“Mati rasa”
###
Apa kalian tau bagaimana rasanya menjadi
pahlwan kesiangan? Atau setidaknya, apa kalian pernah merasakan menjadi
seseorang yang gagal meraih apa yang seharusnya dapat diraih? Marah, kecewa,
dan mengumpat, merupakan beberapa hal yang akan kalian lakukan jika menjadi
pahlawan kesiangan. Aku benar-benar merasakannya.
Aku tau, kakiku sudah melakukan tugasnya dengan
baik. Hanya saja aku.. Aku yang kurang cepat menyadari bahwa Rhin dalam bahaya.
Dan aku sangat memohon maaf kepada kakiku. Karena aku kembali membuatnya
bekerja keras, bahkan lebih.
Mereka berada jauh di depanku. Mereka membawa
Rhin dengan paksa. Tak jarang, kullihat mereka menyeretnya. Keterlaluan! Aku
tidak akan memaafkan mereka untuk itu. Tetapi bagaimana caranya? Saat ini aku
hanya berlari mengejar mereka dengan tangan kosong. Seharusnya aku punya
senapan.
Mereka berlari melewati antrean permainan
tembak kaleng. Permainan tembak kaleng? Permainan ini pasti menggunakan
senapan! Tanpa pikir panjang, aku berlari menyerobot antrean terdepan dan
mengambil sebuah senapan laras panjang. Yeah! Aku punya senapan!
“Walaupun mainan,” gumamku.
Aku kembali berlari membuntuti mereka. Kini
mereka memutar arah menuju pintu masuk taman hiburan. Aku tidak mengerti apa
yang mereka pikirkan. Mengapa mereka harus repot-repot kembali ke pintu masuk?
BRAK! BUM!
Mulutku terbuka lebar. Sekarang aku tau mengapa
mereka menuju pintu masuk. Sebuah van hitam baru saja mendobrak pintu masuk dan
berhenti di hadapan mereka. Itu pasti komplotan mereka! Kulihat Rhin dipasksa
masuk ke dalam van, kemudian dua bodyguard itu ikut masuk ke dalam. Tak lama,
van itu melaju kencang keluar dari taman hiburan.
“HOOOOI!!” aku berteriak sekencang-kencangnya.
“Sial! Sial!”
Aku berhenti mengumpat ketika kulihat mobilku
masih terparkir manis di depan pintu masuk. Tetapi ketika aku akan masuk ke
dalam, ada sebuah kertas yang diselipkan di sela-sela pembersih kaca mobil.
Setelah melihat isinya. Aku kembali mengumpat.
“Surat tilang?!”
Dengan adanya surat tilang, berarti, ban
mobilku juga akan tertahan. Polisi-polisi menggunakan pengunci ban agar mobil
yang terkena tilang tidak kabur. Dan hal ini adalah hal yang paling kubenci
dari munculnya surat tilang.
Aku panik. Dan tanpa sadar aku sudah berada di tengah
jalan sambil menodongkan senapan kepada pengemudi mobil di hadapanku. Aku
berjalan mendekati pengemudi itu. Ujung senapan masih mengarah kepadanya.
“Keluar!” perintahku.
Baru ketika si pengemudi keluar dari mobil,
dengan mudah, aku bisa menebak profesinya. Polisi. Polisi! Jadi saat ini aku
sedang menodongkan senjata pada polisi! Menakjubkan!
“Berikan pistolmu!” perintahku,lagi.
Tanpa banyak bicara, polisi itu memberikan
pistolnya. Ketika kulihat mimik wajahnya, ternyata polisi ini ketakutan. Lihat
saja kedua alisnya yang terangkat, kelopak matanya yang melebar, dan bibir
bawahnya yang digigit. Aku menggeleng pelan dan langsung masuk ke dalam mobil,
lalu memacunya dengan kecepatan tinggi.
