CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 23 Desember 2011

Kacamata; Tentang Jogja

Seperti yang dikatakan oleh orang pernah berkunjung ke Jogja.. Jogja itu punya sesuatu yang khas yang nggak bisa bisa disamakan dengan kawasan lainnya. Dan cuma bisa dirasakan ketika kita ada disana. Entah itu suasananya, atau orang-orang yang tinggal disana, cara hangout ala anak muda Jogja, dan yang pasti, tentang kentalnya adat.

Berkunjung ke Jogja, rasanya seperti ada di rumah sendiri. Suasananya itu lho.. ramah, asyik, dan serasa serba sederhana. Sama persis seperti yang aku rasain waktu liburan bareng Dewi, Tiwi, dan Fani di tahun 2010. Lepas dari kawalan ortu dan liburan yang kita setting sendiri, adalah momen yang nggak akan pernah aku lupain. That’s the first time I felt a freedom.

Lepas dari kawalan ortu bukan berarti aku lepas tanggung jawab. Malah, lepas dari kawalan ortu adalah titik awalku buat mengambil kebijakan-kebijakan dariku, olehku, dan untukku. Semuanya kembali pada diri masing-masing...

Back to Jogja..
Tiket kereta, kita urus sendiri. Tiwi pesan tiket lewat kantor pos. Sudah dapat tiket, tinggal mikir tempat tinggal. Dan viola! Bude dan Om Bowo, saudaranya Tiwi yang ada di Klaten, bersedia menampung kami ^^ dan tak lupa saudaranya Dewi yang ada di Jogja, juga sanggup menerima kunjungan kami di malam terakhir.

Dewi, aku, Fani, Tiwi pose di Prambanan
Liburan di Jogja serasa ada di tempat yang sangat luas dengan semua spot menarik yang selalu membuat penasaran, atau ketagihan. Candi Prambanan, Taman Sari, Benteng Vredeburg, Mallioboro, Museum Jogja Kembali, Taman Pintar, Alun-alun, dan spot terpenting yaitu Kraton Jogja.


Benteng Vredeburg
Ada cerita yang bisa aku bagi soal mitos di Alun-alun Kraton Jogja. Dimana disana ada dua pohon beringin yang berdiri tegak di tengah Alun-alun. “Barang siapa yang berjalan dengan mata tertutup menuju antara dua pohon beringin itu, maka dia tidak bisa berjalan lurus.” –anonim-

Kami berempat sudah membuktikan mitos itu. Dan nyatanya memang kami semua malah berjalan ke arah salah satu pohon beringin itu. Tiwi, Dewi, Fani, jalan ke arah pohon beringin yang sebelah kiri, dan aku jalan ke arah pohon beringin yang kanan. Well, hal ini bisa jadi bukti, atau bisa jadi sanggahan bagi orang yang nggak percaya pada mitos dan menganggap mitos itu adalah sugesti.

Jogja bukan hanya tempat berlibur, tetapi juga tempat menimba ilmu. Pada bulan juni  kemarin, selama satu bulan penuh aku ada di Jogja. Proses bimbingan buat masuk STAN bareng Tiwi dan Vani. Belajar selama 1 bulan, cukup buat aku hafal tentang beberapa hal tentang jalanan Jogja. Terutama soal Trans Jogja jalur 2A.

Trans Jogja
Halte Trans Jogja
Trans Jogja adalah transportasi umum yang mirip Bus Way di Jakarta. Tarifnya bener-bener murah. Rp. 3000,- bisa muter-muter Jogja dengan oper ke Trans Jogja jalur lainnya, asalkan nggak keluar dari halte Trans Jogja. Ada beberapa jalur Trans Jogja, dan yang paling sering aku naiki selama di bulan Juni itu, jalur 2A. Rute dari Trans Jogja jalur 2A kalau dari tempat kosku, A. M. Sangaji, Stasiun Tugu, Mallioboro, Taman Pintar, Dinas Perhutani, Stadion.... apa ya? Lupa. Yang jelas stadion itu deket sama Universitas Ahmad Dahlan, tempat kuliahnya Tiwi sekarang.

Hal-hal baru aku temui  di Jogja waktu itu. Tentunya selain teman baru, ada juga hubungan yang aneh antara teman sekotaku dengan seorang pegawai dari bimbel STAN yang penampilannya sangat ‘seram’. Aku juga belajar bagaimana cara menjadi serigala berbulu domba dengan maksud yang baik. Kalo Tiwi bilang sih, “Ternyata kamu licik ya?”. Tapi kelicikanku ini berguna untuk menjadi penengah antara tukang gosip, serigala berbulu domba yang lain. Dan yang paling aku sayangkan, ada ketemu dengan orang jogja yang bukan hanya punya sifat serugala berbulu domba, tapi juga tukang pengadu.

Sayang sekali, di bulan Juni kemarin, banyak hal yang kurang enak selama di Jogja. Rasanya, adaaa aja masalah. Mungkin kejadian ini bisa disamakan dengan quote “Semakin lama kau mengenal  dan memahami seseorang, semakin banyak pula yang akan kau ketahui tentangnya.”

Aku, Bude, Tiwi, yang moto Om Bowo
Pada dasarnya, aku dan Tiwi cinta damai. Maka dari itu, kami biasa nyepi ke Klaten. Ketemu sama Bude dan Om Bowo. Beberapa spot di Klaten yang paling aku suka, yaitu langit Klaten waktu malam. Langit penuh bintang. Ada juga warung apung. Bedanya warung apung di Klaten dan yang ada di Gresik, warung apung di Klaten bener-bener ngapung. Bahkan kalo mau ke warungnya, kita harus naik semacam getek. Asyik bener!

Dengan segala hal yang pernah terjadi di Jogja, baik itu seneng maupun yang bikin dongkol, buat aku semakin pingin balik ke Jogja. Bener-bener kangen...
Semoga bisa kembali ke Jogja..
Amin.. ^^
Kamar Asrama

Yariboo

0 komentar:

Posting Komentar