“Bukan
berarti yang tidak bernyawa, tidak memiliki nyawa. Percayalah!”
###
Berbekal
sebotol bir yang tinggal setengah di tangan kanan, aku berjalan sempoyongan,
tak tentu arah. Aku tertawa kecil ketika melihat refleksiku di etalase toko.
Lucu juga melihat diriku yang sebenarnya tidak tahan minum, menjadi mabuk malam
ini. Kedua mataku memerah, pipiku terasa terbakar, dan tenggorokanku serak
seketika. Aku memang bukan peminum yang baik.
Kusandarkan
tubuhku di etalase toko sambil menatap cincin yang masih terpasang di jari
manis kiriku. Masalah itu kembali terlintas. Penghianatan tidak bisa kutolerir.
Kebohongan bukanlah hal yang patut kubanggakan darinya. Jadi kurasa semuanya
sudah selesai. Semoga.
Hampir
jam 11 malam ketika aku tersadar dari lamunanku. Aku berniat pulang ke rumah
saat makhluk berbulu lebat, memiliki taring yang sangat runcing, kedua bola
matanya menyala-nyala, dan sedang menggeram mengerikan, ada di hadapanku.
Dengan bentuknya yang selalu membuat seluruh bulu kudukku berdiri, jadi tidak
heran apabila aku berlari menyelamatkan diri dari makhluk itu.
“Miaw!
Miaw!”
Dari
kejauhan aku masih bisa mendengar suaranya. Tetapi makhluk itu sudah tidak
terlihat lagi. Jadi kemungkinan besar aku sudah aman. Tetapi keita aku melihat
daerah sekelilingku, tidak ada satu bangunanpun yang kukenal. Hal ini membuat
bulu kudukku kembali berdiri. Aku berjalan perlahan menyusuri deretan butik dan
tailor, hingga akhirnya sampai di depan sebuah gedung pabrik. Jane’s mannaquin.
Tulisan itu terpampang cukup besar di tengah pintu gerbangnya.
“Kali
ini dia melakukan kesalahan lagi,”ucap seorang pria gemuk yang baru saja keluar
dari pintu gerbang.
Begitu
melihatnya, aku segera bersembunyi di sebuah celah antara pos kecil yang kosong
dengan gerbang. Kugosok telingaku supaya dapat mendengar lebih jelas.
“Aku
sudah berkali-kali mengatakan pada Jane untuk mengganti si tua bangka itu!”
sahut seseorang yang berada di belakang pria tadi.
“Tapi
dia tetap mempertahankannya! Itu yang membuatku kesal! Si tua Takaaki itu
selalu membuat keuangan pabrik kocar-kacir karna kesalahannya,” timpal pria
gemuk.
“Kita
seharusnya bisa memecatnya. Ah, aku tau apa yang ha...”
Suara
kedua pria itu semakin mengecil seiring dengan menjauhnya mereka dari tempat
persembunyianku. Kepalaku menjulur keluar melihat apakah mereka benar-benar
sudah pergi. Ketika sudah yakin, barulah aku keluar dan kembali berdiri di
depan gerbang Jane’s mannaquin. Karena
penasaran dengan apa yang membuat kedua pria tadi marah kepada si Tua Takaaki,
maka aku membuka gerbang dan masuk ke dalam Jane’s mannaquin.
Aroma
kayu dan cat berbaur menjadi satu. Kurasa oksigen sangat tipis di dalam pabrik
ini. Aku harus benar-benar menghirup dalam-dalam untuk mendapatkan oksigen.
Banyak kayu yang berserakan dan beberapa potongan tubuh manusia. Tentunya
terbuat dari kayu juga. Semakin kedalam, bau cat semakin menusuk hidung. Di
sini terdapat puluhan, bahkan ratusan manekin. Semua manekin itu terlihat
sempurna. Tinggi, berparas elok, dan mengenakan baju-baju yang modis.
Aku
berkeliling di antara ratusan manekin itu, hingga kulihat ada sekelompok
manekin yang terpisah jauh dari manekin lainnya. Ketika kuhampiri, ternyata
manekin-manekin itu sangat berbeda dengan ratusan manekin yang tadi kulihat. Manekin-manekin
ini cacat. Ada yang jarinya kelebihan 1 atau 2, wajahnya tidak proporsional,
terlalu tinggi, dan banyak lainnya. Ada satu manekin yang menarik perhatianku.
Manekin ini tidak terlihat cacat. Bahkan dia terlihat sangat lucu dengan
setelan blus hijau toska dan rok hitam selutut. Wajahnya sangat ceria,
membuatku sedikit terpengaruh.
“Apa-apan
aku ini!”
Aku
meninggalkan sekelompok manekin itu, lalu duduk di dekat beberapa balok kayu.