Baru beberapa menit berkendara, aku sudah bisa
melihat van hitam itu. Dengan cepat, aku membawa mobil polisi ke samping van
itu. Menyadari kehadiranku, pengemudi van itu mulai menjauhkan van dariku.
Tidak kehilangan semangat, aku kembali mengejar. Aku meraba bangku sebelah dan
mengambil pistol yang kurampas dari polisi tadi. Aku mengeluarkan lengan kiriku
melalui jendela dan mulai membidik ban belakang van.
DOR!
“Geez! Meleset!”
Aku kembali membidik. Memang sangat susah untuk
membidik target dalam keadaan mengemudi. Berbekal latihan bulananku bersama
ayah di lapangan menembak dan keberuntungan yang tidak seberapa, aku menekan
pelatuk.
DOR! TAR!
“KENA!” seruku senang.
Tetapi kesenanganku bubar seketika. Van itu
kehilangan kendali, hinggga menabrak pembatas jalan dan terhenti ketika
menabrak pohon. Aku segera menepi dan keluar dari mobil. Aku berjalan mendekat
dengan tangan kiriku yang masih memegang pistol. Perlahan aku membuka pintu
belakang van.
Segalanya tampak kacau. Dua bodyguard itu saling
tumpang tindih. Kurasa mereka kehilangan kesadarannya. Sedangkan Rhin meringkuk
di pojok. Dia baik-baik saja. Tetapi mungkin saja dia trauma. Aku masuk ke
dalam dan dan langsung mengangkat Rhin, lalu memapahnya keluar.
“Kau tak apa?” tanyaku.
Rhin tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan
sedikit suara seperti bunyi gigi-gigi yang saling beradu. Tubuhnya gemetar
hebat. Dia ketakutan. Tentu saja, Rhin baru saja mengalami penculikan. Dan
satu-satunya hal yang dapat kulakukan untuknya adalah membawanya keluar dari
sini secepat mungkin.
DOR!
Aku berbalik. Salah satu bodyguard itu telah
sadar. Dia bahkan sudah bisa menembakkan peluru. Aku segera menarik Rhin ke
dalam dekapanku, kemudian berlari. Dan benar saja, setelah itu bunyi tembakan-tembakan
berdesing ke arah kami.
Sesekali kuarahkan pistolku ke bodyguard itu
dan melepaskan tembakan. Tetapi hal itu tidak membantu sama sekali. Kerena
ketika aku menoleh, bodyguard lain telah pulih. Aku kalah jumlah. Dan lari,
merupakan hal terbaik yang bisa kulakukan. Mobil polisi berada dua meter dari
kami. Dengan semua sisa tenagaku, aku memapah Rhin sambil menembaki dua
bodyguard itu.
DOR!
Itu peluru terakhirku. Dengan keadaanku
sekarang, aku tidak dapat mengisi peluru. Segera kubuka pintu belakang mobil
dan membaringkan Rhin.
DOR!
“Aaaaaarrrggghh!” tiba-tiba saja Rhin menjerit.
Seperti kesakitan.
Aku segera masuk ke dalam mobil dan mulai
menghidupkan mesin, lalu memacunya sekencang-kencangnya. Targetku hanyalah bisa
pergi sejauh mungkin dari tempat ini. Setidaknya sampai mereka tidak bisa
mengejar kami.
“Aarrgghh,” rintih Rhin.
Kulirik Rhin. Dia memegang lengan kirinya
kuat-kuat. Apa dia tertembak? Bagaimana ini? Apa aku perlu ke rumah sakit? Tetapi
bagaimana kalau saat dokter memeriksa Rhin, rahasianya akan terbongkar? Tidak,
kurasa tidak bisa.
“Sakit! Kean, sakit!” jeritnya.
“Tahan sebentar, Rhin. Sebentar lagi, kita
sampai di rumah Karin.”
