CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 10 Juli 2012

Simple Life Is

"Kenapa kau ingin bekerja disini?" tanya wanita ber-blouse hijau toska dihadapanku.
"Ceritanya panjang, Ibu Kepala," jawabku.

Kulihat Ibu Kepala kembali membalik CV milikku sambil sedikit menggeleng, "jadi kau tak ingin menjelaskannya? Apa pertanyaan itu terlalu sulit untuk seseorang yang akan menerima gelar S2 sepertimu?"
Aku menelan ludah, "ma..maaf, saya tidak bermaksud seperti itu."
Beliau kembali menatapku, "kalau begitu jelaskan padaku. Kenapa kau ingin mengajar disini?"
"Aku ingin mencari pengalaman," jawabku cepat.
"Itu saja?" tanya beliau. "Kurasa ada yang lain."

Paru-paruku serasa tertohok. Apa aku memang tak bisa membohongi orang lain? Tapi aku tak bisa mengatakan yang sejujurnya. Ibu Kepala pasti mengolok-olokku jika aku mengatakan bahwa aku tengah mencarinya. "Sa..saya hanya.."
"Dia tidak pantas bekerja disini," ucap seseorang dari balik pintu kantor yang setengah terbuka.
"Siapa disana?" tanya Ibu Kepala.

Pintu itu terbuka. Tampak seorang pemuda dengan kemeja biru bergaris yang tengah memegang beberapa map di tangan kanannya. Dia terlalu muda untuk menjadi seorang guru. "Maaf, Ibu Kepala, saya tidak bermaksud untuk ikut campur," ucapnya.
"Tak apa, Pak," Ibu Kepala tersenyum sebentar. "Memangnya anda mengenalnya?" Beliau menunjukku.
"Ya," jawabnya mantap.

Kelopak mataku sedikit melebar. Pemuda ini mengenalku?!
"Apa dia saudara anda?" tanya Ibu Kepala lagi.
"Bukan. Tapi saya pernah mengenalnya."

Kuperlebar kelopak mataku. Kupercepat aliran oksigen ke otakku agar mengingat si Kemeja biru itu.
"Tapi saya yakin dia tidak mengenal saya." Dia mengalihkan pandangannya kepadaku. "Kau pasti melupakanku. Iya, kan, Aira?"

Jantungku kembali memompa dengan cepat. Logat bicara dan caranya menyebut namaku.. Tak salah lagi. Itu dia! Anak laki-laki yang jatuh tersungkur didepan rumahku 17 tahun yang lalu.

Otakku mulai memunculkan rentetan peristiwa itu. "Namaku Satria! Kamu?" sesosok anak laki-laki muncul dihadapanku dengan luka di lututnya.
Kusambut tangan mungilnya sambil menggoyangkannya sedikit. "Aira," ucapku.
“Sekarang Satria duduk dulu didalam. Nanti tante ambilkan permen coklat," giliran almarhum mama yang muncul dihadapanku. Wajah mama tampak sangat muda, cantik sekali.

Senyum Satria Kecil mengembang, "makasih, tante!" teriaknya sembari berlari masuk ke teras dan duduk di bangku depan rumahku.

"Lihat? Dia memang telah melupakanku, Ibu Kepala."
Suara Satria membubarkan lamunanku. Aku kembali merasakan degup jantungku yang terpacu, keringat dingin yang tiba-tiba mengalir deras di pelipisku, dan getaran yang dibuat tanganku sendiri.

"Saya sarankan kepada Ibu Kepala agar tidak menerimanya. Dia mengaku sudah dewasa tapi belum lancar membaca," lanjutnya.
"Belum lancar membaca?"

Ya, aku ingat. Satria mengolok-olokku saat aku mulai membaca ensiklopedia yang kusuka saat itu. Harimau adalah binatang karnivora yang hidup di darat. Kalimat itulah yang ingin kubaca. Tetapi memang pada kenyataannya aku tak mampu membacanya sesempurna sekarang.
"Gitu ngaku bukan anak kecil?! Baca aja masih ngeja!" lengkingan Satria Kecil kembali terngiang di telingaku.

