CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 09 Juni 2012

MANNAQUIN'S (1st)


“Bukan berarti yang tidak bernyawa, tidak memiliki nyawa. Percayalah!”

###

Berbekal sebotol bir yang tinggal setengah di tangan kanan, aku berjalan sempoyongan, tak tentu arah. Aku tertawa kecil ketika melihat refleksiku di etalase toko. Lucu juga melihat diriku yang sebenarnya tidak tahan minum, menjadi mabuk malam ini. Kedua mataku memerah, pipiku terasa terbakar, dan tenggorokanku serak seketika. Aku memang bukan peminum yang baik.

Kusandarkan tubuhku di etalase toko sambil menatap cincin yang masih terpasang di jari manis kiriku. Masalah itu kembali terlintas. Penghianatan tidak bisa kutolerir. Kebohongan bukanlah hal yang patut kubanggakan darinya. Jadi kurasa semuanya sudah selesai. Semoga.

Hampir jam 11 malam ketika aku tersadar dari lamunanku. Aku berniat pulang ke rumah saat makhluk berbulu lebat, memiliki taring yang sangat runcing, kedua bola matanya menyala-nyala, dan sedang menggeram mengerikan, ada di hadapanku. Dengan bentuknya yang selalu membuat seluruh bulu kudukku berdiri, jadi tidak heran apabila aku berlari menyelamatkan diri dari makhluk itu.

“Miaw! Miaw!”

Dari kejauhan aku masih bisa mendengar suaranya. Tetapi makhluk itu sudah tidak terlihat lagi. Jadi kemungkinan besar aku sudah aman. Tetapi keita aku melihat daerah sekelilingku, tidak ada satu bangunanpun yang kukenal. Hal ini membuat bulu kudukku kembali berdiri. Aku berjalan perlahan menyusuri deretan butik dan tailor, hingga akhirnya sampai di depan sebuah gedung pabrik. Jane’s mannaquin. Tulisan itu terpampang cukup besar di tengah pintu gerbangnya.

“Kali ini dia melakukan kesalahan lagi,”ucap seorang pria gemuk yang baru saja keluar dari pintu gerbang.

Begitu melihatnya, aku segera bersembunyi di sebuah celah antara pos kecil yang kosong dengan gerbang. Kugosok telingaku supaya dapat mendengar lebih jelas.

“Aku sudah berkali-kali mengatakan pada Jane untuk mengganti si tua bangka itu!” sahut seseorang yang berada di belakang pria tadi.
“Tapi dia tetap mempertahankannya! Itu yang membuatku kesal! Si tua Takaaki itu selalu membuat keuangan pabrik kocar-kacir karna kesalahannya,” timpal pria gemuk.
“Kita seharusnya bisa memecatnya. Ah, aku tau apa yang ha...”

Suara kedua pria itu semakin mengecil seiring dengan menjauhnya mereka dari tempat persembunyianku. Kepalaku menjulur keluar melihat apakah mereka benar-benar sudah pergi. Ketika sudah yakin, barulah aku keluar dan kembali berdiri di depan gerbang Jane’s mannaquin.  Karena penasaran dengan apa yang membuat kedua pria tadi marah kepada si Tua Takaaki, maka aku membuka gerbang dan masuk ke dalam Jane’s mannaquin.

Aroma kayu dan cat berbaur menjadi satu. Kurasa oksigen sangat tipis di dalam pabrik ini. Aku harus benar-benar menghirup dalam-dalam untuk mendapatkan oksigen. Banyak kayu yang berserakan dan beberapa potongan tubuh manusia. Tentunya terbuat dari kayu juga. Semakin kedalam, bau cat semakin menusuk hidung. Di sini terdapat puluhan, bahkan ratusan manekin. Semua manekin itu terlihat sempurna. Tinggi, berparas elok, dan mengenakan baju-baju yang modis.

Aku berkeliling di antara ratusan manekin itu, hingga kulihat ada sekelompok manekin yang terpisah jauh dari manekin lainnya. Ketika kuhampiri, ternyata manekin-manekin itu sangat berbeda dengan ratusan manekin yang tadi kulihat. Manekin-manekin ini cacat. Ada yang jarinya kelebihan 1 atau 2, wajahnya tidak proporsional, terlalu tinggi, dan banyak lainnya. Ada satu manekin yang menarik perhatianku. Manekin ini tidak terlihat cacat. Bahkan dia terlihat sangat lucu dengan setelan blus hijau toska dan rok hitam selutut. Wajahnya sangat ceria, membuatku sedikit terpengaruh.

“Apa-apan aku ini!”