Ya, rumah Karin. Kupikir karena kejadian ini,
rumahku tidak akan menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Jujur, aku
tidak terlalu menyukai rencanaku ini. Tetapi mau bagaimana lagi. Rhin
tertembak. Aku tidak mungkin bisa melakukan tindakan medis. Dan orang yang
setidaknya bisa kupercaya dan memiliki kemampuan dalam dunia medis hanyalah
Karin. Dia mantan perawat.
Beberapa menit kemudian kami berhasil sampai di
depan rumah Karin tanpa membuat lebih banyak masalah dengan kedua bodyguard
itu. Aku keluar dari mobi dan langsung membopong Rhin keluar menuju rumah
Karin. Tanpa mengetuk pintu, aku langsung masuk ke dalam. Kubaringkan Rhin di
atas sofa.
“Rhin, coba kulihat lukamu.”
Dengan sedikit enggan, Rhin melonggarkan remasan
tangannya. Perlahan, kugenggam tangan Rhin, lalu mengangkatnya. Kusingkap
lengan dressnya, dan refleks aku menutup mata. Lengan kiri atasnya berlubang.
Persis seperti luka yang diakibatkan dari tembakan. Aku gagal melindunginya.
“Kean?”
Aku menoleh, “aku butuh bantuan,” ucapku pada
Karin.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi? Ap.. Astaga!”
pekiknya. “Kean, kenapa lenganmu berdarah?!”
“Apa?”
Karin mendekatiku. Dia memegang lengan kiriku
dengan hati-hati. Lalu menyingkap lengan kemejaku perlahan. Dan ketika
singkapan lengan kemejaku mencapai atas, aku melihat darah segar mengalir dengan
mudahnya. Bahkan setelah aku melihat lebih jelas asal dari darah itu, aku malah
makin terkejut. Bukan hanya Rhin yang mendapat luka tembakan di lengan kirinya,
tetapi aku juga. Bagaimana mungkin aku tidak merasa kesakitan atau setidaknya
merasa perih? Mungkin karena aku terlalu mengkhawatirkan Rhin. Ya, kurasa
karena itu.
“Lukamu harus segera diobati!” seru Karin.
Aku menolak dengan melepaskan lenganku dari
pegangannya. “Aku tidak apa-apa. Kau harus mengobati Rhin dahulu!”
“Biar aku yang mengobatinya!” seru suara di
belakang Karin. “Lukamu lebih parah dan kau harus segera dirawat!”
Keninggku mengkerut. Sudah hampir 20 tahun aku
tidak tinggal di rumah Karin. Setauku, Karin tidak tinggal dengan siapapun.
Kecuali Riku, tetapi tidak lagi semenjak kasus pengalihan saham Karin kepadaku.
Sekarang, ada orang lain di rumah Karin. Bukan saudara, kupikir. Dia berwajah
tirus dengan rambut blonde sebahu, dan harus kuakui bahwa dia sangat menawan.
“Merry? Sejak kapan kau di situ?” tanya Karin.
Merry datang mendekat. “Baru saja,” jawabnya.
“Kean, kau harus mengeluarkan peluru itu dari tubuhmu secepatnya kalau kau
tidak ingin membuat Rhin menderita.”
“Da..Dari mana kau..”
“Kean, Merry benar. Cepat berbaring di kamar.
Aku akan mengambil peralatan,” ujar Karin seraya menarikku masuk ke dalam kamar
utama.
Dengan enggan aku beranjak. Tetapi kedua bola
mataku tidak bisa terlepas dari Merry. Aku tidak mengerti apa maksud dari
perkataannya. Bahkan dengan semua tanda tanya yang tertulis di wajahku, Merry
hanya menjawabnya dengan satu senyuman simpul sebelum dia berbalik dan
menghampiri Rhin.
###
Aku memperhatikan Rhin dari ambang
pintu. Jujur, aku tidak berani masuk. Bukan karena ada Merry yang duduk di
dekatnya, tetapi terlebih karena aku tidak sanggup melihat keadaannya. Dia
terbaring lemah. Kedua matanya tinggal segaris. Dia benar-benar harus
beristirahat. Tetapi yang kutau, Rhin tidak bisa tidur.