Aku merasa terhina. Dia menertawakanku seolah dia dapat melakukan hal yang lebih baik dariku. Karena itu kulemparkan ensiklopediaku ke wajahnya dan menantangnya, "baca aja kalau bisa!"
Satria Kecil mengambil ensiklopediaku, "aku baca ya," ucapnya dengan nada yang meremehkan. "Harimau. Harimau adalah binatang karnivora yang hidup di darat." Dia menatapku sekilas lalu kembali membaca. "Harimau berburu untuk mendapatkan makanan."

Aku sangat malu. Hanya itu yang dapat kukatakan dalam hati. Sebatas didalam hati, aku tidak ingin mengku kalah darinya.
“Saya yakin tujuannya melamar kesini bukan untuk mencari pengalaman.” Perkataan Satria kembali menyingkirkan cuplikan masa laluku, seolah ingin menyudutkanku. Membuatku mengaku kepadanya tentang tujuan awalku.
“Apa maksud anda, Pak Satria?” tanya Ibu Kepala. “Sebenarnya ada apa diantara kalian berdua?”

Tampaknya Ibu Kepala menyadari perubahan sikapku. Ditambah lagi penjelasan Satria yang semakin membuka masa lalu kami.
“Saat umur kami 6 tahun, kami menjadi teman sehari. Tidak lebih,” suaraku mulai keluar.
Satria kembali menatapku, “teman sehari?! Apa aku benar-benar tidak memiliki makna untukmu?”

Aku memalingkan wajah. Dia benar-benar keterlaluan sekarang. Seharusnya aku melamar ke tempat lain. Bukan ke tempat dimana dia berada!
Satria meletakkan map yang dia bawa di atas meja Ibu Kepala. “Baru melamar saja, dia tidak jujur, bagaimana nantinya?”
“Siapa yang berbohong?!” suaraku mulai meninggi.
“Jangan pikir, aku tak tau apa yang ingin kau cari dari murid-muridku. Kau ingin mencuri 'simple life' dari mereka, bukan?!”
Brak!
Ibu Kepala berdiri dari singgasananya dan menatap kami bergantian. “Apa maksud kalian?! Saya harap ada penjelasan untuk ini semua!”

Aku menunduk. Tak ada yang bisa kukatakan sekarang. Kulirik Satria. Dia sama denganku, menatap ujung sepatu hitamnya tanpa menggumamkan apapun.
“Jadi tidak ada penjelasan? Baik, sekarang saya harap kalian bersedia keluar dari ruangan saya.” Ibu Kepala kembali duduk, “itu pintu keluarnya.”
“Maaf atas kekacauan ini, Ibu Kepala,” suara Satria terdengar melemah. “Kami akan keluar.”Saat itu juga, Satria menarikku keluar. Dia menyeretku tanpa mengatakan apapun.

“Mau kemana?!” teriakku ketika dia membawaku menjauh dari bangunan utama taman kanak-kanak.
“Kenapa kau masih mencari 'simple life'?” tanyanya. “Bukankah dulu aku telah memberimu petunjuk untuk mendapatkannya?”
Aku berhenti. Kulepaskan tanganku dari genggamannya. “Aku tidak bisa melakukannya.”
“Aku tanya, kali ini jangan berbohong!”
“Apa?”
“Kapan terakhir kali kau tertawa?”
Paru-paruku kembali cekik. Otakku kembali kuperas untuk menemukan suara tawaku. Tanganku kembali bergetar. “Aku..ak..”
“Bukannya sudah kukatakan bahwa kunci dari 'simple life' adalah tertawa!” suaranya kembali meninggi. “Kenapa tidak kau lakukan?!” lanjutnya. “Apa tertawa itu terlalu sulit untukmu?! Lalu untuk apa…”

