memakai baju ini selama satu bulan,” ujarnya sambil melirik blus hijau
toska yang dikenakannya.
“Satu bulan?! Kau kan baru hidup selama
kurang dari 24 jam!”
“Tapi aku sudah memakai baju ini selama
satu bulan.”
Aku berdiri dari sofa, lalu pergi ke
kamar. Rhin mengikutiku dari belakang. Ketika aku membuka lemari pakaianku,
Rhin langsung mendekat dan memilah-milah pakaianku. Aku hanya bisa menghela
nafas sambil menggeleng. Dia memang tidak memiliki sopan satun.
“Aku pinjam ini!” serunya sambil
menenteng kaos polo dan boxer hitamku.
“Jangan boxerku!” teriakku sambil merebut
boxer dari tangannya.
Aku segera menggembalikan boxer itu ke
dalam lemari dan mencari penggantinya untuk Rhin. Tak lama kemudian aku berbalik
dan menenteng celana jeans pendekku. Rhin menerimanya dan mulai mengomentari.
“Kenapa celana ini kecil sekali? Ini
celana adikmu?”
“Itu memang celanaku. Waktu aku masih
SMP.”
“Kenapa masih kau simpan? Celana ini juga
sudah jelek dan berlubang,” ucapnya sambil memperlihatkan lubang yang ada di
bagian lutut.
“Itu urusanku. Jangan banyak tanya. Pakai
saj...”
“Kean? Kau ada di dalam?!”
Kedua mataku terbelalak. Gawat! Suara itu
memang suaranya! Bagaimana ini? Kalau dia tau Rhin ada di dalam rumahku, aku pasti
tidak akan selamat! Dan Rhin pasti sudah tamat sebelum menyelesaikan tugasnya.
“Kean, ada tamu. Apa kau tidak mau
menemui...”
“Rhin, cepat sembunyi di dalam lemari,”
perintahku dengan sedikit berbisik.
“Kenapa? Ada apa?”
“Cepat sembunyi!”
Kutarik Rhin ke dalam lemari dan
memberinya kode agar dia tidak berisik. Dengan cepat aku menutup pintu lemari,
kemudian menuju pintu kamar dan bersiap membukanya.
“Sudah kuduga kalau kau berada di dalam
kamar,” ucapnya sambil membuka pintu kamar, mendahuluiku.
“Lalu?” tanyaku sambil sebisa mungkin
menenangkan diri.
“Bersama wanita. Dimana kau
menyembunyikannya?”
“Ini bukan urusanmu.”
“Biar kutebak. Di dalam lemari?”
Detak jantungku terasa ingin berhenti. Mengapa
dia selalu tau segalanya?! Bahkan detail yang paling kecil dalam hidupku. Dia
memang orang yang menyebalkan. Paling menyebalkan dalam hidupku.
“Kau pasti tidak keberatan kalau aku
melihat isi lemarimu, kan?” tanyanya, sok sopan.
“Kurasa kau selalu masuk tanpa izin dan
sepengetahuanku. Jadi kenapa sekarang kau meminta izin?”
“Kalau begitu aku akan memeriksanya.”
Dia masuk ke kamarku, lalu berhenti tepat
di depan lemari. Dia sempat melirikku sebelum membuka lemari. Kurasa dia
mengejekku. Sialan.
“Oh!” serunya setelah membuka lemari.
“Sial,” gumamku.
“Lemarimu sangat berantakan! Kau jorok
sekali!”
“Apa?”
Aku berjalan menghampirinya. Kulihat semua
pakaianku memang berantakan dan Rhin.. Rhin tidak ada! RHIN TIDAK ADA DI DALAM
LEMARIKU! Dimana? Dimana dia?!
“Kau mencari sesuatu? Apa wanita... Ah,
jadi kau benar-benar menyembunyikan wanita di dalam lemari?!”
“Diam!”
Kalau Rhin tidak ada di dalam lemari,
berarti dimana dia? Kapan dia keluar dari lemari? Dan bagaimana bisa dia
keluar? Bagaimana bisa?
“AAAAAAAAAA!!!”
“Rhin? RHIN!!”
###
Bersambung :)
#Askaward
0 komentar:
Posting Komentar