“Kean,” panggil Merry sembari menoleh
ke arahku.
“Ya?”
Dia berdiri, lalu berjalan ke arahku.
“Ada yang ingin kukatakan,” ujarnya saat berada di hadapanku.
Kulihat dia melewatiku, lalu berjalan
lurus menuju ruang tengah. Kualihkan pandanganku kepada Rhin. Aku berharap dia
segera pulih atau setidaknya dia bisa mengatakan padaku bahwa dia baik-baik
saja.
“Kean?” panggil Merry, lagi.
Mau tidak mau, kulangkahkan kakiku ke
arahnya. Merry berada di tengah ruangan. Kedua tangannya bersila di dada.
Sambil menghentakkan telapak kakinya di lantai, dia menatapku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Tidak ada. Aku cuma ingin melihatmu dari
dekat,” jawabnya.
Aku membalikkan badan. “Jangan
main-main denganku.”
Merry tertawa lepas. Aku melihatnya
dengan ekor mataku. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Bahkan
terlihat seperti tidak memiliki etika atau sejenisnya. Aku tidak tau bagaimana
wanita seperti Merry bisa berada di rumah Karin.
“Kean, aku tidak pernah main-main.”
tuturnya. “Well, aku memang sedikit bersenang-senang belakangan ini. Tetapi
yakinlah aku tidak pernah bercanda dengan masalah ini.”
“Oke,” ucapku sembari berbalik. “Apa masalahny...”
Kelopak mataku terbuka lebar. Kuseret kakiku ke
belakang. Hal ini sama sekali tidak kuperkirakan. Merry menghampiriku. Bukan
masalah jika dia bersikap biasa saja. Tetapi yang jadi masalah, Merry
menghampiriku sambil menatapku dengan tatapan yang.. Err.. menggoda, menurutku.
Ini membuatku agak takut.
“Kean, apa kau tau?”
“A..ap..apa?” tanyaku sambil terus melangkah
mundur.
“Apa kau benar-benar tidak mengerti?”
“Hah? Ap..apa maksudmu?”
Aku menelan ludah, grogi. Bagaimana tidak? Saat
ini aku terjepit. Punggungku sudah membentur tembok dan aku tidak bisa berkutik
lagi. Merry semakin mendekat. Dia bahkan sudah meletakkan tangan kanannya di
pipiku.
“Apa kau merasa mati rasa?” tanyanya.
“Mat..mati rasa?”
“Sesuatu yang seharusnya kau rasakan. Tetapi
kau tidak bisa merasakannya.”
“Ehm.. ku... APA YANG KAU LAKUKAN?!”
Aku mencengkram kedua tangan Merry. Dia tampak
kaget. Tetapi tidak lebih kaget daripada aku. Kulirik kancing pertama dari
kemejaku yang sudah terlepas. Apa-apaan dia?!
“Aku hanya ingin melihat bagian yang mati rasa.
Apa aku salah?”
“Idiot!” pekikku. “Apa kau pikir aku bukan
laki-laki baik-baik?!”
Merry melepaskan diri dari cengkramanku.
“Terserah kau saja.” ucapnya. “Kean, apa kau tau mengapa Rhin yang berteriak
tetapi kau yang terluka?”
“Apa maksudmu?”
“Tidak tau, kan? Kurasa kau harus cari tau
sendiri,” tuturnya, kemudian berlalu.
###
Tidak ada yang salah dengan mencoba. Dengan
mencoba, kita dapat mengetahui apa yang belum kita ketahui. Oleh karena itu,
saat ini, aku berada di depan cermin dalam kamar tamu Karin. Walaupun terdengar
gila, tetapi aku akan melakukan apa yang hampir dilakukan Merry.
Perlahan kubuka kancing kemejaku satu per satu.