Plak!
“Kau pikir aku tidak mencobanya?!” bentakku. “Aku mencoba untuk tertawa setiap hari! Pergi bermain, naik odong-odong.. Aku melakukan semua yang kau perintahkan!”
“Tapi kau tak berubah sama sekali. Kau tetap menjadi seseorang yang tidak mengerti arti ‘simple life’. Bahkan sekarang kau terlihat lebih parah!”
“Itu karena aku sibuk bermain! Aku melakukan semua hal yang tidak berguna seperti yang kau katakan dulu! Tapi aku tidak mendapatkan apapun.. Aku malah kehilangan!”
“Apa maksudmu?”
Aku sedikit menunduk, “mama meninggal saat menjemputku. Jantungnya kambuh.”
Kulihat Satria membelalakkan matanya, seperti sedang marah. “Kenapa kau tidak bilang padaku?!”
“Bagaimana caranya?!” teriakku. “Kau menghilang setelah seharian kita bermain!”
Kini giliran dia yang menunduk, “maaf, seharusnya aku tidak meninggakanmu.”
“Bukan. Seharusnya kau tidak muncul di kehidupanku.”

Kami diam cukup lama. Matahari yang telah mencapai puncak maksimalnya semakin membakar kami. Tetapi kami tetap tidak bergeming. Tetap pada posisi semula, itu yang kami lakukan.

Tiba-tiba dia menusukku dengan tatapannya. Aku berusaha menghindar dengan memalingkan wajahku ke arah taman. “Aira?” panggilnya. Aku menoleh sedikit. “Ayo main,” ajaknya.
“Apa?!”
“Anggap ini sebagai permohonan maaf karena aku hanya mengajarimu tentang tentang ‘simple life’, tanpa membimbingmu.” Dia kembali tersenyum, “ayo main..”

Satria berlari menuju cangkir mainan. Aku mencoba mengejarnya dengan berjalan cepat. Dia menengok sebentar, meihatku yang kesusahan berlari karena high heels. “Lepas saja high heels-mu! Kau tidak bisa berlari dengan sepatu itu!”
“Cerewet!” teriakku ketika sampai didekat cangkir mainan. “Kau pikir disini dingin?!”
“Hahaha.. Hanya bercanda,” ujarnya. “Ayo naik!”

Kutatap cangkir mainan itu. Bagaimana mungkin wanita berumur 23 tahun masih bermain cangkir berputar?! Apa kata orang yang melihat?!
“Hei! Ayo naik!” Satria menarikku ke atas cangkir.

Sekarang dua manusia berumur 23 tahun tengah berada dalam satu cangkir mainan. Satria tampak sangat senang. Senyumnya terus mengembang tanpa mempedulikan wajahku yang terbakar matahari sekaligus malu.
“Siap?”
“Apanya? Jangan bilang kalau kau akan memutarnya!”
“Memang apa lagi yang dapat kulakukan?” tanyanya. “Dulu, pertama kali kau tertawa karena mainan ini. Jadi aku akan melakukannya lagi. Sama seperti dulu.”

Aku mengusap peluhku yang semakin deras mengalir. Menelan ludah untuk bersiap merasakan kembali apa yang pernah kurasakan 17 tahun yang lalu.
“Pak Gulu!!!” teriakkan sekelompok anak dengan dasi kupu-kupu besar berwarna hijau muda terdengar dari belakang kami.
“Pak Gulu mau main?” Tanya anak perempuan berambut sebahu kepada Satria.
“Iya, kalian mau ikut?” Tanya Satria.
“Mau!!” teriak mereka.

Mataku terbelalak. Mana mungkin cangkir mainan ini mampu menampung kami dan mereka semua?! Jika hari ini adalah 17 tahun yang lalu, pasti kami semua akan muat. Tetapi sekarang ukuranku dan Satria 5 kali lebih besar dibandingkan dengan dahulu.
Satria turun dari cangkir. Dia mulai menaikkan murid-muridnya satu per satu. “Aira, bantu aku,” ucapnya.
“I..iya..” Aku mulai mengangkat mereka. Menempatkannya disebelahku.
“Nah, sekarang siap-siap ya..” ucap Satria sambil menempati posisinya. “Semua berpegangan!”
“Ayo tante, pegang tangan Sari,” ucap si Rambut Pendek disampingku.
Aku mengangguk. Lalu kuulurkan tanganku untuk menggenggam tangan mungilnya.
“Satu.. Dua.. Ti..tiga!!” Satria berteriak dengan semangat.

