CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 07 Maret 2012

A Supernumerary On Ball (-___-")

Suka main sepak bola? Atau pernah main futsal?
Mungkin buat anak cowok, futsal ataupun sepak bola, adalah prioritas olahraga yang paling utama. Dan bisa dibilang -secara nggak langsung-, kalau cowok nggak main futsal atau sepak bola = banci. Tapi buat anak cewek, rata-rata menganggap futsal atau sepak bola sebagai bahan tambahan dari obat cuci mata selain baju dkk. Dari sekian banyak kaum hawa yang betebaran, ada beberapa yang suka 'main' bola. Termasuk aku ^^!

Semenjak pindah ke rumahku yang sekarang -waktu itu masih TK-, aku sering main sepak bola mini di depan rumah. Bukan karna kurang kerjaan atau anti sama mainan anak cewek. Ini karna tetangga sebelah kanan-kiri punya anak cowok dan umurnya nggak jauh beda. Dan terjadilah salah gaul...

Aku mulai aktif main bola waktu SD. Setiap sore sekitar jam 3, aku keluar rumah bermodalkan kaos singlet dan celana pendek. Di depan rumah, para punggawa kesebelasan anak kampungku sudah berjejer-jejer seperti menyambut Sang Ketua. Maklum, aku sendiri yang cewek..

Permainan dimulai dengan title: "Gol Ganti"
Artinya, barang siapa yang masukin bola, dia ganti jadi kiper, dan kiper ganti jadi pemain. Di permainan ini nggak ada grup. Semuanya individu.  Jadi bisa dibayangkan ributnya, kalau ada 4 orang yang rebutan 1 bola dan mereka semua adalah musuh. Pernah waktu itu aku masukkin bola, jadilah aku memegang posisi kiper. Tapi cuma bertahan beberapa menit..

Kegilaan tentang bola berlanjut sampai SMP. Setiap malam minggu, kesebelasan kampungku reuni. Main sepak bola bareng. Tapi kali ini aku ditemanin sama 2 sohibku, dan mereka cewek. Alhasil aku bukan satu-satunya makhluk asing dalam dunia kesebelasan kampungku. Sampai akhirnya aku naik ke kelas 3 SMP. Intensitas main mulai menurun. Bahkan bisa dibilang terjun bebas. Dan pada suatu hari, ketua kelasku bilang kalau dalam acara KTS SMP-ku ada lomba futsal cewek. Jadilah aku ikut ^^! Ini debut pertama turun ke lapangan dalam acara yang serius.. Sayangnya, kebanyakan, aku cuma duduk di bangku cadangan. Being a supernumerary for the first time. Not bad, I think..

Di SMA adalah masa-masa perkembangan. Banyak hal yang berkembang semasa SMA. Awal cerita waktu aku masih jadi junior alias anak kelas 10. Lomba futsal cewek diadakan setiap KTS Semester 1. Temen-temenku yang se-SMP dan tau kalau lariku -lumayan- cepet, langsung daftarin namaku di list anak yang ikut lomba futsal cewek. Jadilah aku ikut ^^! Pertandingan pertama, lawan anak kelas 11. Dan mereka menang, berkat kapten mereka, Seva. Skill Mbak Seva sangat amat di atas rata-rata. Ditambah postur tubuhnya yang  ideal, tapi tinggi banget! Suer! Mbak Seva memang cewek, tapi kalau udah berhadapan sama bola, dia bisa berubah. Mbak Seva main futsal seperti anak cowok. Bukan kayak anak cewek yang seperti ikan lele dikasih pelet. Karena itu, targetku di kelas 11 adalah ngalahin Tim Mbak Seva!

Di kelas 11, aku masuk ke kelas unggulan. Kelas yang notabene kumpulan anak pinter semua. Tapi untungnya, ada beberapa anak yang suka olahraga. Jadilah tim kami maju ke KTS Semester 1 dalam lomba futsal cewek. Pertandingan pertama kami melawan anak kelas 10. Babat habis 3-0 (kalo nggak salah inget). Dan keberuntungan yang sangat amat aku tunggu.. Pertandingan kedua, timku lawan timnya Mbak Seva. Seperti biasa, waktu futsal di SMA, aku turun di lapangan, full time. Tanpa diganti. Karna memang aku lebih banyak peran di suplay bola ke depan. Dan setelah perjuangan yang bener-bener mati-matian, skor kami imbang. 0-0. Bisa bertahan di 0-0 itu sudah mukjizat. Sempet kena jegal, kaosku ditarik sampek aku jatuh, plus diejek Mbak Seva waktu timku dapat corner kick. Lengkap sudah perjuanganku... Tapi hasilnya memang sangat keren. KAMI MENANG! Lewat adu pinalti :D

Tingkatan paling tua, kelas 12. Nggak ada yang namanya lomba futsal cewek di KTS. Jadinya nggak seru sama sekali. Untungnya, setelah SNMPTN Tulis diadakan, aku berangkat ke Jogja buat bimbingan masuk STAN. Naah.. Karna kebanyakan anak yang ikut bimbingan dari luar Jogja, akhirnya tempat kos dibagi jadi 2. Waktu bimbingan berjalan setengah jalan, pengurus bimbingan menggelar malam keakraban. Dan itu adalah main futsal. Tim kosku vs Tim kos dari bimbingan. 1-1. Memang bukan aku yang masukin bola, aku cuma bagian mengumpan...