Kulihat pantulan diriku di dalam cermin. Tidak ada yang berbeda, menurutku. Kuputar
tubuhku sedikit demi sedikit. Tetap saja tidak ada yang berbeda. Kemudian
kulepas kemejaku. Kurasa tidak ada yang berubah. Kecuali perban di lengan
kiriku.
“Apa ini?”
Ada guratan berwarna sedikit kecoklatan
sepanjang dada atas kiri, lalu bahu dan menjalar ke lengan kiri atas. Aku tidak
tau sejak kapan guratan-guratan itu muncul. Tetapi yang jelas, guratan ini
tidak terlalu lama muncul. Mungkin satu atau dua hari yang lalu. Ketika kuraba
guratan di bahu atasku, tidak ada yang kurasakan. Mati rasa? Apa ini yang dimaksud
Merry?
“Kean?”
Aku berbalik, “Rhin?”
“MAAF!” teriaknya.
“Kenapa kau minta maaf?”
“A..ak..aku akan kembali nanti. Kututup
pintunya.. Ma..maaf,” ucapnya, lagi.
“Rhin!” panggilku.
Tetapi Rhin sudah terlanjur keluar dari kamar.
Aku menggeleng pelan sambil tersenyum. Baru setengah jam yang lalu aku
meninggalkannya, sekarang dia sudah bisa kukatakan mendekati kesembuhan.
Aku kembali ke posisi semula, menghadap cermin.
Spontan aku memukul kening. Sekarang aku tau mengapa Rhin tiba-tiba berteriak
meminta maaf padaku. Kurasa seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak
memakai atasan.
“Dasar,” gumamku sambil tersenyum.
###
Sampai pukul tujuh malam, aku tidak keluar
kamar. Bukan hanya untuk menghindari Karin, tetapi aku juga berniat agar tidak
bertemu dengan Merry. Aku bisa gila jika bertemu dengan mereka dalam satu
ruangan. Karena itu, beberapa menit yang lalu aku memerintahkan sekertarisku
untuk mengurus pembelian apartemen di dekat rumah Karin.
Aku berrencana untuk menitipkan Rhin di rumah
Karin, sedangkan aku akan tinggal di apartemen. Setidaknya dengan cara ini, aku
bisa mengecoh bodyguard jelek itu. Selain itu, aku tidak akan mengalami
gangguan mental terlalu lama.
“Kean, makan malam sudah siap!” teriak Rhin
sambil mengetuk pintu.
“Aku tidak lapar!” balasku.
“Ada sup kesukaanmu!” tambahnya.
“Aku tidak akan makan masakan buatan Karin!”
Rhin terdiam sesaat, kemudian kembali menjawab.
“Ini bukan buatan Bibi. Ini buatanku.”
“Tidak mungkin!” teriakku. “Bocah sepertimu
mana bisa memasak! Jangan bohong!”
“Baiklah.. Supnya memang bukan buatanku. Tapi
buatan Merry.”
Aku tertawa terbahak-bahak. “Jangan bercanda.
Cewek genit itu mana mungkin bisa memasak!”
“Iya, iya. Aku mengaku.. Supnya Bibi beli dari restoran. Sekarang kau mau
makan?”
Aku bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan
menuju pintu. “Asal kau tau. Karin tidak akan pernah mengeluarkan uang hanya
untuk membeli makanan yang bisa dibuatnya sendiri,” ujarku sembari memutar knop
pintu perlahan.
BLUK!
Rhin, Merry, dan Karin, jatuh saling tindih ketika
pintu kamar terbuka. Sudah kuduga mereka bersekongkol. Yah, setidaknya dengan
begini mereka bisa menerima pelajarannya.
“Aku sudah memesan pizza. Jadi kalian tidak
perlu repot-repot,” ucapku.
Suara bel berbunyi. Kurasa itu pengantar
pizza-nya. Aku berbalik, lalu berjalan menuju sofa tunggal tempatku meletakkan dompet.