Kuhabiskan sisa birku dan kepalaku mendadak pusing. Lucunya, aku melihat
manekin hijau toska itu melambai-lambai ke arahku. Dengan agak malas, aku
menghampirinya. Dia tersunyum malu sambil merapikan poninya ketika aku sudah
berda di hadapannya. Tiba-tiba dia memelukku dan menenggelamkan wajahnya di
dadaku. Meskipun kaget dan bingung, entah kenapa aku bisa balik memeluknya
dengan sangat tenang.
Rasanya
seperti memeluk manusia, bukan kayu berbentuk manusia. Hanya saja dia sangat
dingin, tidak seperti manusia yang memiliki panas tubuh. Ketika kumengusap rambutnya,
terasa halus. Tetapi masih ada kesan bahwa rambut itu adalah wig. Ketika aku
beralih untuk meihat wajahnya, dia sedang tersenyum sambil manatapku. Senyumnya
manis sekali. Sangat manis. Kalau saja dia benar-benar hidup seperti manusia, pastinya
dia akan digilai banyak laki-laki. Tidak menutup kemungkinan salah satunya
adalah aku.
“Apa
yang sedang kau lakukan di sini?!”
Refleks
aku menoleh ke sumber suara yang parau itu. Dia seorang pria tua dengan badan
yang sedikit bungkuk. Dengan lampu senternya, dia menyorotku. “Apa yang kau
lakukan dengan manekinku?!”
Secepat
mungkin aku melepaskan pelukanku. Dan aku baru menyadari bahwa manekin hijau
toska itu tetap menjadi manekin. Maksudku, tidak hidup! Apa tadi aku mabuk?
“Hei!
Aku tanya padamu, apa yang kau lakukan dengan manekinku!” seru pria tua itu
untuk kesekian kalinya.
“Ak..aku
hanya.. aku hanya mab...”
“Tak
apa Tuan Takaaki. Dia tidak berbuat apapun,” jawab seorang perempuan dari
belakangku.
Ketika
aku berbalik untuk melihat siapa yang membelaku, rasanya aku ingin pingsan.
Manekin hijau toska itu hidup lagi. Dan entah apakah aku masih mabuk atau
tidak. Aku hanya berharap bahwa aku masih mabuk.
“Rhin?
Kau...”
“Ya,
Tuan Takaaki. Terima kasih untuk segalanya,” ucap manekin itu.
“Kau
harus jaga diri, Rhin. Jangan berbuat hal yang bisa membahayakanmu,” jawab Tuan
Takaaki.
“Tentu
saja. Aku yakin Kean bisa melakukan tugasnya.”
“BAGAIMANA
BISA KAU TAU NAMAKU?!! TUGAS?! TUGAS APA MAKSUDMU?!” teriakku histeris.
Manekin
hijau toska itu menatapku sambil tersenyum. “Kau akan membantuku menyelesaikan
masalah yang belum sempat kuselesaikan,” ucapnya dengan nada yang sangat manis.
Meskipun
dia terlihat seperti perempuan sempurna, tetapi bagiku dia tetap makhluk, atau
kayu yang bisa berjalan, atau monster aneh yang terperangkap dalam manekin! Aku
mundur selangkah, lagi, dan lagi. Otakku sudah berjalan ke segala arah.
Manekin-manekin ini pasti akan menguasai dunia, atau mereka akan membuat
manusia-manusia menjadi budak, atau mereka akan memangsa manusia!
“Kean?
Kean?”
“AAAAAAARRRRRGGGGHHHH!!!”
Kelopak
mataku terbuka sangat lebar. Tubuhku berguncang hebat. Tetapi ketika kulihat
sekelilingku, tubuhku kembali normal. Sekarang, aku berada di dalam kamarku.
Dan kurasa kejadian manekin itu hanyalah mimpi. Aku menghela nafas lega.
Untunglah kejadian itu hanya mimpi.
“Mau
minum?” tanya seseorang dari sampingku.
Ketika
kutolehkan wajahku, jantungku terasa ingin berhenti berdetak. Bagaimana bisa
dia ada di sini?! Bagaimana bisa dia tau dimana rumahku?!
“Ah,
kau pasti kaget. Kemarin kau pingsan dan aku membawamu pulang,” jawabnya.
“Kemarin...
bukan mimpi?”
“Tentu
saja bukan. Ehm, kau mau minum apa? Air putih, teh, atau lainnya, mungkin?”
Aku
menatapnya tanpa berkedip dan berusaha untuk bernafas senormal mungkin. Tetapi
semakin melihatnya yang tersenyum segembira itu membuat bulu kudukku semakin
berdiri.
“Kean?
Kau tidak apa-ap...”
“AAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHH!!!!!!!”
###
Bersambung
:)
#Askaward
0 komentar:
Posting Komentar