Masa kuliah.. Aku pikir nggak ada yang namanya lomba-lomba seperti KTS di SMA. Tapi ternyata ada. Acara olahraga yang khusus untuk mahasiswa baru. Futsal cewek termasuk dalam lomba. Aku pingin ikut, tapi ragu. Tapi karna aku pingin main futsal lagi, akhirnya aku mutusin untuk ikut. Waktu bilang ke temenku yang bagian nyatet list di depan, dia cuma mandang aku dan bilang "Iso ta?"

Aku cuma jawab, "aku pernah main futsal di SMA."
Dia tetep diem dan mandang aku kayak bilang "Jangan bohong deh!" atau "Yang bener aja!"

Aku ikut diem. Kehilangan mood. Asli, bener-bener muak!!!
Dia balik badan, hadap ke papan. Mandangin list anak yang ikut futsal. Dalam hatiku, aku masih ngarep bisa dimasukin. Dan akhirnya dia balik badan lagi, lihat ke aku. "Bilango ke sekertaris ae."
Karna memang aku bener-bener pingin main futsal lagi, dan membuktikan ke temenku itu kalau aku juga bisa, akhirnya aku daftarin diri ke sekertaris.

Waktu latihan aku ikut, nebeng temen buat nyampek ke arena futsalnya. Sudah diajarkan basic dari kakak tingkat. Lumayan ngertilah.. Langsung ke hari H. Pertandingan pertama lawan anak Matematika. Waktu kick off, timku diisi sama pemain utama. Sudah unggul 1-0. Pertengahan babak ke-1, pemain lapis 1 diturunkan. Naah, temenku yang waktu itu, jadi menejer tim. Dia lagi ada di sampingku. Tiba-tiba aja dia bilang, "sepurane nek misale onok sing nggak tak mainno. Soale areke (lawan) gede-gede."

Di dalam hati aku bilang kalau aku pernah lawan anak yang lebih tinggi dan lebih gede dari mereka. Tapi aku cuma diem. Fokus nonton ke lapangan. Nggak lama sesudah itu, half time. Aku memang belum turun. Dan feeling-ku, aku bakal diturunkan pas babak ke-2. Dan anggapanku sangat amat salah. Bahkan salah besar!! Babak ke-2 sudah hampir selesai. Mungkin tinggal 10 menit. Satu temanku yang nasibnya hampir sama seperti aku (belum main) diturunkan. Jadi tinggal aku yang belum main. Yaah, silahkan dibayangkan bagaimana rasanya jadi satu-satunya pemain yang nggak diturunkan ke lapangan. Dan pada saat itu juga aku paham, kalau yang dia maksud dari omongannya tadi itu AKU!!

Aku nggak mau latian kemarin sia-sia, akhirnya waktu kapten minta diganti, aku langsung mengajukan diri ke dia. Rasanya kayak nginjek-nginjek harga diri. Aku bener-bener kayak pengemis kesempatan. Sekali lagi, dia mandangin aku, dan bilang, "kamu kuat ta?"

Kalo ada kesempatan tanya jawab yang lebar, pasti aku jawabnya, "ya kuatlah! Wong dari tadi aku duduk terus!"
Sayangnya kesempatan itu nggak ada, jadi aku cuma jawab iya. Dan dia ngangguk. Akhirnya aku main. Cuma 5 menitan. Dan main 5 menit itu sangat amat berbeda dengan full time. Tapi aku nikmatin aja.. Apalagi kita menang :)

***

Sedikit ulasan tentang dia.
Aku tau kalau dia bertanggung jawab buat kesuksesan tim. Yang aku sayangin, dia nggak punya rasa percaya ke kemampuanku. Dia cuma lihat fisikku yang kecil. Dan rasanya nggak ada kesempatan buat anak yang menurutnya nggak mampu dihadapannya. Jujur aku agak trauma. Kalau dipertandingan selanjutnya, aku nggak diturunkan, mungkin lebih baik aku nggak ikut sekalian. Toh kemarin mereka bisa menang tanpa aku. Walaupun aku kelihatan egois, tapi kalau selama 35 menit aku nganggur di samping lapangan, kan lebih baik kalau aku duduk di bangku penonton sambil neriakin yel-yel. Aku rasa aku bisa lebih bermanfaat.