Saat aku membuka dompet untuk mengambil uang, tiba-tiba pintu kamar menutup.
Ini pasti ulah mereka. Aku berlari ke pintu dan mendapati pintu itu sudah
terkunci.
“Hei, buka pintunya!”
“Tidak mau!” teriak Rhin.
“Rhin, buka pintunya, sekarang!”
Tidak ada jawaban. Aku mendengar suara pintu
yang tertutup. Mereka pasti sudah mendapatkan pizza-ku. Aku berhenti
menggedor-gedor pintu dan beralih ke tempat tidur. Aku masih ingat saat Karin
membuang setiap potong pizza yang hendak kumakan. Saat itu mereka belum
bercerai. Dia bilang bahwa pizza merupakan makanan yang tidak bergizi. Padahal
disana terdapat keju yang sangat banyak. Keju termasuk jenis makanan bergizi,
bukan?
Sudah hampir satu jam, mereka bahkan tidak
menimbulkan kegaduhan. Mereka benar-benar tangguh. Dan kuakui bahwa perutku
mulai sakit. Aku tidak pernah bisa berkompromi dengan perutku masalah jadwal
makan. Harus tepat waktu dan tidak boleh bolos. Persis seperti bersekolah.
Karena sekali saja terlambat bahkan bolos, maka perutku akan terasa seperti
dililit oleh rantai paku.
“Kean? Kau masih di dalam, kan?”
“Rhin?” gumamku, pelan.
“Apa kau tidak lapar? Kata Bibi, kau akan sakit
jika terlambat makan. Kean, setidaknya makanlah sekali ini saja. Aku.. Aku
tidak mau kau sakit.”
Baiklah. Kurasa mereka memang mengerti
kelemahanku. Lambungku dan Rhin. Untuk yang terakhir, aku baru saja
menyadarinya. Tolong jangan tanyakan kenapa.
Dengan ogah-ogahan aku beranjak dari tempat
tidur menuju pintu. “Aku akan makan. Buka pintunya.”
KLEK!
Kunci pintu diputar, lalu aku segera membuka
pintu. Rhin berdiri di depanku sambil meremas kedua tangannya. Dia menatapku,
seperti seseorang yang sedang khawatir. Atau memohon maaf karena sudah
mengunciku di kamar. Entahlah, aku tidak tau yang mana yang benar.
“Perutku belum sakit,” ucapku. “Jangan
khawatir.”
Rhin menghela nafas panjang dan
menghembuskannya kuat-kuat. “Bagus kalau begitu. Ayo makan! Bibi dan Merry
sudah menunggu di ruang makan.”
Aku mengikuti Rhin dari belakang. Ketika sampai
di rruang makan, kulihat Karin dan Merry duduk melingkari meja persegi yang
masih sama seperti dulu, saat keluargaku belum hancur. Keduanya spontan
berdiri, seperti menyambutku.
“Akhirnya kau bisa dibujuk keluar,” ujar Karin.
“Hei, asal kau tau.. Sebenarnya aku bisa
memasak! Kau pikir selama ini aku hidup sendiri tidak membutuhkan keahlian?!”
Merry memprotesku.
Dengan cueknya aku menarik salah satu kursi,
kemudian duduk. Di hadapanku, sudah ada semangkuk sup dan nasi. Aku melirik
Merry, Karin, dan Rhin bergantian. Akhirnya mereka ikut duduk. Rhin di sisi
kananku, Karin di hadapanku, dan Merry di sisi kiriku. Tanpa basa-basi, aku
segera menyendok sup. Tetapi belum sempat aku memasukkannya ke dalam mulut, aku
menyadari satu hal.
“Kalian tidak makan?” tanyaku.
“Kami sudah makan!” jawab mereka, kompak.
“Lalu kenapa kalian masih di sini?1”
“Memangnya apa urusanmu? Kami memang ingin
disini!” jawab Merry.