Aku meninggalkan sekelompok manekin itu, lalu duduk di dekat beberapa balok kayu. Kuhabiskan sisa birku dan kepalaku mendadak pusing. Lucunya, aku melihat manekin hijau toska itu melambai-lambai ke arahku. Dengan agak malas, aku menghampirinya. Dia tersunyum malu sambil merapikan poninya ketika aku sudah berda di hadapannya. Tiba-tiba dia memelukku dan menenggelamkan wajahnya di dadaku. Meskipun kaget dan bingung, entah kenapa aku bisa balik memeluknya dengan sangat tenang.

Rasanya seperti memeluk manusia, bukan kayu berbentuk manusia. Hanya saja dia sangat dingin, tidak seperti manusia yang memiliki panas tubuh. Ketika kumengusap rambutnya, terasa halus. Tetapi masih ada kesan bahwa rambut itu adalah wig. Ketika aku beralih untuk meihat wajahnya, dia sedang tersenyum sambil manatapku. Senyumnya manis sekali. Sangat manis. Kalau saja dia benar-benar hidup seperti manusia, pastinya dia akan digilai banyak laki-laki. Tidak menutup kemungkinan salah satunya adalah aku.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?!”

Refleks aku menoleh ke sumber suara yang parau itu. Dia seorang pria tua dengan badan yang sedikit bungkuk. Dengan lampu senternya, dia menyorotku. “Apa yang kau lakukan dengan manekinku?!”

Secepat mungkin aku melepaskan pelukanku. Dan aku baru menyadari bahwa manekin hijau toska itu tetap menjadi manekin. Maksudku, tidak hidup! Apa tadi aku mabuk?

“Hei! Aku tanya padamu, apa yang kau lakukan dengan manekinku!” seru pria tua itu untuk kesekian kalinya.
“Ak..aku hanya.. aku hanya mab...”
“Tak apa Tuan Takaaki. Dia tidak berbuat apapun,” jawab seorang perempuan dari belakangku.

Ketika aku berbalik untuk melihat siapa yang membelaku, rasanya aku ingin pingsan. Manekin hijau toska itu hidup lagi. Dan entah apakah aku masih mabuk atau tidak. Aku hanya berharap bahwa aku masih mabuk.

“Rhin? Kau...”
“Ya, Tuan Takaaki. Terima kasih untuk segalanya,” ucap manekin itu.
“Kau harus jaga diri, Rhin. Jangan berbuat hal yang bisa membahayakanmu,” jawab Tuan Takaaki.
“Tentu saja. Aku yakin Kean bisa melakukan tugasnya.”
“BAGAIMANA BISA KAU TAU NAMAKU?!! TUGAS?! TUGAS APA MAKSUDMU?!” teriakku histeris.

Manekin hijau toska itu menatapku sambil tersenyum. “Kau akan membantuku menyelesaikan masalah yang belum sempat kuselesaikan,” ucapnya dengan nada yang sangat manis.

Meskipun dia terlihat seperti perempuan sempurna, tetapi bagiku dia tetap makhluk, atau kayu yang bisa berjalan, atau monster aneh yang terperangkap dalam manekin! Aku mundur selangkah, lagi, dan lagi. Otakku sudah berjalan ke segala arah. Manekin-manekin ini pasti akan menguasai dunia, atau mereka akan membuat manusia-manusia menjadi budak, atau mereka akan memangsa manusia!

“Kean? Kean?”
“AAAAAAARRRRRGGGGHHHH!!!”

Kelopak mataku terbuka sangat lebar. Tubuhku berguncang hebat. Tetapi ketika kulihat sekelilingku, tubuhku kembali normal. Sekarang, aku berada di dalam kamarku. Dan kurasa kejadian manekin itu hanyalah mimpi. Aku menghela nafas lega. Untunglah kejadian itu hanya mimpi.

“Mau minum?” tanya seseorang dari sampingku.

Ketika kutolehkan wajahku, jantungku terasa ingin berhenti berdetak. Bagaimana bisa dia ada di sini?! Bagaimana bisa dia tau dimana rumahku?!

“Ah, kau pasti kaget. Kemarin kau pingsan dan aku membawamu pulang,” jawabnya.
“Kemarin... bukan mimpi?”
“Tentu saja bukan. Ehm, kau mau minum apa? Air putih, teh, atau lainnya, mungkin?”

Aku menatapnya tanpa berkedip dan berusaha untuk bernafas senormal mungkin. Tetapi semakin melihatnya yang tersenyum segembira itu membuat bulu kudukku semakin berdiri.

“Kean? Kau tidak apa-ap...”
“AAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHH!!!!!!!”

###

Bersambung :)

#Askaward

0 komentar:

Posting Komentar