Cangkir berputar dengan kecepatan sedang, tak secepat putaran Satria 17 tahun yang lalu. Kurasa dia sengaja melakukannya karena murid-muridnya ikut bermain disini. Coba saja jika mereka tidak ada, pasti Satria akan memutarnya dengan kecepatan penuh.
“Whuuuu!!”
“Yeeaah!!”

Teriakan murid-murid Satria membuatku tertarik. Mereka bukan hanya berteriak, mereka tertawa. Mereka tertawa lepas! Satu hal yang tak pernah kulakukan setelah mama meninggal. Satu hal yang tak dapat kulakukan karena kehilangan apa yang Satria sebut dengan ‘simple life’.

Kunikmati suara tawa mereka. Suara yang kurindukan, suara yang pernah kulupakan. Tak terasa bibirku tertarik ke atas. Kini aku mengingatnya. Perasaan bahagia yang telah lama menjauhiku karena tak memiliki kunci ‘simple life’.
“Stop…” Satria menghentikan cangkir mainan dengan kedua tangannya. “Nah anak-anak, kalian pasti sudah dijemput orang tua kalian. Ayo, tur..”
“Hwahahahaha….” Tawaku tiba-tiba meledak.
“Aira?”

Aku tak menghiraukan panggilan Satria. Aku terus menikmati perasaan ini. Tujuh belas tahun tanpa tertawa adalah hal terburuk yang tak ‘kan pernah ingin kau kunjungi. Percayalah..
“Pak Gulu, tantenya kenapa? Kok ketawa kayak gitu?” tanya Sari, si Rambut Pendek.
Sekilas kulihat Satria ikut terkikik. “Ibu Guru ketawa karena lihat kalian ketawa tadi. Apalagi kalian ini murid Pak Guru yang imut-imut,” ucapnya. “Oh ya, mulai sekarang, panggil tante ini Ibu Guru ya..”
Tawaku berhenti seketika. Agak kaget dengan perkataan Satria. Ibu Guru? Aku? Mana bisa begitu? Kurang dari 1 jam yang lalu aku diusir dari ruang interview. Bukankah sudah pasti aku telah ditolak?
“Dadah, Bu Gulu!” teriak murid-murid Satria. “Sampai ketemu besok!” mereka melambaikan tangan ke arahku.
Aku membalasnya dengan lambaian canggung. “I..iya.. Dadah.”

Mereka beranjak dari tempat kami, menuju ke gerbang utama yang dibentuk menyerupai pohon mangga. Kusuguhkan seulas senyum ketika Sari berbalik dan kembali melambaikan tangannya kepada kami.
“Simple life is a child,” suara Satria kembali mengagetkanku.
“Apa?”
Dia tersenyum. “Jika di umur setua ini kau belum menemukan apa arti simple life, maka lihatlah mereka,” Satria menunjuk ke arah gerbang yang penuh dengan murid-muridnya. “Karena sesungguhnya, mereka adalah simple life.”

Aku tertegun. Satria benar. Apa yang kucari selama ini adalah kebahagiaan anak-anak, kebebasan anak-anak, dan kehidupan sederhana tanpa beban pikiran.
“Aira, kau masih berminat untuk menjadi pengajar disini, kan?”
Aku mengangguk pasti. Ini keputusanku. “Ya.”

Satria mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Dia masih sama seperti Satria Kecil yang mngulurkan tangannya saat aku akan turun dari cangkir mainan. “Ayo turun, Aira. Kamu sudah bebas.”

***

0 komentar:

Posting Komentar