“Kalian merusak pemandangan,” ujarku,
sekenanya.
“Maaf,” ucap Rhin sambil menunduk. “Ak..Aku
hanya ingin melihatmu makan.”
“Wah, wah, wah.. Kean, kau baru saja mematahkan
hati seorang gadis,” sahut Karin.
“Apa?! Aku hanya me..”
“Kean, kau tidak seharusnya berkata seperti
itu,” timpal Merry.
“Kau pikir aku bermaks..”
“Kean, perasaannya pasti sangat sakit. Kau
tidak boleh bersikap kasar,” ucap Karin.
“Seharusnya kau memperbolehkannya duduk disini
sambil melihatmu makan,” tutur Merry.
Ini konspirasi! Mereka benar-benar ingin
menyudutkanku. Mereka pasti tau bahwa aku menggunakan kalimat ‘merusak
pemandangan’ agar mereka tidak menggangguku. Setidaknya kalimat itu bukan untuk
Rhin. Dan mereka memanfaatkan kepolosan Rhin untuk menyerangku. Sialnya, aku
tidak bisa berbuat apapun. Oh, Lord.. Apakah aku tidak boleh mendapatkan
ketenangan saat makan?!
“Terserah,” jawabku.
###
Masih di tempat yang sama, di hari yang sama,
dengan jam yang berbeda. Sekitar sepuluh menit yang lalu, Karin dan Merry pergi
keluar untuk membeli perban sekaligus mengembalikan mobil yang kupinjam tadi siang.
Rhin sedang menonton televisi dan aku menemaninya. Kami duduk di sofa panjang
bermotif kotak-kotak hitam dan putih. Dulu, sofa ini pilihan ayah. Tetapi Karin
tidak menyukai warnanya. Karena sudah terlanjur dibeli, Karin terpaksa
menerimanya. Dan sofa ini tempat favoritku.
“Kean?”
“Ya.”
“Apa lenganmu sudah baikkan?” tanya Rhin.
“Tidak sakit sama sekali. Seharusnya aku yang
tanya, apa lenganmu sudah tidak sakit?”
Rhin mengangguk, “masih sedikit sakit. Tetapi
tidak apa-apa.”
“Kau seharusnya masih istirahat. Jangan
menuruti perkataan mereka.”
“Bibi dan Merry? Mereka baik padaku. Aku juga
sudah janji pada Merry melakukan satu hal.”
“Apa itu?”
“Aku tidak boleh memberi tau siapapun.”
“Oke. Terserah.”
Aku berdiam diri setelah itu. Rhin kembali
fokus kepada televisi. Di dalam kediamanku, aku mulai teringat kejadian tadi
siang. Terutama tentang Kyo. Aku belum mengatakan apapun pada Rhin. Terutama
tentang Kyo yang kembali ke rumah sakit untuk menemui Hikari. Dan tentu saja
aku tidak terlalu bodoh untuk mengatakan hal itu kepada Rhin. Kurasa yang belum
kukatakan adalah kaliamat untuk menghiburnya.
“Rhin.. jangan pikirkan kejadian tadi siang.
Bukan tentang penculikan itu.. Tetapi saat di taman hiburan. Kau.. Err.. tidak
harus.. merasa.. kecewa. Ah, bukan-bukan! Maksudku putus asa. Pasti masih ada
kesemp...”
Rhin menarik bajuku. Aku menoleh. Dia menghadap
tepat ke arahku. Kedua matanya tertutup. Aku melirik ke kanan dan ke kiri,
kemudian menelan ludah. Apa-apaan ini? Jebakan? Atau sesuatu yang lain?
Entah apa yang menggerakkanku, tetapi saat ini
jarak wajah kami hanya tinggal tiga senti. Tak butuh waktu lama, ujung hidung
kami sudah bersentuhan. Aku mulai menutup kedua mataku.
“Kean?”
###
0 komentar:
Posting Komentar